KATA
PENGANTAR
Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
asuhan keperawatan pada pasien dengan harga diri rendah di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera
Utara untuk memenuhi salah satu syarat praktek dan mata kuliah keperawatan jiwa
dalam menyelesaikan Profesi Ners. Adapun proposal yang telah disepakati dan
telah disusun oleh penulis dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.A DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI RSJ. Prof. DR. M.
ILDREM MEDAN”.
Dalam penyusunan laporan ini banyak
pihak yang membantu penulis, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada
Bapak/Ibu :
1.
Ns. Rinco Siregar,S.Kep, MNS, selaku
Ketua Program Studi Ners Fakultas Keperwatan dan Kebidanan Universitas Sari
Mutiara Indonesia
2.
dr. Chandra S, Sp.OG selaku Direktur RSJ
DR. M. ILDERM yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melaksanakan
praktek jiwa di RSJ DR. M. ILDERM
3.
Duma Farida Panjaitan, S.Pd, S.Kep,
Ners, selaku Kepala Bidang Keperawatan RSJ DR. M. ILDERM yang telah mengizinkan
penulis untuk melaksanakan praktek lapangan keperawatan jiwa.
4.
Lince Herawati S.Pd, S. Kep, Ners, selaku
Kepala Bidang Diklat di RSJ DR. M. ILDERM yang telah telah mengijinkan penulis
untuk melaksanan praktek lapangan keperawatan jiwa.
5.
Jack Amidos Pardede, M.Kep, Sp.Kep.J, selaku
Koordinator Praktek Belajar Lapangan sekaligus sebagai pembimbing lapangan di RSJ
DR. M. ILDERM yang telah mengarahkan penulis dalam penyelesaian proposal ini.
6.
Safaruddin, S.Kep, Ns. selaku Kepala
Seksi Struktural di RSJ DR. M. ILDERM sekaligus sebagai pembimbing lapangan
yang telah mengarahkan penulis dalam penyelesaian proposal ini.
7.
Perdi Lubis, S. Kep, Ners selaku Kepala
Ruangan Sinabung beserta staf jajarannya RSJ DR. M. ILDERM
8.
Delfi Purba,S.Kep Ns. selaku Kepala
Ruangan Bukit Barisan beserta staf jajarannya di RSJ DR. M. ILDERM
9.
Staf Pegawai Rumah RSJ DR. M. ILDERM.
10. Staf
Pengajar dan Pegawai Universitas Sari Mutiara Indonesia.
11. Orang
tua kami yang selalu memberikan dukungan, materi dan doa untuk menyelesaikan
tugas makalah ini .
12. Teman-teman
Mahasiswa/i Universitas Sari Mutiara Indonesia yang telah bersama-sama
menyelesaikan tugas makalah ini.
Penulis menyadari bahwa isi laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu kami dari penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran guna memperbaiki di masa yang akan datang dan semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.
Medan, Desember 2016
Kelompok
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan
kesehatan yang menjadi pintu pelayanan
terdepan dalam hubungannya dengan masyarakat adalah di rumah sakit. Sebagai
pemberi layanan kesehatan yang kompleks, perawat senantiasa mengembangkan ilmu
dan tekhnologi di bidang keperawatan mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan serta
trend dan issue dalam pelayanan. Dengan semakin berkembangnya kehidupan dan
modernisasi di semua bidang kehidupan menimbulkan gejolak sosial yang cukup
terasa dalam kehidupan manusia. Terjadinya perang, konflik dan lilitan krisis
ekonomi dan berkepanjangan salah satu pemicu yang menyebabkan stress, depresi
dan berbagai gangguan kesehatan jiwa. Bagi mereka yang tidak mampu
mengendalikan stressor baik dari internal maupun eksternal, mereka akan
kehilangan kontrol pikirnya, salah satu contohnya menyebabkan harga diri rendah (Yosep, 2010).
Menurut
klasifikasi Diagnostic and Statisyical Manual of Mental Disorder Text
Revision (DSM IV, TR 2011,
harga diri rendah merupakan salah satu jenis gangguan jiwa kategori gangguan
kepribadian (Videbeck, 2011).
World
Health Organitation tahun 2011 menyatakan paling tidak 1 dari 4 orang
atau sekitar 450 juta orang terganggu jiwanya. Sedangkan menurut Dharmono (2013), penelitian yang dilakukan World
Health Organitation di berbagai Negara menunjukkan bahwa sebesar 20 – 30 %
pasien yang datang ke pelayanan kesehatan menunjukkan gejala gangguan jiwa. Departement
of Human Service (2014),
memperkirakan 51 juta penduduk Amerika didiagnosis mengalami gangguan jiwa
(Videbeck, 2012).
Menurut
data yang diperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad
Ildrem Medan klien skizoprenia sebanyak 16.419 jumlah rawat jalan
sebanyak 14.349 orang dan rawat inap sebanyak 2.070 orang, jumlah laki – laki
pada pasien rawat jalan 9.789 orang dan jumlah perempuan sebanyak 4.562 orang.
Data 10 penyakit terbesar tahun 2014 di antaranya. Gangguan mental organic ( f
oo – F 09 ) sebanyak 432 orang, gangguan mental dan prilaku akibat akibat
penggunaan zat psiko aktif (f 10 – f19) sebanyak 971 orang , skz, gangguan
skijotipal dan gangguan waham (f 20 –f 29) sebanyak 11.059, gangguan suasana
perasaan (afektif ) f 30 – f 39 sebanyak 1.441, gangguan neurotik , somatufram
dan gangguan yang berkaitan dengan steres
( f 40 – f 49 ) sebanyak 312, gangguan sindrom prilaku yang berhubungan dengan
gangguan fisiologis dan factor fisik (f 50 – f 59) sebanyak 20 orang , gangguan
kepribadian dan prilaku masa dewasa ( f 60 – f 69 ) sebanyak 0, gangguan
retardasi mental (f 70 – f 59) sebanyak
78 orang , gangguan perkembangan pisiko logis ( f 80 – f 89) sebanyak 8 orang,
dan gangguan perilaku dan emosional dengan onset pada masa kanak – kanak dan remaja
(f 90 –f 98) sebanyak 28 0rang.
Strategi
pelaksanaan komunikasi adalah pelaksanaan standar asuhan keperawatan terjadwal
yang diterapkan pada pasien yang bertujuan untuk mengurangi masalah keperawatan
jiwa yang ditangani (Fitria, 2012).
