ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA PADA Ny. A DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKLETAL: ASAM
URAT
DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS
PULO BRAYAN MEDAN
TAHUN 2016
PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA MEDAN
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan
kasih-Nya, kami dapat menyelesaikan kegiatan pratik di Puskesmas PB II Selayang
dan laporan tentang Asuhan Keperawatan Keluarga di Puskesmas PB II Selayang terselesaikan
dengan baik.
Laporan
kegiatan praktik di Puskesmas PB II Selayang meliputi Asuhan Keperawatan
Keluarga pada Keluarga Ny.K dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal : Asam Urat .
Dalam penyusunan laporan ini kami banyak mendapat arahan, bimbingan dari
berbagai pihak, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr.
Ivan Elisabeth Purba, M.Kes selaku Ketua Universitas Sari Mutiara Indonesia
2. Ns.Jano
Sinaga,S.Kep, M.Kep, Sp.KMB selaku dekan sekaligus ketua program studi Ners
Universitas Sari Mutiara Medan
3. Dr.Nuraisyah selaku Kepala Puskesmas PB II Selayang dan seluruh staf pegawai Pukesmas PB II Selayang yang telah membimbing kami selama praktik di Puskesmas PB
II Selayang.
4. Cut Anizar, S.Kep, M.Kes
selaku CI yang telah membimbing dan memberi arahan serta masukan dalam
penyusunan asuhan keperawatan keluarga
5. Ns.
Normi Sipayung M.Kep Selaku Kordinator Profesi Ners Universitas Sari Mutiara
Medan
6. Ns.
Eva Kartika Hasibuan, S.Kep Selaku Kordinator Keperawatan Keluarga.
7. Ns.
Masri Saragih, S. Kep selaku dosen pembimbing k yang telah membimbing dan
memberi arahan serta masukan dalam penyusunan asuhan keperawatan keluarga.
Medan, Maret 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Asam
urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan tingginya kadar purin didalam
darah, kondisi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak orang yang dinyatakan
menderita penyakit tersebut. Penyakit asam urat cenderung diderita pada usia
yang semakin muda. Penderita paling banyak pada golongan usia 30-50 tahun yang
tergolong usia produktif (Krisnatuti & Rina, 2006). Kadar normal asam urat
untuk wanita adalah 2,4-5,7 mg/dl dan 3,4-7 mg/dl untuk pria (
Krisnatuti,2008).
Alexander (2010) menyatakan prevalensi
asam urat (gout) di Amerika serikat meningkat dua kali lipat dalam
populasi lebih dari 75 tahun antara 1990 dan 1999, dari 21 per 1000 menjadi 41
per 1000. Dalam studi kedua, prevalensi asam urat pada populasi orang dewasa
Inggris diperkirakan 1,4%, dengan puncak lebih dari 7% pada pria berusia 75
tahun.
Data yang diperoleh dari Rumah Sakit
Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta, penderita penyakit gout dari tahun
ke tahun semakin meningkat dan terjadi kecenderungan diderita pada usia yang
semakin muda. Hal ini tebukti dengan hasil rekam medik RSCM pada tahun
1993-1995 mengalami kenaikan yaitu pada tahun 1993 tercatat 18 kasus, pria 13
kasus dan wanita 5 kasus (1 kasus umur 2-25 tahun, 12 kasus umur 30-50 tahu,
dan 5 kasus umur >65 tahun). Pada tahun 1995 jumlah kasus yang tercatat
adalah 46 kasus, 37 pria dan 9 wanita, 2 kasus umur 2-25tahun, 40 kasus umur 30-50 tahun dan 4 kasus umur > 65 tahun (
Krisnatuti, 1997).
Prevalensi penderita asam
urat tertinggi di Indonesia berada pada penduduk di daerah pantai dan yang
paling tinggi di daerah Manado – Minaha sebesar
29,2 % pada tahun 2003 dikarenakan kebiasaan atau
pola makan ikan dan mengonsumsi alkohol. Alkohol dapat menyebabkan pembuangan
asam urat lewat urine berkurang sehingga asam uratnya tetap bertahan di dalam
darah (Anonim, 2009).
Penyakit asam urat ditandai
oleh gangguan linu-linu, terutama di daerah persendian tulang. Tidak jarang
timbul rasa amat nyeri bagi penderitanya. Rasa sakit tersebut diakibatkan
adanya radang pada persendian. Radang sendi tersebut ternyata disebabkan oleh
penumpukan kristal di daerah persendian. Tingginya kadar asam urat dalam darah
juga dapat menyebabkan Gout artritis yang merupakan salah satu jenis
rematik. Di Indonesia, gout artritis menduduki urutan kedua terbanyak
dari penyakit Osteoartritis. Hasil penelitian sebagian besar penderita gout
arthritis mengalami hiperurisemia, yaitu sebesar 65% (Alifiasari, 2011).
Dampak selanjutnya jika penyakit ini tidak
diatasi secara tepat dikhawatirkan dapat menurunkan produktifitas kerja. Salah
satu cara mengatasinya, yaitu dengan pengaturan diet. Menu diet diatur agar
lebih banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan nukleotida purin rendah.
Dengan melakukan program diet yang baik, dapat membantu meringankan gangguan
penyakit gout (Krisnatuti & Rina, 2006).
Hasil penelitian dalam studi yang berkembang
di Asia menyimpulkan bahwa kejadian peningkatan kadar asam urat dipengaruhi
akibat gaya hidup dan diet yang dibawa oleh kemakmuran yang meningkat
(Alexander, 2010).
Asupan diet vegetarian seimbang dengan
protein hewani dan konten purin disertai asupan cairan yang cukup dengan
buah-buahan dan sayuran setelah diteliti dapat mengurangi risiko terserang asam
urat dibandingkan dengan orang yang memakan segala jenis makanan (Roswitha,
2003).
Pada prinsipnya, mencegah selalu lebih
baik daripada mengobati. Untuk menjaga agar kadar asam urat darah tetap dalam
batas normal, disarankan konsumsi makanan dan minuman yang tidak banyak
mengandung purin. Tetapi jika sudah
terlanjur mengalami penyakit ini,langkah terpenting adalah semaksimal mungkin
mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan zat purin. Karena minum
obat saja tanpa disertai kepatuhan diet tidak akan membuahkan hasil pengobatan
yang baik karena produksi asam urat tetap tinggi (Suarthana, 1998).
Banyak hal yang dapat mempengaruhi
kepatuhan seseorang terhadap diet, diantaranya umur seseorang, jenis kelamin,
kepribadian, kondisi kesehatan, pengalaman terhadap kesehatan, lingkungan dan
pelayanan yang diterima dari fasilitas kesehatan. Lingkungan sangat berperan
dalam kepatuhan klien menjalankan diet, jika lingkungan mendukung penderita
asam urat akan patuh terhadap diet nya. Seseorang yang menginginkan dirinya
dalam kondisi sehat mempunyai keinginan selalu patuh terhadap anjuran petugas
pelayanan kesehatan (Suharto, 2000).
Berdasarkan data di Puskesmas PB II
Selayang Medan pada Tahun 2013 didapat 55 pasien menderita asam urat dari 199
orang atau 27,6 %. Sedangkan pada bulan Januari sampai dengan bulan
Desember pada Tahun 2014 didapat 50 dari
160 pasien menderita asam urat atau 45
%. Ketika dilakukan wawancara kepada 10 orang yang menderita asam urat, 6 orang
diantaranya tidak tahu tentang asam urat dan menganggap penyakit asam urat
adalah penyakit biasa dan tidak berbahaya. Sehingga penulis tertarik untuk menjadikan keluarga Ny. K dengan masalah Asam Urat menjadi keluarga binaan.
.
A. Tujuan
Penulisan
1.
Tujuan Umum
Penulis
ingin mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga
dengan salah satu anggota keluarga yang menderita asam urat dengan menggunakan
proses keperawatan, bagi keluarga dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara
kesehatan keluarga sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya.
2.
Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melaksanakan asuhan
keperawatan keluarga dengan salah satu anggota keluarga yang menderita asam
urat, mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam perawatan
kesehatan.
b. Meningkatkan kemampuan keluarga
dalam mengenal masalah kesehatan yang dialami salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit asam urat.
c. Meningkatkan kemampuan keluarga
dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota
keluarganya yang menderita asam urat.
d. Meningkatkan kemampuan keluarga
dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarganya yang menderita
asam urat.
e. Dapat memodifikasi lingkungan yang
dapat mendukung peningkatan kesehatan.
f. Dapat memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang tersedia untuk meningkatkan kesehatan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Keluarga
1.