Strategi pelaksaan komunikasi pada pasien harga diri rendah mencakup kegiatan
yang dimulai dari mengidentifikasi hingga melatih kemampuan yang masih dimiliki
pasien sehingga semua kemampuan dapt dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki
akan meningkatkan harga diri pasien (Keliat, 2015).
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, penulis ingin memberikan Asuhan Keperawatan Jiwa
pada Ny A dengan Harga Diri Rendah
Pada di ruang Melur RSJD Provsu Medan
dengan pelayanan kesehatan secara holistik dan komunikasi terapeutik dalam
meningkatkan kesejahteraan serta mencapai
tujuan yang diharapkan.
B. Ruang Lingkup
Dalam
penulisan ini, kelompok hanya membahas pada satu kasus saja yaitu Asuhan
Keperawatan pada Ny. A dengan Harga
Diri Rendah melalui pendekatan keperawatan yang diobservasi
dari tanggal 09 Desember 2016.
C. Tujuan Penulisan
1.
Tujuan
Umum
Mampu
mengelola Asuhan Keperawatan pada klien Ny.A dengan Harga Diri Rendah di ruang Melur RSJD
Provsu Medan.
2.
Tujuan
Khusus
a.
Mampu mengkaji Ny.A dengan harga diri rendah di Rumah Sakit Jiwa daerah
Provsu Medan.
b.
Mengetahui kemampuan kognitif dan
psikomotor Klien
dalam meningkatkan harga diri sebelum dan setelah intervensi pada kelompok
kontrol di ruangan Melur Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan.
D. Metode Penulisan
Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu:
1.
Studi Kepustakaan
Dengan mempelajari buku-buku atau
sumber yang berhubungan dengan penyakit jiwa Schizophrenia Paranoid.
2.
Studi Wawancara
Mengadakan tanya jawab dengan klien
dan mengumpulkan data secara tepat dan akurat.
3.
Observasi
Penulis mengadakan pertemuan
langsung tentang keadaan klien dan perkembangan penyakitnya.
BAB
II
LANDASAN
TEORITIS
A.
Landasan Teoritis Medis
1. Definisi
Harga
diri rendah adalah penilaian uang salah
tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan
ideal diri. Pencapaian ideal diri cita-cita/harapan langsung menghasilkan
perasaan berharga. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri
maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan
diterima, dicintai, dihormati oleh orang lain, serta keberhasilan yang pernah
dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat, 2010).
Menurut
Erikson (2013
dikutip dari Potter dan Perry, 2012),
anak-anak kecil mulai mengembangkan rasa berguna dengan cara belajar untuk
bertindak berdasarkan inisiatif mereka sendiri. Contoh seorang anak yang sangat
pandai dalam pelajaran metematika akan merasa nyaman untuk untuk mengerjakan
soal-soal matematika dibandingkan dengan temannya yang lain. Hal ini dapat
meningkatkan harga diri anak tersebut.
Sebaliknya
bila seorang anak yang baru pindah ke sekolah baru dan tidak dapat menyesuaikan
diri dengan teman sekelasnya, maka harga dirinya dapat menurun sampai anak
tersebut mencapai kembali kepercayaan dirinya di dalam lingkungan yang baru. Frekuensi
pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang
tinggi. Empat cara meningkatkan harga diri:
a.
Memberi kesempatan berhasil
b.
Menanamkan gagasan
c.
Mendorong aspirasi
d.
Membantu membentuk koping
Menurut
Boyd (2013),
individu yang memiliki harga diri yang positif akan lebih percaya diri untuk
mencoba perilaku sehat yang baru dan sangat kecil kemungkinan untuk mengalami
depresi. Sedangkan gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai persaan yang
negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri dan merasa gagal
mencapai keinginan.
Pendapat
ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan yang disampaikan oleh Potter dan
Perry (2012)
bahwa seseorang dengan harga diri yang tinggi cenderung menunjukan keberhasilan
yang diraihya sesuai dengan adalah atas bantuan orang lain dan bukan karena
kemampuannya sendiri. Individu yang harga dirinya rendah akan merasa tidak berdaya, frustasi ,
depresi, dan menjadi korban. Individu yang harga dirinya rendah sangat rentan
terhadap tekanan akibat stres. Sementara itu, individu yang memiliki harga diri
yang positif akan memperlihatkan keyakinan diri dan menunjukkan antusiasme pada
suatu kegiatan dan dapat mengatasi rasa frustasi dengan baik.
Stuart
dan Laraia (2010)
menyatakan bahwa harga diri sangat terancam selama masa remaja. Pada masa ini
harga diri remaja akan mengalami banyak perubahan, karena pada masa ini banyak
keputusan yang harus dibuat remaja menyangkut dirinya sendiri. Remaja dituntut
untuk menentukan pilihan diri sendiri, posisi peran, dan memutuskan apakah
remaja mampu meraih sukses dibidang kegiatan yang dipilihnya, dan apakah remaja
dapat berpartisipasi atau diterima diberbagai aktivitas sosial. Harga diri akan
stabil pada masa dewasa dan dapat memberikan kejelasan pada gambaran diri individu dewasa. Karena pada
periode ini, individu dewasa lebih mudah untuk menerima dirinya dan lebih
idealis dibandingkan usia remaja. Individu dewasa mampu belajar untuk mengatasi
segala kelemahannya dan mempu mengoptimalkan kekuatan yang ada pada dirinya.
Pada lansia, gangguan harga diri akan muncul kembali karena adanya
perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia antara lain memasuki masa pensiun,
kehilangan pasangan, dan kelemahan fisik.
Gangguan
harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara:
1.
Situasional, yaitu terjadi trauma yang
tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, perceraian, putus sekolah, putus
hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaaan, dituduh KKN,
dipenjara tiba-tiba).
Gangguan
pada klien yang dapat terjadi harga diri rendah karena:
a. Privacy yang
kurang diperhatikan, misalnya: pemerikasaan fisik yang sembarangan, pemasangan
alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan
parineal).
b. harapan
akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai
karena
dirawat/sakit/penyakit.
c. Perlakuan
petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya
berbagai
pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan
tanpa
persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan
fisik.
2. Kronik
yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit
dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptif.
Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yan kronis atau pada klien
gangguan jiwa.
2. Penyebab
Gangguan harga
diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara:
a. Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan,
dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena
sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
Pada klien yang dirawat dapat
terjadi harga diri rendah, karena :
1. Privacy yang kurang diperhatikan,
misalnya : pemeriksaan fisik yang
sembarangan,
pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter,
pemeriksaan perneal).
2. Harapan akan struktur, bentuk dan
fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.
3. Perlakuan petugas kesehatan yang
tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan,
berbagai tindakan tanpa persetujuan.
b. Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu
sebelum sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif.
Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan
pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa. Dalam
tinjauan life span history klien,
penyebab HDR adalah kegagalan tumbuh kembang, misalnya sering disalahkan,
kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima dalam kelompok
(Yosep, 2012)
Tanda dan
Gejalanya :
a. Data
subjektif : mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta
bantuan orang laindan mengungkapkan malu dan tidak bisa
bila diajak melakukan sesuatu.
b. Data
objektif : tampak ketergantungan pada orang lain, tampak sedih dan tidak
melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan, wajah tampak murung.
3.
Akibat
Harga diri rendah dapat membuat klien menjdai tidak mau maupun tidak
mampu bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial : menarik diri.
Isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel
pada tingkah laku yang maladaptif,
mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI, 2011 : 336).
Tanda dan gejala :
Data Subyektif :
a. Mengungkapkan
untuk memulai hubungan/pembicaraan
b.
Mengungkapkan
perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain
c.
Mengungkapkan
kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain
Data Obyektif:
a. Kurang
spontan ketika diajak bicara
b. Apatis
c. Ekspresi
wajah kosong
d.
Menurun
atau tidak adanya komunikasi verbal
e.
Bicara
dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara
4.
Proses terjadinya Masalah
Konsep
diri di definisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan
orang lain (Stuart & Sunden, 2010).
Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari.
Salah satu komponen konsep diri
yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian
diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri
(Keliat, 2013). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai
sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri.
Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah
jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh
dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima
penghargaan dari orang lain.
Gangguan harga diri rendah di
gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk
hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan,
mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan
pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri
secara sosial.
Faktor yang mempegaruhi harga
diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis,
kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal,
ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan
stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti
:
a. Trauma seperti penganiayaan
seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam.
b. Ketegangan peran beruhubungan
dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi.
Ada tiga jeis transisi peran :
1) Transisi peran perkembangan
adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini
termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan
norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
2) Transisi peran situasi terjadi
dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau
kematian.
3) Transisi peran sehat sakit
sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini
mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk,
penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.
Gangguan harga diri atau harga
diri rendah dapat terjadi secara :
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang
tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus
hubugan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah
karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan,
pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan
perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak
tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak
menghargai.
2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap
diri telah berlangsung lama.
5. Penatalaksanaan
Therapy
medik :
1.
Trihexiphenidil
THP 2 mg (2x1)
2.
Clompromazine
100 mg (1x1)
B.
TEORITIS KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal
dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan meliputi data biologi, psikologi, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokan menjadi faktor predisposisi, prespitasi,
penilaian terhadap stressor, sumber koping, dan kemampuan koping yang dimiliki
klien ( Keliat, 2005).
2. Masalah Keperawatan
Adapun
masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan Harga diri rendah adalah sebagai
berikut:
a.
Harga
diri rendah
b.
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
c.
Harga diri rendah.
d.
Isolasi sosial
e.
Berduka disfungsional
f.
Penatalaksanaan regimen terapeutik
inefektif
g.
Koping keluarga inefektif
h.
Koping
Individu inefektif
(Fitria, 2009)
3. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan
hasil observasi, wawancara, atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber
sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien
sebagai berikut : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah (Marlindawani
Jenny, 2010).
4. Rencana Tindakan Keperawatan
a.
Tindakan Keperawatan untuk Klien
1) Tujuan umum: sesuai masalah
(problem).
2) Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan
saling percaya dengan perawat
Tindakan :
3) Bina hubungan saling percaya
a. Salam terapeutik
b. Perkenalan diri
c. Jelaskan tujuan inteniksi
d. Ciptakan lingkungan yang tenang
e. Buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat dan topik pembicaraan).
4) Beri kesempatan pada klien
mengungkapkan perasaannya.
5) Sediakan waktu untuk mendengarkan
klien.
6) Katakan kepada klien bahwa ia
adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong
dirinya sendiri.
7) Klien dapat mengidentifikasi
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :
a. Diskusikan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki klien.
8) Hindarkan memberi penilaian
negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis.
9) Klien dapat menilai kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki.
10) Klien dapat menilai kemampuan
yang dapat digunakan.
Tindakan :
a. Diskusikan bersama klien
kemampuan yang masih dapat digunakan.
b. Diskusikan pula kemampuan yang
dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
11) Klien dapat menetapkan /
merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
a. Rencanakan bersama klien aktivitas
yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan
toleransi kondisi klien.
c. Beri contoh cara pelaksanaan
kegiatan yang boleh klien lakukan.
12) Klien dapat melakukan kegiatan
sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
a. Beri kesempatan mencoba kegiatan
yang telah direncanakan.
b. Beri pujian atas keberhasilan
c. Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan di rumah.
13) Klien dapat memanfaatkan sistem
pendukung yang ada.
Tindakan :
a. Beri pendidikan kesehatan pada
keluarga tentang cara merawat klien.
b. Bantu keluarga memberi dukungan
selama klien dirawat.
c. Bantu keluarga menyiapkan
lingkungan di rumah.
- Beri reinforcement positif atas
keterlibatan keluarga.
5. Evaluasi
a. Kemampuan
yang diharapkan dari pasien :
1.
Pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan
aspek positif yang dimliki
2.
Pasien dapat menilai kemampuan yang
dapat dikerjakan
3.
Pasien dapat melatih kemampuan yang
dapat dikerjakan
4.
Pasien dapat membuat jadwal kegiatan
harian
5.
Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai
jadwal kegaiatan harian
b. Kemampuan
yang diharapkan keluarga :
1.
Mengidentifikasikan kemampuan yang
dimiliki pasien
2.
Menyediakan fasilitas untuk pasien dapat
melakukan kegaitan
3.
Mendorong pasien melakukan kegiatan
4.
Memuji pasien saat mpasien dapat
melakukan kegiatan
5.
Membantu melatih pasien
6.
Membantu penyusunan jadwal kegiatan
pasien
7.