Pengertian
Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal ditempat dibawah suatu atap dalam kesadaran saling ketergantungan
(Departemen Kesehatan RI, 1988).
Keluarga adalah dua atau lebih dari
dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan
kebudayaan (Saluicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989).
2.
Struktur Keluarga
a. Patrilineal : adalah keluarga
sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana
hubungan itu disusun.
b. Matrilineal : adalah keluarga
sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam berbagai generasi, dimana
hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal : adalah sepasang
suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal : adalah sepasang
suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan : adalah
hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak
saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.
3.
Tipe/Bentuk Keluarga
a. Keluarga inti (nuclear family)
Adalah
keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar (extended family)
Adalah
keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya, nenek, kakek, keponakan,
saudara, sepupu, paman, bibi dsb.
c. Keluarga berantai (seriel family)
Adalah
keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali
dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/janda (single
family)
Adalah
keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (composite)
Adalah
keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (cohabitation)
Adalah
dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
4.
Peranan Keluarga
a. Peranan ayah
Ayah
sebagai suami dari istri dan anak-anak berperanan sebagai pencari nafkah,
pendidikan, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga. Sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dan
lingkungannya.
b. Peranan ibu
Sebagai
istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah
tangga sebagai pengaruh dan pendidik anak-anaknya pelindung dan sebagai salah
satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya.Disamping itu juga ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah
tambahan dalam keluarganya.
c. Peranan anak
Anak-anak
melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik
fisik, mental, sosial dan spiritual.
5.
Fungsi keluarga
a. Fungsi biologis
1)
Untuk
meneruskan keturunan
2)
Memelihara
dan membesarkan anak
3)
Memenuhi
kebutuhan gizi keluarga
4)
Memelihara
dan merawat anggota keluarga
b. Fungsi psikologis
1)
Memberikan
kasih sayang dan rasa aman
2)
Memerikan
perhatian diantara anggota keluarga
3)
Membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4)
Memberikan
identitas keluarga
c. Fungsi sosialisasi
1)
Membina
sosialisasi pada anak
2)
Membentuk
norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
3)
Meneruskan
nilai-nilai budaya keluarga
d. Fungsi ekonomi
1)
Mencari
sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2)
Pengaturan
penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
3)
Menabung
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang misalnya
pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.
e. Fungsi pendidikan
1)
Menyekolahkan
anak untuk memberikan pengetahuan keterampilan dan membentuk perilaku anak
sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2)
Mempersiapkan
anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai
orang dewasa.
3)
Mendidik
anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
6.
Fungsi pokok keluarga terhadap
anggota keluarga
a. Asih
Adalah
memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepala anggota
sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya
b. Asuh
Adalah
menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesalahannya selalu
terpelihara, sehingga diharapkan menjadi mereka anak-anak yang sehat, baik
fisik, sosial, mental dan spiritual.
c. Asah
Adalah
memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang
mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
B. ASAM
URAT
1.
Pengertian Asam Urat
Gout adalah penyakit metebolik yang
ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat
sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian
tengah. (Merkie, Carrie. 2005).
Gout merupakan penyakit metabolic
yang ditandai oleh penumpukan asam
urat yang menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005;407).
Jadi, Gout atau sering disebut asam urat adalah suatu penyakit metabolik dimana
tubuh tidak dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam
urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi.
2.
Klasifikasi
Asam Urat
Gout terbagi atas 2 yaitu :
a.
Gout
primer, dimana menyerang laki-laki usia degenerative, dimanameningkatnya
produksi asam urat akibat pecahan purin yang disintesis dalam jumlah yang
berlebihan didalam hati. Merupakan akibat langsung dari pembentukan asam
urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekresi asam urat yaitu
hiperurisemia karena gangguan metabolisme purin atau gangguan ekresi asam urat
urin karena sebab genetik. Salah satu sebabnya karena kelainan genetik yang
dapat diidentifikasi, adanya kekurangan enzim HGPRT (hypoxantin guanine
phosphoribosyle tranferase) atau kenaikan aktifitas enzim PRPP (phosphoribosyle
pyrophosphate ), kasus ini yang dapat diidentifikasi hanya 1 % saja
b.
Gout
sekunder, terjadi pada penyakit yang mengalami kelebihan pemecahan purin
menyebabkan meningkatnya sintesis asam urat. Contohnya pada pasien leukemia
Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekresi asam urat
yang berkurang akibar proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
merupakan hasil berbagai penyakit yang penyebabnya jelas diketahui akan
menyebabkan hiperurisemia karena produksi yang berlebihan atau penurunan
ekskresi asam urat di urin
3.
Etiologi Asam Urat
Penyebab utama terjadinya gout
adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam urat dalam sendi.
Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam
urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi
asam urat yang kurang dari ginjal.
Beberapa factor lain yang mendukung,
seperti :
a.
Faktor
genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkanasam urat berlebihan
(hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
b.Penyebab sekunder yaitu akibat
obesitas, diabetes mellitus, hipertensi,gangguan ginjal yang akan menyebabkan :
c.
Pemecahan
asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.
d.
Karena
penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asamurat seperti : aspirin,
diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat,aseta zolamid dan etambutol.
e.
Pembentukan asam urat yang berlebih
f.
Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
g.Gout sekunder metabolik disebabkan
pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain, seperti leukimia.
h.Kurang asam
urat melalui ginjal
i.
Gout
primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distalginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui. Gout
sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal,misalnya glumeronefritis
kronik atau gagal ginjal kronik.
4.
Patofisiologi
Asam Urat
Peningkatan kadar asam urat serum
dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan eksresi asam urat,
ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin. Secara
normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut:
Sintesis purin melibatkan dua jalur,
yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
a. Jalur de novo melibatkan sintesis purin
dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah
ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida
purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan
oleh serangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang
mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan
amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi
umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah
pembentukan yang berlebihan.
b. Jalur penghematan adalah jalur
pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam
nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti
pada jalur de novo. Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi
dengan PRPP untuk membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi
ini dikatalisis oleh dua enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase
(HGPRT) dan adenin fosforibosiltransferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan
difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal
ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di
nefron distal dan dikeluarkan melalui urin.
5.
Tanda Dan Gejala Asam Urat
Manisfestasi sindrom gout
mencakup artiritis gout yang akut (serangan rekuren inflamasi artikuler dan
periartikuler yang berat), tofus (endapan kristal yang menumpuk dalam jaringan
aritukuler,jaringan oseus,jaringan lunak,serta kartilago),nefropati gout
(gangguan ginjal) dan pembentukan assam urat dalam traktus urunarus. Ada empat
stadium penyakit gout yang di kenali :
1. Hiperutisemia
asimtomatik
2. Artiritis
gout yang kronis
3. Gout
interkritikal
4. Gout
tofaseus yang kronik
Gout akut biasanya terjadi pada pria
sesudah lewat masa pubertas dan sesudah menopause pada wanita, sedangkan kasus
yang paling banyak diternui pada usia 50-60. Gout lebih banyak dijumpai pada
pria, sekitar 95 persen penderita gout adalah pria. Urat serum wanita normal
jumahnya sekitar 1 mg per 100 mI, lebih sedikit jika dibandingkn dengan pria.
Tetapi sesudah menopause perubahan tersebut kurang nyata. Pada
priahiperurisemia biasanya tidak timbul sebelurn mereka mencapai usia remaja.
Gout Akut biasanya monoartikular dan
timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit
yang hebat dan peradangan lokal. Pasien mungkin juga menderita demam dan jumlah
sel darah putihmeningkat. Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan
pembedahan, trauma lokal, obat, alkohol dan stres emosional. Meskipun yang
paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki, tetapi sendi lainnya
dapat juga terserang. Dengan semakin lanjutnya penyakit maka sendi jari, lutut,
pergelangan tangan, pergelangan kaki dan siku dapat terserang gout. Serangan
gout akut biasanya dapat sembuh sendiri. Kebanyakan gejala-gejala serangan Akut
akan berkurang setelah 10-14 hari walaupun tanpa pengobatan
Perkembangan serangan Akut gout
biasanya merupakan kelanjutan dari suatu rangkaian kejadian. Pertama-tama
biasanya terdapat supersaturasi urat dalam plasma dan cairan tubuh. Ini diikuti
dengan pengendapan kristal-kristal urat di luar cairan tubuh dan endapan dalarn
dan seldtar sendi. Tetapi serangan gout sering merupakan kelanjutan trauma
lokal atau ruptura tofi (endapan natrium urat) yang merupakan penyebab
peningkatan konsentrasi asam urat yang cepat. Tubuh mungkin tidak dapat
menanggulangi peningkatan ini dengan memadai, sehingga mempercepat proses pengeluaran
asam urat dari serum.