Membantu perkembangan pasien
TINJAUAN
KASUS
A. Kasus
Pengkajian dilakukan pada
tanggal 09 Desember 2016 dengan nama klien Ny A berusia 36 tahun. Klien masuk
pada tanggal 27 September 2016 di Ruangan
melur. Klien dibawa kerumah sakit dengan alasan, klien merasa tidak
berguna, klien suka melamun, pergi tanpa tujuan, sedih dan suka menangis,
bicara ngawur. Klien menyesal karna telah selingkuh .
Klien merupakan anak ke- 1
dari 3 bersaudara. Orang yang paling berarti bagi klien adalah anak, suami dan
keluarganya. Klien mengetahui agama yang dianutnya, dan selama dirumah sakit
klien tidak pernah beribadah.
Dari observasi yang didapat,
ditemukan data; penampilan rapi dan sesuai dengan cara penggunaan nya. Saat
diajak berkomunikasi atau wawancara, klien kooperatif akan tetapi kontak mata
kurang, klien tampak malu-malu. Klien mengatakan sedih, kecewa karena klien
merasa terlalu lama dan keluarga jarang menjenguk klien ke RSJ. Selama interaksi
klien sangat kooperatif , kontak mata kurang, akan tetapi klien sering
tidak nyambung antara pertanyaan dengan jawaban. Klien mengalami gangguan
konsep diri : Harga diri rendah.
B.
Pengkajian
Ruang
rawat : Melur
Tanggal
Rawat : 27 November 2016
I.
Identitas Klien
Inisial :
Ny.
A
Tanggal pengkajian :
13
Desember 2016
Umur : 36 Tahun
No. MR :
03.78.62
Informan :
Klien
II.
Alasan Masuk Rumah Sakit
Klien menangis
tanpa sebab dan mengatakan ingin bunuh diri dan menyesali perbuatannya.
III.
Faktor Predisposisi
1.
Klien
mengalami gangguan jiwa 5 bulan yang lalu dan pernah berobat ke psikiater
2.
Klien
pernah berobat di RSJ, pulang dalam keadaan tenang. Pada saat di rumah klien
tidak mau minum obat dan tidak kontrol ke RSJ dan dibawa kembali ke RSJ.
3.
Klien
mengatakan tidak ada keluarganya yang gangguan jiwa
4.
Klien
mengalami penolakan dari masyarakat di daerah tempat tinggalnya karena sering berantam
dengan suaminya dan juga karena
klien sudah dirawat di RSJ.
Masalah Keperawatan : - Regiment Traupetik Inefektif
-
Koping
keluarga Inefektif
5.
Pengalaman
masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien
menyesal telah menyelingkuhi suaminya.
IV. FISIK
1.
Tanda
vital : TD : 110/8097 mmHg N : 80x/i
S : 37 0C P : 20 x/i
2.
Ukur :
TB : 165 cm BB : 63 kg
Pasien menyatakan tidak memiliki keluhan fisik dan merasa
sehat
V.
PSIKOSOSIAL
1.
Genogram
: Pasien
Keterangan:
Klien anak ke 1 dari 3 bersaudara, klien selama sakit tinggal bersama
orangtuanya. Keluarga
tidak pernah memperhatikan dan memperdulikan klien sehingga klien sering
menyendiri, melamun, malas berhubungan dengan orang lain, merasa tidak berguna
dan bersalah, keluarga tidak ada yang memperhatikan klien selama berada
dirumah, klien mengatakan selama di rumah sakit keluarganyanya tidak pernah menjenguknya.
Masalah Keperawatan : Koping Keluarga inefektif.
2.
Konsep
Diri
a.
Gambaran
diri : Klien merasa tidak senang dengan anggota tubuhnya karna gendut
b.
Identitas
: klien anak ke 1 dari tiga bersaudara
c.
Peran
: klien senang sama anak-anak
d.
Ideal
diri : klien ingin cepat sembuh dan ingin cepat pulang
e.
Harga
diri :klien
merasa tidak berarti lagi dikeluarga, gagal dalam
hidup
hidup
Masalah
keperawatan : Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
3.
Hubungan
Sosial
a.
Orang
berarti : orang tua dan suami
b.
Peran
serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat : Klien tidak pernah ikut dalam kegiatan kelompok.
c.
Hambatan
dalam berhubungan dengan orang lain : Klien sulit untuk berhubungan dengan orang lain.
Masalah keperawatan
: Isolasi
Sosial : Menarik Diri.
4. Spiritual
a.
Nilai
dan keyakinan : klien percaya
adanya tuhan
b.
Kegiatan
ibadah : selama diRSJ Klien tidak pernah beribadah
VI.
STATUS MENTAL
1.
Penampilan
Klien mengunakan pakaian seperti biasanya dan tampak rapi dan rambut
acak-acakan
2.
Pembicaraan
Klien berbicara lambat
dan klien menjawab pertanyaan sesuai yang ditanyakan dan klien mampu memulai
pembicaraan
3.
Aktifitas
Motorik
Klien
masih dapat beraktifitas diruangan dengan baik dan pada saat melaksanakan
aktifitas klien tidak banyak bicara
4.
Alam
Perasaan
Klien mengatakan
merasa ketakutan diceraikan suaminya.
Masalah Keperawatan : Konsep Diri
5.
Afek
Klien bila ditanya hanya menjawab seadanya dan tidak mau bertanya lagi
6.
Interaksi
selama wawancara
Klien selama diajak wawancara, klien tampak kooperatif,
kontak mata kurang. Klien tampak sedikit malu-malu.
7.
Persepsi
Klien
sering mendengar suara bisikan seperti penghakiman
Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran
8.
Proses
Pikir dan Isi Pikir
Pada
saat wawancara, klien sangat koperatif dan memberi respon yang baik dan tidak
ditemukan berpikir waham.
9.
Tingkat
Kesadaran
Tingkat kesadaran klien baik karena klien masih dapat
membedakan disorientasi waktu, tempat dan orang.
10.
Memori
Memori klien baik, klien masih dapat mengingat kejadian
yang lalu dan kejadian yang sekarang dan dapat menceritakannya dengan perawat.
11.
Tingkat
Konsentrasi dan Kemampuan Berhitung
Tingkat konsentrasi berhitung klien baik, klien masih
dapat berhitung dengan hitungan sederhana tanpa bantuan orang lain.
12.
Kemampuan
penilaian
Ketika perawat menanyakan perbuatan jahat dan baik, klien
mampu membandingkannya dan klien mampu menetukan pilihan ketika diberi pilihan,
seperti duluan mana mandi atau makan, klien menjawab mandi dulu karena kalau
mandi badan terasa segar setelah itu baru makan.