Kristalisasi dan endapan asam urat
merangsang serangan gout. Kristal-kristal asam urat ini merangsang respon
fagositosis oleh leukosit dan waktu leukosit memakan kristal-kristal urat
tersebut maka respon mekanisme peradangan lain terangsang. Respon peradangan
mungkin dipengaruhi oleh letak dan besar endapan kristal asam urat. Reaksi
peradangan mungkin merupakan proses yang berkembang dan memperbesar diri
sendiri akibat endapan tambahan kristal-kristal dari serum.
Periode antara serangan gout akut
dikenal dengan nama gout inter kritikal. Pada masa ini pasien bebas dari
gejala-gejala klinik. Gout kronik timbul dalarn jangka waktu beberapa
tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku dan pegal. Akibat adanya
kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik, sendi yang bengkak akibat
gout kronik sering besar dan berbentuk nodular. Serangan gout Aut
dapat terjadi secara simultan diserta gejala-gejala gout kronik. Tofi timbul
pada gout kronik karena urat tersebut relatif tidak larut. Awitan dan ukuran
tofi sebanding dengan kadar urat serum. Yang sering terjadi tempat pembentukan
tofi adalah: bursa olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor dari lengan
bawah, bursa infrapatella dan helix telinga
Tofi-tofi ini mungkin sulit
dibedakan secara klinis dari rheumatoid nodul. Kadang-kadang tofi dapat
membentuk tukak dan kemudian mengering dan dapat membatasi pergerakan sendi.
Penyakit ginjal dapat terjadi akibat hiperurisemia kronik, tetapi dapat dicegah
apabila gout ditangani secara memadai.
6.
Pemeriksaan Penunjang Asam Urat
1.
Pemeriksaan
Laboratorium
a.
Didapatkan
kadar asam urat yang tinggi dalam darah yaitu = > 6 mg % normalnya pada pria
8 mg% dan pada wanita 7 mg%.
b.
Pemeriksaan
cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan diagnosa yaitu cairan berwarna
putih seperti susu dan sangat kental sekali.
c.
Pemeriksaan
darah lengkap
d.
Pemeriksaan
ureua dan kratinin
1)
kadar
ureua darah normal : 5-20 ,mg/dl
2)
kadar
kratinin darah normal :0,5-1 mg/dl
2. Pemeriksaaan fisik
a.
Inspeksi
1)
Deformitas
2)
Eritema
b.
Palpasi
1)
Pembengkakan
karena cairan / peradanagn
2)
Perubahan
suhu kulit
3)
Perubahan
anatomi tulang/ jaringan kulit
4)
Nyeri
tekan
5)
Krepitus
6)
Perubahan
range of motion
7.
Diagnosis
Asam Urat
Untuk mendiagnosis artritis gout
digunakan kriteria American Rheumatism Association (ARA), yaitu:
1. terdapat kristal monosodium urat
di dalam cairan sendi
2. terdapat kristal monosodium urat
di dalam tofi,
3. Atau didapatkan 6 dari 12
kriteria berikut ini :
a.
Inflamasi
maksimum pada hari pertama
b.
Serangan
artritis akut lebih dari 1 kali
c.
Artritis
monoartikular
d.
Sendi
yang terkena bewarna kemerahan
e.
Pembengkakan
dan sakit pada sendi metatarsalfalangeal 1
f.
Serangan
pada sendi tarsal unilateral
g.
Adanya
tofus
h.
Hiperurisemia
i.
Pada
gambaran radiologik, tampak pembengkakan sendi asimetris
j.
Pada
gambaran radiologik, tampak krista subkortikal tanpa erosi
k.
Kultur
bakteri cairan sendi negatif
8.
Pengobatan Asam Urat
Penatalaksanaan ditujukan untuk
mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah serangan berulang dan
pencegahan komplikasi.
a. Medikasi
1) Pengobatan serangan akut dengan
Colchine 0,6 mg PO, Colchine 1,0 – 3,0 mg ( dalam Nacl/IV), phenilbutazon,
Indomethacin.
2) Terapi farmakologi ( analgetik dan
antipiretik )
3) Colchines ( oral/iv) tiap 8 jam
sekali untuk mencegah fagositosis dari Kristal asam urat oleh netrofil sampai
nyeri berkurang.
4) Nostreoid, obat – obatan anti inflamasi ( NSAID ) untuk nyeri dan
inflamasi.
5) Allopurinol untuk menekan atau
mengontrol tingkat asam urat dan untuk mencegah serangan.
6) Uricosuric untuk meningkatkan
eksresi asam urat dan menghambat akumulasi asam urat.
7) Terapi pencegahan dengan
meningkatkan eksresi asam urat menggunakan probenezid 0,5 g/hrai atau
sulfinpyrazone ( Anturane ) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau
menurunkan pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2x/hari.
b. Perawatan
1) Anjurkan pembatasan asupan purin :
Hindari makanan yang mengandung purin yaitu jeroan ( jantung, hati, lidah,
ginjal, usus ), sarden, kerang, ikan herring, kacang – kacangan, bayam, udang,
dan daun melinjo.
2) Anjurkan asupan kalori sesuai
kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh
berdasarkan pada tinggi dan berat badan.
3) Anjurkan asupa tinggi karbohidrat
kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik di konsumsi oleh
penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat
melalui urin.
4) Anjurkan asupan rendah protein,
rendah lemak.
5) Anjurkan pasien untuk banyak minum.
6) Hindari penggunaan alkohol.
9.
Pencegahan Asam Urat
a. Pembatasan purin : Hindari makanan
yang mengandung purin yaitu :Jeroan (jantung, hati, lidah
ginjal, usus), Sarden, Kerang, Ikan
herring,Kacang-kacangan, Bayam, Udang, Daun melinjo.
b. Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah
asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada
tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat
badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah
konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bias meningkatkan kadar
asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi
pengeluaran asam urat melalui urine.
c. Tinggi karbohidrat : Karbohidrat
kompleks seperti nasi, singkong, rotidan ubi sangat baik dikonsumsi oleh
penderita gangguan asam uratkarena akan meningkatkan pengeluaran asam urat
melalui urine.
d. Rendah protein : Protein terutama
yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber
makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya
hati,ginjal, otak, paru dan limpa.
e. Rendah lemak : Lemak dapat
menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan,
serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya
sebanyak 15 persendari total kalori.
f. Tinggi cairan : Selain dari minuman,
cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak
air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas,
belimbing manis,dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang
lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit
mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan
durian, karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
g. Tanpa alkohol : Berdasarkan
penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi alkohol
lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah
karena alcohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.
10. Komplikasi
Asam Urat
Asam urat dapat menyebabkan hipertensi
dan penyakit ginjal. Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal berupa batu
ginjal, gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi
sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat meningkat
pada suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana urin yang asam,
kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk batu.
Gout dapat merusak ginjal sehingga
pembuangan asam urat akan bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya
sebagai hasil dari penghancuran yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi
tumor. Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat pengendapan asam urat pada
duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Penumpukan
jangka panjang dari kristal pada ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal
kronik.
C.
Askep
Keluarga Dengan Asam Urat
1.
Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah
awal pelaksanaan asuhan keperawatan, agar diperoleh data pengkajian yang akurat
dan sesuai dengan keadaan keluarga. Data yang diperoleh dari pengkajian :
a.
Berkaitan dengan keluarga
1)
Data demografi dan sosiokultural
2)
Data lingkungan
3)
Struktur dan fungsi keluarga
4)
Stress dan koping keluarga yang digunakan keluarga
5)
Perkembangan keluarga
b. Berkaitan
dengan individu sebagai anggota keluarga
1) Fisik
2) Mental
3) Emosi
4) Sosio
5) spiritual
Adapun tujuan pengkajian menurut Suprijno
(2004) yang berkaitan dengan tugas keluarga dibidang kesehatan, yaitu :
a.
Mengetahui
kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Hal ini perlu dikaji
adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari masalah kesehatan, meliputi
pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan faktor yang mempengaruhi
serta persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan terutama yang dialami
anggota keluarga.
b.