13.
Daya
Tilik Diri
Klien menyadari
saat ini sedang sakit dan berada di rumah sakit jiwa
VII.
Kebutuhan Persiapan Pulang
1.
MAKAN
dan BAB/BAK
Klien dapat makan dan BAB BAK sendiri, tampa
bantuan orang lain.
2.
Mandi
dan Berpakaian/berhias
Klien dapat mandi dan berpakain sendiri tanpa membutuhkan
bantuan orang lain
3.
Istirahat
dan tidur
Klien menyatakan bahwa tidur siang kurang dari 1 jam dan
kalau malam ± 6 jam. Klien juga sering
melakukan kegiatan dirumah sakit walau harus disuruh dulu oleh pegawai.
4.
Penggunaan
obat dan Pemeliharaan kesehatan
Klien sebelum dirawat jarang meminum obat dan sekarang
lagi mengikuti perawatan lanjutan di RSJ. Prof. DR. M. Ildrem
Masalah Keperawatan : Regiment Traupetik
Inefektif
5.
Kegiatan
di RSJ. Prof. DR. M. Ildrem
Klien dalam kegiatan sehari-harinya di RSJ. Prof. DR. M.
Ildrem membantu dalam mempersiapkan makanan, mencuci dan menjemur pakaian. Tekait klien masih dirawat, maka keuangan
diatur oleh keluarganya.
6.
Kegiatan
di luar rumah
Klien jarang beraktivitas diluar rumah, karena
tetangganya menjauhi dia semenjak kejadian itu. Sehingga klien hanya menyendiri
dirumah.
VIII. MEKANISME
KOPING
Mekanisme koping klien adaptif, klien dapat berbicara dan
berinteraksi dengan orang lain, tetapi tampak malu-malu. Klien jika tidak
diajak berkomunikasi maka akan selalu menyendiri.
Masalah keperawatan : Koping individu
inefektif
IX.
MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Klien
kurang dukungan dari kelompok masyarakat karena klien kurang berinteraksi
dengan baik disebabkan respon kejadian yang dilakukan klien terhadap suaminya,
sehingga klien susah bergaul dan sering menyendiri. Klien mengatakan hanya
tamat STM dan ingin melanjutkan kuliah namun tidak ada biaya. Klien
mengatakan pernah melamar pekerjaan namun tidak diterima
sehingga klien merasa gagal dalam hidupnya, tidak berguna. Klien senang berdiam diri di rumah, klien jarang
berinteraksi dengan orang lain dan jarang bergaul.
Masalah keperawatan
: Harga diri rendah dan Isolasi Sosial
X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
Klien kurang mengerti
tentang penyakit yang dialami, serta belum tau tentang penanganan dari penyakit
yang dialami, hanya bisa pasrah dengan situasi yang ada, untuk obat-obatan
klien belum mengetahui manfaatnya, yang dia tau hanya disuruh oleh perawat
untuk meminumnya teapat waktu.
XI. ASPEK MEDIK
Diagnosa
medik : Skizofrenia Paranoid
Terapi
medik : Resperidon 2mg 2x1
Thp
2 mg 2x1
Cpz
100 mg 1x1
C. Daftar Masalah Keperawatan
1.
Harga
Diri Rendah
2.
Isolasi
Sosial
3.
Regiment Traupetik Inefektif
4.
Koping individu inefektif
D. Analisis Data
|
Data
|
Masalah
|
|
Sering menunduk,
kurangnya interaksi social,susah bergaul dengan orang lain, tampak menyendiri.
|
Isolasi sosial : menarik diri
|
|
Tidak pernah di jenguk oleh keluarga semenjak di rumah
sakit,
kecewa dan putus asa,
tidak di perhatikan oleh
keluarga, merasa tidak berguna lagi, malu, suka melamun, bicara ngawur
|
Harga Diri Rendah
|
|
Klien tidak mau minum obat dan tidak kontrol ke RSJ
|
Koping individu inefektif
|
E.
Pohon Masalah
|
Gangguan konsep diri :
Harga diri rendah
|
Koping individu efektif
F.
Daftar Diagnosis Keperawatan
1.
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
2.
Isolasi Sosial : Menarik Diri
G.
Rencana Keperawatan :
|
NO
|
SP
|
Kemampuan/Kompetensi
|
|
1
|
HDR
|
Sp 1 : Mengidentifikasi kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki pasien
Sp 2:
- Menilai Kemampuan yang dapat digunakan
- Menetapkan/memilih kegiatan sesuai
kemampuan
- Melatih kegiatan sesuai kemampuan yang
dipilih 1
Sp 3: Melatih kegiatan sesuai kemampuan yang
dipilih dari SP 2
Sp 4 : Melatih kegiatan sesuai
kemampuan yang dipilih SP 3
|
|
2
|
Isolasi Sosial
|
SP 1 : Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
SP 2 :
-Melatih berhubungan sosial secara bertahap.
-Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien
SP 3 :
-Melatih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih.
-Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien
|
H.
ASUHAN KEPERAWATAN
|
WAKTU
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
|
Selasa,
13-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1.
Data :
Klien merasa hidupnya tidak berarti lagi di keluarga
dan lingkungan semenjak klien
dirawat di rumah sakit, Klien terlihat sedih karena berada di RSJ
merasa terasing dari keluarga dan terpisah dengan keluarga
2. Diagnosa Keperawatan:
“Harga Diri Rendah”
3.
Tindakan
Keperawatan:
Sp 1 :
a.
Bina hubungan saling percaya
b.
Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
c. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian
Rencana Tindak Lanjut :
Sp 2 (Menilai
kemampauan yang digunakan, menetapkan atau memilih kemampuan dan melatih kegiatan sesuai kemampuan
yang dipilih)
|
S : Klien senang
O :
Klien mampu melakukan kebersihan dan merapikan tempat tidurnya
A : Harga
Diri Rendah (+)
P : Mengali aspek
positif yang dimiliki
|
|
|
Rabu,
14-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1.
Data : Klien merasa hidupnya tidak berarti lagi di keluarga dan lingkungan
semenjak klien dirawat di
rumah sakit, Klien terlihat sedih karena berada di RSJ merasa terasing dari keluarga
dan terpisah dengan keluarga.
2.
Diagnosa Keperawatan:
“Harga Diri Rendah”
3.
Tindakan
Keperawatan :
Sp 2 :
a.
Evaluasi jadwal kegiatan harian
b.
Anjurkan klien untuk memberikan
contoh membersihkan dan merapikan tempat
tidur
c.
Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Rencana Tindak Lanjut :
Sp 3
a.
Melatih kemampuan yang dipilih
(Merapikan tempat tidur dan membersihkan lingkungan)
b.
Klien mampu mengambil air minum.
Sp
4 (Mengevaluasi
kemampuan yang dimiliki)
|
S : Klien senang
O :
1.
Klien mampu menyapu dan mengepel lantai bersama teman lainya.
2.
Klien mampu mengambil air minum.
A : Harga Diri Rendah (+)
P : Melatih kemampuan membersihkan dan merapikan ruangan
setiap hari.
|
|
|
Kamis,
15-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1.
Data :
Klien merasa hidupnya tidak berarti lagi di keluarga
dan lingkungan semenjak klien
dirawat di rumah sakit, Klien terlihat sedih karena berada di RSJ
merasa terasing dari keluarga dan terpisah dengan keluarga
2.
Diagnosa Keperawatan:
“ Harga Diri Rendah “
3.
Tindakan
Keperawatan:
Sp 3:
a.
Melatih kemampuan klien (Sp 2)
b.
Anjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Sp 4 :
a.
Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
b.
Menganjurkan klien untuk
melakukan kembali bagaimana merapikan tempat tidur dan membersihkan
lingkungan
c.
Klien mampu mengambil air minum.
d.
Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
|
S : Klien
senang
O : Klien
dapat melaksanakan dengan baik
A : Harga
Diri Rendah (+)
P : Anjurkan
klien agar kegiatan ini dapat dimasukkan
dalam jadwal keseharian 2x1 hari
|
|
|
Jumat,
16-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1.
Data :
Klien mengatakan sering menunduk, kurangnya
interaksi sosial,susah
bergaul dengan orang lain, klien tampak menyendiri
2.Diagnosa Keperawatan:
“Isolasi
Sosial : Menarik Diri”
c.
Tindakan
Keperawatan :
Sp 1 :
1.
Mengidentifikasi penyebab, menanyakan Siapa yang tidak dekat dengan paien
2.
Menanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
serta Mendiskusikan
kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang
lain.
3.
Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien.
Rencana Tindak Lanjut :
Sp 2 (Melatih
berhubungan sosial secara bertahap)
|
S : Klien senang
O : Klien tampak merasa
malu-malu melakukan hal yang diajarkan
A : Isolasi
Sosial (+)
P : Mengidentifikasi
penyebab Isolasi sosial
|
|
|
Sabtu,
17-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1. Data :
Klien mengatakan sering menunduk,
kurangnya interaksi sosial,susah bergaul dengan orang lain. klien tampak
menyendiri
2. Diagnosa Keperawatan:
“Isolasi
Sosial : Menarik Diri”
3. Tindakan Keperawatan:
SP 2 :
1.
Mengevaluasi kegiatan yang lalu (SP 1).
2.
Melatih berhubungan sosial dengan bertahap
kepada perawat
3.
Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien.
Rencana Tindak Lanjut :
SP 3 (Melatih berhubungan sosial secara
bertahap)
|
S : Klien
kelihatan senang saat berinteraksi
O : Klien melakukan hal yang
diajarkan
A : Isolasi
Sosial (+)
P : Latihan kemampuan yang dimiliki 2x sehari
|
|
|
Senin,
19-12-2016
Pukul 11.30 WIB
|
1.
Data :
Klien mengatakan sering menunduk,
kurangnya interaksi social,susah bergaul dengan orang lain Klien
tampak menyendiri.
2.
Diagnosa Keperawatan:
“Isolasi
Sosial : Menarik Diri”
3.
Implementasi:
SP 3 :
1.
Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 2).
2.
Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
3.
Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
|
S : Klien
senang
O :
Klien melakukan
hal yang diajarkan
A : Isolasi
Sosial (+)
P : Anjurkan berkenalan dan berinteraksi pada orang lain 2 x sehari
|
|
BAB
IV
PEMBAHASAN
Setelah
penulis melaksanakan asuhan keperawatan jiwa kepada Ny.A dengan gangguan konsep
diri diri : Harga Diri Rendah Di ruang melur RSJ.
Prof. DR. M. ILDREM, maka penulis pada BAB ini akan membahasan kesenjangan
antara teoritis dengan tinjauan kasus.
Pada
pembahasan ini diuraikan
tentang hasil pelaksanaan
tindakan keperawatan dengan
pemberian terapi kognitif pada klien harga diri rendah. Pembahasan
menyangkut analisis hasil
penerapan terapi kognitif
terhadap masalah keperawatan
harga diri rendah berdasarkan teori
model stres adaptasi
Stuart dan teori
model interpersonal Peplau.
Tindakan keperawatan didasarkan
pada pengkajian dan diagnosis
keperawatan yang terdiri
dari tindakan generalis
dan tindakan spesialis
yang dijabarkan sebagai berikut.
A. Pengkajian
Tahap
pengkajian pada klien harga diri rendah
dilakukan interaksi perawat-klien
melalui komunikasi terapeutik
untuk mengumpulkan data dan
informasi tentang status kesehatan
klien. Pada tahap
ini terjadi proses
interaksi manusia,
komunikasi, transaksi dengan peran yang
ada pada perawat sebagaimana konsep
Peplau tentang manusia
yang bisa dipengaruhi
dengan adanya siatu
proses interpersonal (Fitzpatrick & Whall, 1989). Perawat
bersama-sama klien kemudian menetapkan masalah yang dihadapi klien,
menentukan tujuan yang akan dicapai,
mengidentifikasi cara atau
rencana kegiatan, serta
melaksanakan kegiatan-kegiatan
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui pemberian tindakan
keperawatan generalis dan terapi kognitif.
Selama pengkajian
dilakukan pengumpulan data dari beberapa sumber, yaitu dari pasien dan tenaga
kesehatan di ruangan. Penulis mendapat sedikit kesulitan dalam menyimpulkan
data karena keluarga pasien jarang mengunjungi pasien di rumah sakit jiwa. Maka
penulis melakukan pendekatan kepada pasien melalui komunikasi terapeutik yang
lebih terbuka membantu pasien untuk memecahkan perasaannya dan juga melakukan
observasi kepada pasien. Adapun upaya tersebut yaitu:
1.
Melakukan pendekatan dan membina
hubungan saling percaya diri pada klien agar klien lebih terbuka dan lebih
percaya dengan menggunakan perasaan.