Mengetahui kemamupuan keluarga dalam
mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, perlu dikaji
tentang :
1) Kemampuan
keluarga memahami sifat dan luasnya masalah
2) Apakah
masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga ?
3) Apakah
keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami ?
4) Apakah
keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan yang dialami
anggota keluarga ?
5) Apakah
keluarga mempunyai sikap yang tidak mendukung (negative) terhadap upaya
kesehatan yang dapat dilakukan pada anggota keluarga ?
6) Apakh
keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan ?
7) Apakah
keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga kesehatan?
8) Apakah
keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat untuk
melakukan tindakan dalam rangka mengatasi masalah kesehatan ?
c.
Untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan keluarga merawat anggota
keluarga yang sakit, perlu dikaji
tentang :
1) Pengetahuan
keluarga tentang penyakit yang dialami anggota keluarga (sifat, penyebaran,
komplikasi, kemungkinan setelah tindakan dan cara perawatannya)
2) Pemahaman
keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan anggota keluarga
3) Pengetahuan
keluarga tentang peralatan, cara dan fasilitas untuk merawat anggota keluarga
yang mempunyai masalah kesehatan
4) Pengetahuan
keluarga tentang sumber yang dimiliki keluarga (anggota keluarga yang mampu dan
dapat bertanggung jawab, sumber keuangan/financial, fasilitas fisik, dukungan
psikososial)
5) Bagaimana
sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit atau membutuhkan bantuan
kesehatan
d.
Untuk mengetahui kemampuan keluarga memelihara
memodifikasi lingkungan rumah yang sehat, perlu dikaji tentang :
1) Pengetahuan
keluarga tentang sumber yang dimiliki oleh keluarga disekitar lingkungan rumah
2) Kemampuan
keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan
3) Pengetahuan
keluarga dan sikap keluarga terhadap sanitasi lingkungan yang higenis sesuai
syarat kesehatan
4) Pengetahuan
keluarga tetang upaya pencegahan penyakit yang dapat dilakukan oleh keluarga
5) Kebersamaan
anggota keluaga untuk meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang
menunjang kesehatan keluarga
e.
Untuk mengetahui kemampuan keluarga
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat, perlu dikaji tentang :
1) Pengetahuan
keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
2) Pemahaman
keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan
3) Tingkat
kepercayaan keluarga terhadap fasilitas dan petugas kesehatan melayani
4) Apakah
keluarga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan tentang fasilitas dan petugas
kesehatan yang melayani?
5) Apakah
keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan dan bila tidak dapat apakah
penyebabnya ?
2. Diagnosa Keperawatan
Dari
pengkajian asuhan keperawatan keluarga di atas maka diagnosa keperawatan
keluarga yang mungkin muncul pada kasus asam urat adalah:
a. Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat.
b. Ketidakmampuan
keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat
berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah asam urat.
c. Ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
d. Ketidakmampuan
keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi
penyakit asam urat berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang
pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat.
e. Ketidakmampuan
keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat
berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau
petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera
datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
Menentukan
Diagnosa Keperawatan :
Sebelum
menentukan diagnosa keperawatan tentu harus menyusun prioritas masalah dengan
menggunakan proses skoring seperti pada tabel 2.1 berikut : Proses skoring
menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Balion dan Maglaya, 1978.
|
No
|
Kriteria
|
Nilai
|
Bobot
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sifat masalah :
a. Tidak/kurang
sehat
b. Ancaman
kesehatan
c. Krisis
Kemungkinan masalah dapat diubah
a. Dengan
mudah
b. Hanya
sebagian
c. Tidak
dapat
Potensi masalah untuk diubah
a. Tinggi
b. Cukup
c. Rendah
Menonjolnya masalah
a. Masalah
berat harus ditangani
b. Masalah
yang tidak perlu segera ditangani
c. Masalah
tidak dirasakan
|
3
2
1
2
1
0
3
2
1
2
1
0
|
1
2
1
1
|
Skoring
1) Tentukan
jumlah skor untuk setiap kriteria
2) Skor
dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot
3) Jumlahkan
skor untuk semua kriteria
4) Skor
tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot
3. Perencanaan (intervensi Keperawatan)
Perencanaan
yang dapat dilakukan pada Asuhan Keperawatan keluarga dengan asam urat ini
adalah sebagai berikut (Mubarak, 2012) :
a. Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat.
Sasaran
: Setelah tindakan keperawatan
keluarga dapat mengenal dan mengerti
tentang penyakit asam urat.
Tujuan
: Keluarga
mengenal masalah penyakit asam urat setelah dua kali kunjungan rumah
Kriteria : Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit asam urat
Standar
: Keluarga
dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala penyakit asam urat,
serta pencegahan dan pengobatan penyakit asam urat secara lisan.
Intervensi
:
1)
Jelaskan arti penyakit asam urat
2)
Diskusikan tanda-tanda dan penyebab
penyakit asam urat
3)
Tanyakan kembali apa yang telah
didiskusikan
b. Ketidakmampuan
keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat
berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah asam urat.
Sasaran
: Setelah
tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui akibat lebih lanjut dari
penyakit asam urat
Tujuan
: Keluarga
dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan asam urat setelah
tiga kali kunjungan rumah
Krteria : Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan dan dapat mengambil tindakan yang tepat dalam
merawat anggota keluarga yang sakit
Standar
: Keluarga
dapat menjelaskan dengan benar bagaimana akibat asam urat dan dapat mengambil
keputusan yang tepat
Intervensi :
1)
Diskusikan tentang penyakit asam urat
2)
Tanyakan bagaimana keputusan keluarga
untuk merawat anggota keluarga yang menderita asam urat
c.
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga
tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
Sasaran : Setelah tindakan keperawatan keluarga
mampu merawat anggota keluarga yang
menderita asam urat
Tujuan
: Keluarga
dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita
asam urat setelah tiga kali kunjungan rumah
Kriteria : Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan dan perawatan penyakit asam urat
Standar : Keluarga
dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang menderita asam urat
Intervensi :
1)
Jelaskan pada keluarga cara-cara
pencegahan penyakit asam urat
2)
Jelaskan pada keluarga tentang manfaat
ventilasi rumah yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang menderita asam
urat
d. Ketidakmampuan
keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi
penyakit asam urat berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang
pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat
Sasaran
: setelah
tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang pengaruh lingkungan terhadap
penyakit asam urat
Tujuan : Keluarga
dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan pencegahan
setelah tiga kali kunjungan rumah
Kriteria : Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan tentang pengaruh lingkungan terhadap proses
penyakit asam urat
Standar : Keluarga
dapat memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat
Intervensi :
1)
Ajarkan cara memodifikasi lingkungan
untuk mencegah dan mengatasi penyakit asam urat misalnya :
a)
Jaga kebersihan lingkungan rumah agar
bebas dari resiko tertular kepada orang lain
b)
Gunakan alat pencegah tertular kepada
oranglain misalnya masker
c)
Motivasi keluarga untuk melakukan apa
yang telah dijelaskan
e. Ketidakmampuan
keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat
berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau
petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera
datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
Sasaran
: setelah
tindakan keperawatan keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
sesuai kebutuhan
Tujuan : Keluarga
dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan yang tepat untuk mengatasi
penyakit asam urat setelah dua kali kunjungan rumah
Kriteria : Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan ke mana mereka harus meminta pertolongan untuk
perawatan dan pengobatan penyakit asam urat
Standar : Keluarga
dapat menggunakan fasilitas pelayanan secara tepat
Intervensi :
Jelaskan
kepada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan dan
pengobatan asam urat
4.
Pelaksanaan
Rencana Keperawatan/Implementasi
Menurut
Mubarak (2012), tahapan dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk
membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup
sehat.
Implementasi
yang dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat, yaitu :
a. Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit
asam urat
1) Menjelaskan
arti penyakit asam urat
2)
Mendiskusikan tanda-tanda dan penyebab
penyakit asam urat
3)
Menanyakan kembali apa yang telah didiskusikan
b. Ketidakmampuan
keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan
dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah asam
urat
1) Mendiskusikan
tentang penyakit asam urat
2) Menanyakan
bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang menderita asam
urat
c. Ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
1)
Menjelaskan pada keluarga cara-cara
pencegahan penyakit asam urat
2)
Menjelaskan pada keluarga tentang
manfaat ventilasi rumah yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang
menderita asam urat
d. Ketidakmampuan
keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi
penyakit asam urat berhubungan dengan
kurangnya pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor
pencetus asam urat
1)
Mengajarkan cara memodifikasi lingkungan
untuk mencegah dan mengatasi penyakit asam urat misalnya :
a)
Menjaga kebersihan lingkungan rumah agar
bebas dari resiko tertular kepada orang lain.
b)
Menggunakan alat pencegah tertular
kepada oranglain misalnya masker
c)
Motivasi keluarga untuk melakukan apa
yang telah dijelaskan
e. Ketidakmampuan
keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna perawatan dan pengobatan asam urat berhubungan
dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau petugas
kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera datang
ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
1)
Menjelaskan kepada keluarga ke mana
mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan asam urat.