2.
Mengadakan pengkajian klien dengan
wawancara
3.
Mengadakan pengkajian dengan cara
membaca status, melihat buku rawatan dan bertanya kepada pegawai ruangan melur
Dalam
pengkajian ini, penulis tidak menemukan kesenjangan karena ditemukan hal sama
seperti pada tinjauan teoritis. Pada kasus Ny.A, klien mendengar suara-suara,
gelisah, bicara sendiri, mondar-mandir, tampak tegang, mudah emosi, putus asa,
sedih dan lain-lain. Gejala gejala tersebut merupakan manifestasi klinis dari
halusnasi (Keliat, dkk.2014). selain itu terdapat faktor predisposisi maupun
presipitasi yang menyebabkan kekambuhan penyakit yang dialami oleh Ny.A
Tindakan
keperawatan spesialis dengan pemberian
terapi kognitif bertujan untuk membantu
klien mengembangkan pola pikir
yang rasional, berfikir
realitas dan membentuk kembali
perilaku dengan mengubah
pesan-pesan internal (Copel,
2007). Terapi kognitif
berfokus pada pemrosesan
pikiran dengan segera,
yaitu bagaimana individu
mempersepsikan atau menginterpretasi pengalamannya
dan menentukan bagaimana cara
dia merasakan dan berperilaku
(Viedebeck, 2010).
Pemberian terapi
kognitif dapat membantu
klien untuk mengubah
pernyataan dirinya yang mempengaruhi perasaannya ke arah pikiran yang
lebih positif. Pelaksanaan terapi
kognitif menggunakan pedoman
yang telah teruji
melalui beberapa riset yang menunjukkan hasil
keefektifan terapi pada
klien harga dirirendah kronis (Rahayuningsih, dkk, 2011) ( Sasmita, dkk, 2011). Hasil penerapan terapi kognitif
ini juga menunjukkan
hasil bahwa dengan
penerapan terapikognitif didapatkan
kemampuan klien melawan pikiran
otomatis negatif denganperilaku rasional
secara mandiri sehingga
klien mampu menerima
diri terkaitdengan stresor yang
dihadapi (Jumaini, dkk, 2011; Syarniah,
dkk, 2011; Sartika,dkk, 2011). Pemberian
tindakan terapi kognitif
bermanfaat untuk dapat meningkatkan harga
diri klien secara
bermakna. Pelaksanaaan terapi
kognitif dilakukan secara individu
setiap klien dan
dilakukan sendiri oleh
penulis.
Pemberian
terapi kognitif diberikan dengan frekuensi
interaksi rata-rata enam (6) kali
pertemuan dengan tiap
pertemuan berlangsung selama
30-45 menit. Prosespelaksanaan
terapi kognitif terdiri dari empat (4) sesi pertemuan, namun beberapa klien
memerlukan pertemuan ulang
tergantung dari jumlah
pikiran negatif yang muncul, sehingga rata-rata dilakukan
sebanyak enam (6) kali pertemuan.
B. Diagnosa Keperawatan
1.
Harga
Diri Rendah
2.
Isolasi
Sosial
3.
Regiment Traupetik Inefektif
4.
Koping keluarga Inefektif
5.
Koping individu inefektif
Dari diagnose diatas tidak ada kesenjangan antara
teori dan kasus. Dimana semua diagnosa pada teori muncul pada kasus Ny.A ,
Tetapi dalam asuhan keperawatan ini, kelompok mengangkat 2 diagnosa saja, yaitu
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah dan Isolasi Sosial : Menarik diri. Ketiga diagnosa lainnya tidak menjadi
prioritas penanganan dikarenakan :
1.
Regiment Traupetik Inefektif
Diagnosa
ini telah telah tertangani, dikarenakan pasien sedang melakukan perawatan di
RSJ. Prof. DR. M. Ildrem, sehingga minum obat serta perawatan teraupetik telah
dilakukan dan diingatkan oleh perawat selama perawatan.
2.
Koping keluarga Inefektif
Dikerenakan
keluarga tidak pernah mendatangi klien selama masa pemberian asuhan keperawatan
3.
Koping individu inefektif
Dengan penanganan diagnosa harga diri rendah maka
klien akan memiliki koping individu yang baik.
4. Implementasi
Sesi
satu terapi kognitif, perawat dan klien secara bersama-sama mengidentifikasi pikiran otomatis
negatif klien dan
alasan timbulnya pikiran
tersebut. Peran perawat dan
klien pada sesi
satu ini sesuai
dengan konsep interpersonal
Peplauyaitu membina hubungan perawat dengan klien yang disebut tahap
orientasi. Pada fase orientasi ditandai
dimana perawat melakukan
kontrak awal untuk membangun kepercayaan klien dan terjadi
proses pengumpulan data (Alligood &Tomey,
2010). Peran lain
yang dilakukan perawat
pada fase ini
adalah sebagai konselor dimana
perawat menggali perasaan klien dan menanyakan kesiapan klienuntuk berinteraksi.
Fase orientasi dilanjutkan
fase identifikasi, dimana
terjadiproses penggalian perasan-perasaan yang
dialami klien, pengkajian
data-data, pengalaman klien, serta
bagaimana cara klien
mengatakan
ketakutan,ketidakmampuan dan ketidakberdayaan dalam
berhubungan dengan orang
lain.
Fase orientasi
dan identifikasi dalam
sesi satu terapi
kognitif merupakan tahap pengkajian dasar,
dimana perawat memfasilitasi
klien untuk bisa
menentukan tindakan apa yang akan dilakukan. Pelaksanaan
sesi satu terapi
kognitif pada klien
harga diri rendah
ditemukan pikiran otomatis negatif pada klien berupa penilaian diri
sebagai orang yang tidak berguna, tidak
berharga, gagal dalam hidup, tidak ada
orang yang peduli dengan klien,
pikiran tidak memiliki kemampuan
apapun, ragu-ragu, serta malu
dengan kondisi diri. Temuan
ini sesuai dengan
pendapat yang mengungkapkan
bahwa pada klien harga diri
rendah kronis ditemukan perasaan dan penilaian diri secara negatif tentang
kondisi dan kemampuan
diri (Keliat, 2006;
NANDA, 2012; Townsend, 2009;
Stuart, 2009). Pada klien dengan harga diri rendah akan terjadi
penolakan
dan membenci kondisi diri sendiri.
Sesi dua
terapi kognitif yaitu
mengidentifikasi tanggapan rasional
dan latihan melawan pikiran
otomatis negatif. Pada
pelaksanan sesi dua
ini menggunakan pendekatan
model interpersonal Peplau tahap
eksploitasi. Pada tahap eksploitasi ini perawat melatih klien untuk
menggunakan tanggapan rasional terhadap pikiran otomatis negatif. Tahap ini
dilakukan sampai klien benar-benar menguasai dengan baik secara kognitif maupun
psikomotor.
Peran perawat
dalam pemberian terapi
kognitif adalah untuk
membuat pikiran klien yang
terselubung menjadi lebih
terbuka dan ini
sangat penting untuk mengatasi kognitif
yang bersifat otomatis
(Gladding, 2009). Kognitif
atau pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan yang merujuk pada pikiran rasional, mempelajari fakta, mengambil
keputusan dan mengembangkan
pemikiran, sedangkan psikomotor
atau kemampuan praktek merujuk pada
pergerakan muskuler yang
merupakan hasil dari
kordinasi pengetahuan dan menunjukkan
penguasaan terhadap suatu
tugas atau keterampilan (Craven,
2006). Pada sesi
ini klien melakukan
pengambilan keputusan terhadap pilihan
perawatan atau penyelesaian masalah yang
dihadapi dengan mempelajari fakta rasional.
Sesi tiga
tindakan terapi kognitif
adalah mengidentifikasi manfaat
dari latihan tentang kemampuan
untuk menggunakan tanggapan
rasional terhadap pikiran otomasi negatif. Pada sesi tiga ini
juga menggunakan pendekatan fase eksploitasi Peplau. Pada
sesi ini merupakan
situasi dimana klien
dapat merasakan adanya nilai hubungan
sesuai pandangan/persepsinya terhadap
situasi yang dialami
dan dirasakan. Dalam fase
ini perawat mendiskusikan
lebih mendalam tentang manfaat penggunaan tanggapan
rasional. Proses ini membutuhkan
banyak energi agar dapat mentransfer energi klien dari yang negatif menjadi
seorang yang positif dan produktif. Hasil yang dicapai pada sesi ini adalah
klien mengungkapkan hasil dan
mencatat dalam buku
harian dan seluruh
klien mampu mengikuti
latihan dengan baik. Seluruh
klien menyatakan mendapatkan manfaat
terhadap latihan yang dilakukan
dan klien mampu
mengungkapkannnya. Sebagian besar
klien mampu menggunakan buku harian dengan baik.
Sesi
empat terapi kognitif merupakan pemanfaatan support system yang bertujuan untuk
meningkatkan komunikasi
perawat dengan klien
dan keluarga yang merupakan support
system utama bagi
klien. Terapi kognitif
sesi empat dilaksanakan dengan
melibatkan keluarga khususnya care giver utama klien. Care giver utama
diberikan penjelasan dan
teknik terapi kognitif
secara singkat sehingga diharapkan
mampu mendampingi atau
mengontrol klien dalam melakukan latihan
secara mandiri. Hal
ini sesuai dengan
prinsip terapi bahwa terapi kognitif merupakan suatu pendekatan terapi yang bersifat edukatif dengan
tujuan mengajarkan klien
untuk dapat menolong
dirinya sendiri (Townsend, 2009). Kemampuan
care giver diharapkan
menjadi support system
yang menunjang kemampuan klien secara mandiri.
Pada
diagnosa keperawatan harga diri rendah strategi pertemuan yang dilakukan yaitu
mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien.
Strategi pertemuan yang kedua yaitu membantu klien menilai kemampuan yang dapat
digunakan. Strategi pertemuan yang ketiga yaitu membantu klien
memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih. Strategi pertemuan yang keempat
yaitu latih kemampuan yang dipilih klien. Pada diagnosa keperawatan Isolasi social strategi pertemuan yang dilakukan yaitu Mengidentifikasi penyebab isolasi social,
melatih berhubungan sosial secara bertahap, Melatih cara berkenalan dengan 2
orang atau lebih dan kelompok dan Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien. Implementasi
pada keluarga tdak dilakukan, dikarenakan selama melakukan pengkajian hingga
berakhirnya implementasi, tidak ada keluarga pasien yang menjenguk Ny A .
5. Evaluasi
Evaluasi
yang dilakukan pada tindakan keperawatan pada klien harga diri rendah ini
dengan membandingkan data respon klien atau penilaian terhadap stresor pada
scaning pengkajian. Data ini me`liputi
respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan sosial
yang dibandingkan saat
pertama klien akan
diberikan intervensi dan setelah intervensi diberikan. Pada
tinjauan kasus evaluasi yang didapatkan adalah : Klien dapat melakukan latihan
bercakap-cakap dengan orang lain, Klien mampu melaksanakan jadwal yang telah
dibuat bersama bahkan klien dapat diajak unutk bernyanyi bersama sambil bermain
gitar, Selain itu, dapat dilihat dari setiap evalusi yang dilakukan pada asuhan
keperawatan, dimana terjadi penurunan gejala yang dialami oleh Ny.A dari hari
kehari selama proses interaksi.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah
penulis melakukan pengkajian dan perawatan pada Ny.A dengan gangguan konsep
diri : Harga diri rendah di Ruang Sorik
Merapi RSJ.
Prof. DR. M. Ildrem selama 2 minggu penulis dapat menarik kesimpulan bahwa
dalam malakukan perawatan jiwa sangat penting sekali membina hubungan saling
percaya dan juga membutuhkan kolaborasi yang baik dengan tenaga medis (dokter
dan perawat), keluarga dan juga lingkungan terapeutik, agar semua maksud dan tujuan klien
dirawat maupun perawat yang merawat tercapai.
B.
SARAN
1.
Klien
a.
Libatkan klien dalam aktivitas positif
b.
Minum obat secara rutin
c.
Memahami aspek positif dan kemampuan
yang dimilikinya
d.
Berlatih untuk berinteraksi dengan orang
lain
2.
Perawat
a.
Lebih mengingatkan terapi theraupetik
terhadap klien
b.
Menyarankan perawat ruangan akan
memperhatikan kondisi pasien yang memiliki diagnosa khusus, tidak menyamakan
perilaku (Terkait pemberian SP)
c.
Meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan
perawatan klien
d.
Memberi reinforcement
2 komentar:
dapusnya boleh di share pak ?
Terima kasih sangat membantu🤗
Posting Komentar