5.
Melaksanakan
Evaluasi
Sesuai
dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian dilakukan untuk melihat
keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil maka perlu disusun rencana baru yang
sesuai (Mubarak, 2012).
Evaluasi
yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat adalah :
a. Keluarga
dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit asam urat
b. Keluarga
dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan asam urat Keluarga
dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita asam
urat
c. Keluarga
dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan pencegahan
d. Keluarga
dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan untuk mengatasi penyakit asam
urat.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA PADA Ny. A DENGAN
ASAM
URAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PULO
BRAYAN KECAMATAN MEDAN-BARAT TAHUN 2016
A. Identitas Umum Keluarga
1.
Identitas Kepala Keluarga
Nama : Hamdan (Tn. H)
Pendidikan : SMA
Umur : 56 tahun
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam
Alamat : Jln. Lingkungan
IV
Suku : Melayu
No Telp :085273130016
2.
Komposisi keluarga
|
No
|
Nama
|
L/P
|
Umur
|
Hub.klrga
|
Pekerjaan
|
Pendidikan
|
Status Kesehatan
|
|
1
|
Tn H
|
L
|
56
|
Suami
|
PNS
|
SMA
|
Asam Urat
|
|
2
|
Ny A
|
P
|
51
|
Istri
|
IRT
|
SMA
|
Asam Urat
|
|
3
|
An C
|
P
|
22
|
Anak
|
Mahasiswa
|
Sarjana
|
Sehat
|
|
4
|
An.D
|
P
|
17
|
Anak
|
Pelajar
|
SMA
|
Sehat
|
|
5
|
An.F
|
L
|
15
|
Anak
|
Pelajar
|
SMA
|
Sehat
|
|
6
|
An.R
|
P
|
13
|
Anak
|
Pelajar
|
SMP
|
Sehat
|
|
7
|
An.Al
|
P
|
9
|
Anak
|
Pelajar
|
SD
|
Sehat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Genogram Keluarga
Keterangan :
: Laki-laki meninggal :
Anak Laki-laki :
Tinggal Serumah
: Perempuan Meninggal :
Anak Perempuan
: Ayah :
Saudara Laki-laki
: Istri :
Saudara Perempuan
4.
Type keluarga
a.
Jenis
tipe keluarga: tradisional nuclear:
keluarga inti, terdiri ayah,ibu dan 1 orang anak laki laki dan 4 orang perempuan
yang tinggal satu rumah.
b. Masalah
yang terjadi dengan tipe tersebut: tidak
ada
5.
Suku bangsa
a. Suku
bangsa : Melayu-Minang
b. Budaya
yang berhubungan dengan kesehatan : Makanan yang tinggi lemak
6.
Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi
kesehatan: agama islam, jika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga
berdoa pada Tuhan yang Maha Kuasa untuk
mendapat kesembuhan dan Ny.
A mengatakan penyakitnya adalah
kehendak yang diatas dan Ny. A pasrah dan berserah kepada Tuhan untuk kesembuhannya.
a. Anggota
keluarga yang mencari nafkah : Suami Ny.A (Tn. H)
b. Penghasilan
: Rp. 5.000.000
c. Upaya
lain : Tidak ada.
d.
Harta
benda yang dimiliki (perabot, transportasi,dll) : 1 buah sepeda, 1 buah televisi, 1 buah magic com, 1 buah dispenser dan 1 buah Kulkas.
e. Kebutuhan
yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan pokok (Rp. 75.000/Hari) listrik,air (Rp. 100.000/Bulan) dan biaya anak bersekolah (Rp. 50.000/
Hari). Total Biaya yang dikeluarkan setiap bulannya Rp. 3.850.000.
7.
Aktivitas rekreasi keluarga: Keluarga berekreasi 1 kali sebulan pas
hari libur aja, karena sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Keluarga hanya berkunjung di rumah kerabat terdekat dan
menghabiskan waktu di rumah untuk membaca koran dan menonton televisi.
B. PENGKAJIAN LINGKUNGAN
1.
Karateristik rumah : Tipe rumah semi permanen dengan luas rumah 8x20 m terdiri
dari 3 kamar tidur,1 ruang tamu, 1 kamar mandi, dapur dan memiliki teras. Bentuk rumah persegi panjang dengan lantai rumah semen,
keadaan rumah terang, lantai
bersih, ventilasi ada, penataan ruangan baik, wc menggunakan leher angsa dan
septic tank berjarak lebih dari 5 m. Sumber air untuk mandi,
mencuci adalah air sumur, dan megkonsumsi air isi ulang sebagai air minum.
B
Teras
Kamar
Tidur
Ruang Tamu
Kamar Tidur
|
U S
T
2.
Karakteristik
tetangga dan komunikasi RW: Keluarga Ny.
A hidup di lingkungan kota dan
lingkungan yang ramai dengan jarak rumah berdekatan dengan tetangga. Intraksi
dengan lingkungan tempat tinggal Ny. A dilakukan pada siang, sore dan malam hari sangat baik.
3.
Mobilitas geografis keluarga: Keluarga Ny.
A sudah lama menempati rumah tersebut dan tempat tinggalnya tidak berdekatan
dengan saudara lainnya.
4.
Perkumpulan keluarga dan interaksi
dengan masyarakat: Keluarga Ny. A sering mengikuti
kegiatan perkumpulan di masyarakat. Ny.A mengikuti acara perwiritan di lingkungan tempat
tinggalnya.
5.
System pendukung keluarga: keluarga Ny.
A terdiri dari 1 orang anak laki laki, dan 4 orang anak perempuan dan Ny. A
memiliki kartu pengobatan |ASKES
yang biasanya digunakan saat berobat, Ny.
A. Sering
mengalami nyeri dan sulit berjalan jika terasa sakit di bagian persendian
kakinya dan pernah di periksakan Ny.A ada penyakit Asam urat. Namun
Ny.A tidak dapat menjaga pola makannya karena kebiasaan di keluarga Ny.A
mengkonsumsi makanan tinggi purin seperti ( Rempelo, Hati dan daging sapi).
Namun Ny. A jarang memeriksakan asam
uratnya karena tidak tahu tentang penyakit asam urat dan menganggap penyakit
asam urat sebagai penyakit yang biasa.
C. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola/
cara komunikasi keluarga: Berfungsi : saling jujur, terbuka, dalam menghadapi suatu permasalahan, tidak melibatkan emosi,
konflik selesai.
2. Struktur
kekuatan keluarga: Legitimate power (hak), masing-masing anggota keluarga
memiliki hak dan kewajiban serta pengaruh masing-masing dalam mengontrol dan
mempengaruhi perilaku seseorang.
3. Struktur
peran (peran masing-masing anggota keluarga): Ny. A selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai yang selalu menjadi
orang yang merawat bagi keluarga yang
kurang sehat.
4. Nilai
dan norma keluarga: Nilai yang
terkandung dalam keluarga ini adalah setiap anggota keluarga bersosialisasi
dengan lingkungan (masyarakat) dan setiap
anggota keluarga mematuhi data dan istiadat sesuai dengan budaya melayu
dan jawa.
D. FUNGSI KELUARGA
1.
Fungsi efektif : keluarga Ny. A saling
mendukung satu sama lain serta saling menghargai.
2.
Fungsi sosialisasi :
a.
Kerukunan hidup dalam keluarga : hidup rukun, dalam keluarga diajarkan kerukunan antar anggota keluarga dan setiap
masalah dibicarakan dengan baik dan biasanya dimusyawarahkan.
b.
Interaksi dan hubungan dalam keluarga : baik, dimana antar keluarga saling membantu dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan jarang adanya pertengkaran diantara mereka.
c.
Anggota keluarga yang dominan dalam
pengambilan keputusan : Dalam
pengambilan keputusan biasanya dilakukan
dengan musyawarah namun Tn. H yang mengambil keputusan terakhir selaku kepala keluarga.
d.
Kegiatan keluarga waktu senggang : nonton
TV.
e.
Partisipasi dalam kegiatan sosial : Keluarga Ny. A beragama Islam sehingga Ny. A
sering mengikuti acara perwiritan di lingkungan tempat
tinggalnya.
3.
Fungsi perawatan kesehatan: Kurang,
karena keluarga tidak mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga,
terutama masalah kesehatan anggota keluarga yang sakit. Dimana Ny.A mengalami asam urat namun Jarang memeriksakan
diri dan berobat ke pelayanan kesehatan
untuk mengobati asam uratnya.
a. Mengenal
Masalah Kesehatan
Ny.
A mengatakan bahwa dia menderita asam urat sehingga Ny. A tidak pernah mengobati asam urat yang
dialaminya. Saat dilakukan pengkajian Ny. A mengatakan kebas kebas pada tangan,
kaki dan sendi sendinya, sakit terutama jika
cuaca dingin, berdasarkan keluhan
yang dialami Ny. A sehingga Perawat I memeriksa kadar asam urat pada Ny.A dan
hasilnya 9,6 mg/dl.
b. Mengambil
Keputusan Yang Tepat
Keluarga mampu
mengambil keputusan dengan tepat dimana keluarga membawa Ny. A ke Dokter
terdekat untuk mengobati keluhannya yang dialami Ny, A namun Ny.A tidak dapat mengontrol pola makan dan menjaga
makananan yang dapat meningkatkan asam urat yang dialami.
c. Merawat
anggota keluarga yang sakit
Dalam hal ini, keluarga
nampak kurang mampu merawat anggota keluarga yang sakit. Pada saat pengkajian, Ny. A menyatakan bahwa
dirinya tidak tahu menahu mengenai penyakitnya begitu pula dengan keluarga
yang lain.
d.
Memodifikasi lingkungan
Keluarga mampu
memodifikasi lingkungan, terlihat penempatan barang barang tertata dengan rapi.
e. Memanfaatkan
sarana kesehatan.
Keluarga Ny. A kurang memanfaatkan sarana kesehatan
dengan baik. Jika Ny. A sakit, keluarga jarang memanfaatkan sarana kesehatan yang ada seperti
Puskesmas.
4.
Fungsi reproduksi
a. Perencanaan
jumlah anak : tidak ada
b. Akseptor
: tidak
c. Aksetor
: tidak
d. Keterangan
lain : keluarga sudah tidak termasuk pasangan usia subur
5.
Fungsi ekonomi
a.
Upaya pemenuhan sandang pangan : Tn.H bekerja
untuk memenuhi ekonomi keluarga dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga
dimasa yang akan datang.
b.
Pemanfaatan sumber di masyarakat : kurang
memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat di lingkungan karena keluarga
menganggap jika sakit sudah parah baru ke pelayanan kesehatan.
E. STRES DAN KOPING KELUARGA
1.
Stressor jangka pendek: Keluarga sedikit
pusing memikirkan Ny. A karena sering sakit, dan mengeluh kebas, kesemutan dan nyeri.
2.
Stressor jangka panjang : Ny.A cemas
dengan keadaannya saat ini dan takut tidak
dapat sembuh dari prnyakit yang diderita
karena Ny. A.
3.
Respon keluarga terhadap stressor : Tn.
H berpikiran positif terhadap suatu masalah dan selalu memberi dukungan positif
terhadap Ny.A.
4.
Strategi koping: Berdoa dan selalu
berpikiran positif dengan suatu masalah dan selalu berserah pada sang pencipta.
5.
Strategi adaptasi disfungsional: Ny. A
tidak mengetahui penyakit yang sedang dideritanya, dan tidak mengetahui cara pencegahannya.
F.
KEADAAN
GIZI KELUARGA
1.
Pemenuhan gizi: pemenuhan baik. Keluarga
Ny.A dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
2.
Upaya lain : tidak ada
G. HARAPAN KELUARGA
1.
Terhadap masalah keuntungannya:
Berharap anggota keluarga yang sakit cepat sembuh
dan tetap semangat.
2.
Terhadap petugas kesehatan yang ada:
Berharap untuk
memperhatikan keadaan pasien dan memberikan pelayanan yang baik dengan
berkunjung kerumah-rumah penduduk.
H. PEMERIKSAAN FISIK
|
No
|
VARIABEL
|
NAMA ANGGOTA KELUARGA
|
|
|
Tn.H
|
Ny.
A
|
An.C
|
An.D
|
An.F
|
An.R
|
An.A
|
|
|
1
|
Riwayat penyakit saat ini
|
Tn.
H saat ini mengalami penyakit asam urat.
|
Ny.
A saat ini mengalami penyakit asam urat.
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
|
2
|
Keluhan yang dirasakan saat
ini
|
.Kaki
sering kebas dan nyeri pada saat melakukan aktivitas
|
Tangan
kebas kebas, kesemutan dan nyeri di daerah sendi sendi
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
|
3
|
Tanda dan gejala
|
Nyeri dan
kesemutan
|
Nyeri dan
kesemutan.
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
|
4
|
Riwayat penyakit sebelumnya
|
Tidak ada
|
Ny.A mengatakan bahwa dia konsumsi
makanan yang tinggi purin seperti daun ubi, jeroan dan daging. Ny.A
tidak pernah mengontrol dengan baik
dengan cara berobat ke PUSKESMAS sehingga penulis mengangkat masalah
kesehatan yang paling penting dalam keluarga Ny.A adalah masalah asam urat.
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
|
5
|
Tanda-tanda vital
|
TD: 110/80 mmHg
HR: 90x/i
RR: 22x/i
|
TD: 120/90 mmhg
HR: 90x/i
RR: 22x/
|
TD : 110/80 mmHg
HR:
87x/i
RR:
20x/i
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
6
|
Sistem cardio
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
Simetris dan bunyi jantung
“lup dup”, irama reguler
|
|
7
|
Sistem respirasi
|
Thorax nampak simetris kiri
kanan, suara paru paru vesikuler
|
Thorax nampak simetris kiri
kanan, suara paru vesikuler.
|
Thorax nampak simetris kiri
kanan, suara paru vesikuler.
|
Thorax nampak simetris kiri
kanan, suara paru vesikuler.
|
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru
vesikuler.
|
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru
vesikuler.
|
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru
vesikuler.
|
|
8
|
Sistem GI tract
|
Abdomen simetris kiri kanan,
tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan,
tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan,
tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan,
tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
|
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
|
|
9
|
Sistem persyaratan
|
Tida
ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
|
10
|
Sistem muskuloskletal
|
Sering kesemutan,
nyeri di sendi sendi dan sakit saat digerakkan. Dilakukan pemeriksaan asam
urat diperoleh nilai asam urat pada Ny. A adalah 8,3dl/mg.
|
Sering kesemutan,
nyeri di sendi sendi dan sakit saat digerakkan. Dilakukan pemeriksaan asam
urat diperoleh nilai asam urat pada Ny. A adalah 9,7dl/mg.
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
Tidak ada kelainan
|
|
11
|
Sistem genetalia
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
I.
TIPOLOGI MASALAH KESEHATAN
|
No
|
DAFTAR MASALAH KESEHATAN
|
|
1
|
ANCAMAN
|
|
|
Resiko terjadinya
deformitas pada sendi
|
|
2
|
KURANG/TIDAK
SEHAT
|
|
|
Kurang pengetahuan tentang masalah
kesehatan yang dialami
|
|
3
|
DIFISIT
|
|
|
Ketidakefektifan merawat anggota keluarga yang sakit
|
J.
PENGKAJIAN KHUSUS
BERDASARKAN 5 TUGAS KELUARGA
|
No
|
KRITERIA
|
PENGKAJIAN
|
|
1
|
Mengenal masalah
|
a.
Ny.A dan Keluarga tahu kalau Ny.A
mengalami asam urat Kronis, namun tidak begitu tahu tentang penyakit asam
urat baik tanda dan gejala serta pencegahan asam urat. Ny.A sering mandi
malam dan menyuci karena merasa gerah. Ny.A mengetahui dirinya mengalami asam
urat setelah dilakukan pemeriksaan asam urat oleh perawat I. dilakukan
pemeriksaan karena Ny.A mengeluh sering kebas-kebas, kesemutan dan nyeri di
sendi sendi kaki dan tangan. Ny. A tidak memeriksakan ke PUSKESMAS karena menanggap
kebas dan kesemutan yang dialaminya hanya penyakit biasa dan pasti terjadi
pada orang orang yang lanjut usia. Ny.A banyak bertanya tentang penyakit yang
dialaminya.
|
|
2
|
Mengambil keputusan yang tepat
|
Jika terjadi masalah kesehatan pada
Keluarga Ny.A maka yang
mengambil keputusan adalah Tn. H selaku kepala keluarga. Jika ada anggota keluarga yang sakit maka keluarga Tn.H akan berembuk untuk mengambil keputusan akhir. Jika ada keluarga sakit, masing masing
anggota keluarga akan mengambil keputusan untuk
dirawat atau tidak. Keluarga yang sakit hanya dirawat dirumah saja. Ny.A mengatakan setelah mengetahui dirinya mengalami asam urat dan
penyebab asam urat saat ini. Ny.A dan keluarga akan berobat ke tempat pelayanan
kesehatan yang terdekat yaitu puskesmas Pulo Brayan.
|
|
3
|
Merawat anggota keluarga yang sakit
|
Ny.A dan keluarga tidak tahu bagaimana cara merawat pasien
yang menderita asam urat. Keluarga hanya mengatakan melarang Ny.A
mengkonsumsi makanan sepertikacang-kacangan saja. Namun keluarga tidak tahu
bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A dan Keluarga tidak
tahu bahwa makanan seperti daun ubi dapat meningkatkan kadar asam urat.
Keluarga tidak tahu bahwa air putih dapat menurunkan kadar asam urat.
|
|
4
|
Memodifikasi lingkungan
|
Upaya yang
dilakukan keluarga untuk meningkatkan lingkungan yang sehat adalah dengan
menyapu lantai rumah, menempatkan perabotan rumah tangga dengan disusun dan
tertata dengan rapi, halaman rumah ditanami bunga bunga dalam pot yang
membuat suasana rumah menjadi asri dan indah. Ny A juga memenuhi gizi
seimbang untuk kesehatan eperti mengkonsumsi buah buahan.
|
|
5
|
Memanfaatkan sarana kesehatan
|
Ny. A mengeluh kalau sendi
sendinya terasa nyeri, kebas dan sering kesemutan. Sulit berdiri bahkan sulit
tidak bisa berjalan, jika posisi dalam keadaan duduk. bulan yang lalu.
Keluhan keluhan tersebut meningkat jika cuaca sedang dingin dan hujan. Gejala
gejala tersebut sudah dialami Ny. A sejak 6 bulan yang lalu dan pernah
memeriksakan kadar asam uratnya ke tempat pelayanan kesehatan (apotek) namun
tidak rutin dan menganggapnya biasa saja. Setelah mengetahui bahwa dirinya
mengalami asam urat, Ny.A mengatakan akan berobat dan rajin mengecek asam
uratnya ke pelayanan kesehatan yang ada.
|
K.
Daftar Masalah
|
No
|
Data
|
Problem
|
Etiologi
|
|
1
|
Data Subjektif :
b.
Ny.A dan Keluarga tidak tahu kalau
Ny.A mengalami asam urat.
c.
Ny.A dan Keluarga tidak tahu
tentang penyakit asam urat baik tanda dan gejala serta pencegahan asam urat.
d.
Ny.A sering mandi malam dan menyuci karena merasa gerah.
e.
Ny.A mengetahui dirinya mengalami asam urat setelah
dilakukan pemeriksaan asam urat oleh perawat I..
f.
Ny. A tidak memeriksakan ke PUSKESMAS karena menanggap
kebas dan kesemutan yang dialaminya hanya penyakit biasa dan pasti terjadi
pada orang orang yang lanjut usia.
g. Ny. A banyak
bertanya tentang penyakit yang dialaminya saat dilakukan pengkajian.
Data
Objektif :
a. TD: 120/90 mmhg
HR: 90x/i
RR: 22x/i
T : 37 C
BB : 63 kg
b.
Kadar asam urat: 9,7 dl/mg.
c.
Dilakukan pemeriksaan karena Ny.A mengeluh sering
kebas-kebas, kesemutan dan nyeri di sendi sendi kaki.
d.
Keluarga
tidak mengetahui asupan gizi yang benar pada pasien yang mengalami
asam urat.
|
Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh
|
Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan yang ada
|
|
2
|
Data Subjektif :
a. Ny.A dan keluarga
tidak tahu bagaimana cara merawat pasien yang menderita asam urat.
b. Keluarga hanya
mengatakan melarang Ny.A mengkonsumsi makanan seperti jeroan.
c. Keluarga tidak
tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A.
d. Ny.A sering
mengkonsumsi makanan yang mengandung zat purin seperti daun ubi.
e. Keluarga tidak
tahu dengan minum air putih dapat menurunkan kadar aam urat.
Data Objektif :
a.
Kadar asam urat Ny.A : 9,7 dl/mg.
b.
Keluarga tidak tahu cara mencegah peningkatan kadar asam
urat.
c. Ny. A mengeluh
kalau sendi sendinya terasa nyeri, kebas dan sering kesemutan sudah hampir 6
bulan dan tidak memeriksakan penyakit yang dialami Ny.A
|
Risiko terjadinya deformitas sendi
pada Ny.A.
|
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarga yang sakit.
|
L. SKALA PRIORITAS MASALAH
1.
Diagnosa I
Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
|
No
|
Kriteria
|
Hitungan
|
Skor
|
Pembenaran
|
|
1.
|
Sifat Masalah: ancaman kesehatan
|
2/3 X 1
|
2/3
|
Ny.A dan Keluarga tidak tahu kalau Ny.A mengalami asam urat,
tidak tahu tentang penyakit asam urat baik tanda dan gejala serta pencegahan
asam urat.
|
|
2.
|
Kemungkinan masalah dapat diubah
|
1x 2
|
2
|
Ny.A banyak
bertanya tentang penyakit yang dialaminya saat dilakukan pengkajian.
|
|
3.
|
Potensial masalah untuk dicegah: cukup
|
2/3 x 1
|
2/3
|
Keluarga punya kemampuan
intelektual bila diberikan penyuluhan tentang penyakit asam urat .
|
|
4.
|
Menonjolnya masalah: masalah berat harus segera ditangani
|
2/2 x 1
|
1
|
Keluarga mengatakan setelah mengetahui Ny.A megalami asam urat maka
keluarga akan membawa Ny.A ke pelayanan kesehatan terdekat.
|
|
|
Jumlah
|
|
4 1/3
|
|
2.
Diagnosa II
Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
|
No
|
Kriteria
|
Hitungan
|
Skor
|
Pembenaran
|
|
1.
|
Sifat Masalah : Ancaman
|
2/3 X 1
|
2/3
|
Ny.A dan keluarga tidak tahu bagaimana cara merawat pasien
yang menderita asam urat. Keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa
kesemutan yang dialami Ny.A
|
|
2.
|
Kemungkinan masalah dapat diubah: hanya
sebagian
|
1/2 X 2
|
1
|
Keluarga hanya mengatakan melarang Ny.A mengkonsumsi
makanan seperti jeroan.
|
|
3.
|
Potensial masalah untuk dicegah: cukup
|
2/3 X 1
|
2/3
|
Keluarga terlihat terbuka dan dapat
menerima informasi yang ada
|
|
4.
|
Menonjolnya masalah: masalah
harus segera ditangani
|
2/2 X 1
|
1
|
Keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan
yang dialami Ny.A.
|
|
|
Jumlah
|
|
3 1/3
|
|
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam
pembahasan ini akan dibahas beberapa kesenjangan yang tejadi dalam penerapan
asuhan keparawatan dalam keluarga Ny.A dengan landasan teoritis keperawatan ini
dilakukan selama 3 minggu dari 31 Oktober s/d 18 September 2016. Pembahasan
tentang asuhan keperawatan ini dimulai dari pengkajian, perumusan masalah,
perencanaan dan evaluasi yang tegantung satu sama lain disusun secara
sistematis untuk menggambarkan dari satu tahap ke tahap yang lain.
A.
Pengkajian
Proses pengkajian
merupakan tahap awal yang dilakukan kelompok untuk memberikan asuhan
keperawatan kepada keluarga. Proses pengkajian tidak hanya dilakukan pada
anggota keluarga yang sakit saja, akan tetapi dilakukan pada seluruh anggota
keluarga serta pengamatan pada lingkungan rumah.
Dalam memberikan
asauhan keperawatan pada keluarga, perawat melakukan sendiri dan terjun ke
lapangan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga. Oleh karena itu
pada tahap pengkajian, penulis melakukan pencarian kasus yang akan diberikan
asuhan keperawatan keluarga, tidak ada kendala yang dihadapi saat pencarian
alamat, karena keluarga tersebut merupakan keluarga yang harus mendapat binaan
dan memenuhi kriteria yaitu keluarga yang menderita penyakit asam urat, tidak
mengetahui bahwa keluarga mengalami asam urat, dan kurang mampu merawat anggota
keluarga yang mengalami penyakit asam urat.
Pada saat dirumah penulis
memperkenalkan diri pada anggota keluarga lainnya dan menjelaskan maksud dan
tujuan kunjungan serta ingin membantu mengatasi masalah-masalah kesehatan
keluarga. Untuk memulai suatu proses asuhan keperawatan harus dimulai dengan
menciptakan hubungan saling percaya antara keluarga dan perawat.
Setelah penulis menjelaskan
maksud dan tujuan, anggota keluarga dapat bekerjasama dengan baik. Kemudian
penulis melakukan pengumpulan data, yang
dilakukan melalui wawancara, pengamatan (observasi), studi komunikasi dan
pemeriksaan fisik atau pengumpulan data yang dilakukan pada Ny.A, serta
observasi langsung terhadap rumah dan lingkungan sekitar. Pada kasus ini,
kelompok mengumpulkan data dengan wawancara dengan Ny.A dan keluarga, serta melakukan pemeriksaan
fisik dan melakukan pengukuran kadar asam urat pada Ny.A, semua anggota
keluarga berkumpul untuk itu pemeriksaan fisik pun dilakukan.
Dalam pengumpulan data
ini, penulis tidak mendapatkan kesulitan
yang banyak dan studi yang dilakukan berjalan dengan lancar dikarenakan respon
keluarga cukup baik dan dapat diajak kerja sama.
B.
Perumusan
masalah
Setelah data terkumpul,
maka selanjutnya dapat dilakukan analisa data untuk merumuskan masalah
kesehatan dan keperawatan keluarga. Perumusan masalah ini diambil berdasarkan
penganalisaan praktik lapangan yang didasarkan analisa konsep keputusan diambil
tentang masalah kesehatan dan keperawatan keluarga. Setelah menganalisa data,
maka dilakukan perumusan masalah kesehatan keluarga yang didasarkan pada 3
kriteria yaitu: sifat masalah, kemungkinan masalah dapat diubah, potensial
masalah untuk dicegah dan masalah yang menonjol yang akhirnya dapat diperoleh
tipologi masalah kesehatan :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat
purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah kesehatan yang ada
2. Risiko
terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit
C.
Perencanaan
Setelah dilakukan
perumusan diagnosa
keperawatan keluarga, tahap berikutnya membuat rencana asauhan keperawatan
keluarga. Dalam menentukan perencanaan harus ditentukan bersama keluarga dan
rencana dapat diterima oleh keluarga serta rencana yang kita buat harus
berkualitas. Dalam pembuatan perencanaan keperawatan tidak mengalami hambatan.
1. Diagnosa
pertama, Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat
purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah kesehatan yang ada
Intervensi:
a. Kaji
sejauh mana pengetahuan keluarga tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam
keluarga.
b. Jelaskan
kepada keluarga tentang pengertian dan kadar normal asam urat dalam tubuh.
c. Jelasakan
pada keluarga bahwa tanda dan gejala jika seseorang mengalami asam urat.
d. Jelaskan
pada keluarga tentang pencegahan asam urat agar kadar asam urat dalam darah
normal.
e. Jelaskan pada keluarga diet yang baik pada
Ny.A yang mengalami asam urat.
f. Jelaskan
pada keluarga komplikasi yang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami asam
urat.
g. Jelaskan
pada keluarga terapi tradisional yang dapat menurunkan kadar asam urat dalam
darah.
2. Diagnosa
kedua, Risiko terjadinya deformitas
sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
Intervensi:
a. Jelaskan
tentang diet yang baik untuk penderita asam urat.
b. Jelaskan
cara mencegah terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam tubuh.
c. Jelaskan
kepada keluarga agar tidak menganjurkan Ny.A tidak mandi atau menyuci pada
malam hari.
d. Berikan
penjelasan kepada keluara cara mencegah asam urat dengan minum air putih 8-12
gelas perhari.
e. Berikan
penjelasan kepada keluarga cara menurunkan asam urat dengan minum jus sirsak
2-5 gelas/hari
f. Menjelaskan
kepada keluarga cara latihan ROM untuk memperlancar aliran darah dan mencegah
terjadinya deformitas.
g. Mengajarkan
kepada keluarga untuk mengkonsumsi obat asam urat dari pelayanan kesehatan.
h.
Menganjurkan kepada keluarga untuk
sering mengecek kadar asam urat secara rutin ke tempat pelayanan kesehatan.
D.
Implementasi
Dalam pelaksanaan
tindakan, banyak hal yang menjadi hambatan bagi keluaraga seperti sumber daya
keluarga, misalnya keuangan dan pendidikan keluarga yang rendah sehingga pemberian
informasi tentang penyakit asam urat diberikan secara bertahap. Semua rencana
yang ditetapkan bersama keluarga ataupun tidak dapat dilakukan dengan baik dan
lancar, semua rencana tindakan dapat dilakukan dengan baik
E. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu upaya
bersama penulis dan keluarga. Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifitasnya
intervensi-intervensi yang dilakukan oleh keluarga dan perawat. Keefektifannya
ditentukan dengan melihat respon
keluarga dan hasil. Dalam tinjauan kasus ini, kelompok melakukan evaluasi
dengan keluarga.
Pada kedua masalah ini, evaluasi
yang cenderung sebagian teratasi, hal ini terjadi karena respon keluarga yang
baik dan raa ingin tahu ya g baik tentang penyakit yang dialami, dan masukan
dari pelayanan kesehatan juga diharapkan supaya follow up dari puskesmas terus
dilakukan dengan keluarga.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1. Berdasarkan
obsevasi dan data kunjungan yang
didapat, masalah kesehatan keluarga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulo Brayan adalah masalah Asam
urat.
2. Dari
masalah kesehatan yang ada maka di dapat masalah kesehatan yang diprioritaskan
sebagai berikut.
a. Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat
purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah kesehatan yang ada
b. Risiko
terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit
3. Tindakan
keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul
adalah penyuluhan tentang penyakit asam urat dan demonstrasi rebusan daun dan
jus sirsak, cek kadar asam urat, dan mengukur tekanan darah.
B. Saran
1. Perlu
pembinaan yang berkelanjutan terhadap kegiatan-kegiatan dan hasil yang telah
dicapai sehingga derajat kesahatan dan harapan hidup sehat keluarga diwilayah
kerja Puskesmas Pulo Brayan dapat meningkat.
2. Diharapkan
pada Puskesmas Pulo Brayan agar dapat meningkatkan kegiatan untuk keluarga
seperti penyuluhan tentang masalah kesehatan terutama penyakit asam urat.
3. Diharapkan
pada keluarga agar lebih peduli terhadap kesehatan untuk meningkatkan derajat
kesehatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, J,
Lynda, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 2, Jakarta : Balai
Penerbit FKUI
Effendy Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.,
Jakarta : EGC.
Friedman., M. Marilyn. 1998. Keperawatan Keluarga Teori & Praktek.
Alih Bahasa Ina Debora R.L, Jakarta : EGC.
Hidayat Alimul Azis.A. 2004. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Meilianingsih Lia,
Mkep. 2006. Aplikasi Keperawatan Komunitas pada Kelompok Lansia
dengan Hipertensi di Keluraha Kemiri Muka Kecematan Beiji Kota Depok. (Karya Tulis Ilmiah Tidak di Publikasikan), Jakarta : Universitas
Indonesia
Murwani Arita. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Mitra cendikia.
Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan konsep dan Praktik. Jakarta: Salemba Medika
Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2000, Penuntun Diit, Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama.
Price, A Sylvia & M. Wilson, Lorraine, 2000, Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit, alih bahasa Peter Anugerah, Jakarta :
EGC.
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Smeltzer, Suzanne C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner
dan Suddarth jilid 3, alih bahasa Agung Waluyo,dkk. Jakarta :
EGC.
Suprajitno, 2004, Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam
Praktek, Jakarta : EGC
Supriyadi, S.Kp, M.Kep. Sp.Kom. 2007. Keperawatan Keluarga. (tidak dipublikasikan).
Bandung: Poltekkes
Tartowo dan Wartonah. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Watson Roger. 2003. Perawatan pada Lanjut Usia. Jakarta:EGC