Pages

Banner 468 x 60px

 

Selasa, 19 September 2017

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.J DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG SINABUNG RSJ PROF. Dr. MUHAMMAD ILDREM PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016

1 komentar
Doc1 copy      
                                          KATA PENGANTAR


Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran  di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara untuk memenuhi salah satu syarat praktek dan mata kuliah keperawatan jiwa dalam menyelesaikan Profesi Ners. Adapun proposal yang telah disepakati dan telah disusun oleh penulis dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.J DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG SINABUNG RSJ. Prof. DR. M. ILDREM MEDAN”.

Dalam penyusunan laporan ini banyak pihak yang membantu penulis, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu :
1.      Ns. Rinco Siregar,S.Kep, MNS, selaku Ketua Program Studi Ners Fakultas Keperwatan dan Kebidanan Universitas Sari Mutiara Indonesia
2.      dr. Chandra S, Sp.OG selaku Direktur RSJ DR. M. ILDERM yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melaksanakan praktek jiwa di RSJ DR. M. ILDERM
3.      Duma Farida Panjaitan, S.Pd, S.Kep, Ners, selaku Kepala Bidang Keperawatan RSJ DR. M. ILDERM yang telah mengizinkan penulis untuk melaksanakan praktek lapangan keperawatan jiwa.
4.      Lince Herawati S.Pd, S. Kep, Ners, selaku Kepala Bidang Diklat di RSJ DR. M. ILDERM yang telah telah mengijinkan penulis untuk melaksanan praktek lapangan keperawatan jiwa.
5.      Jack Amidos Pardede, M.Kep, Sp.Kep.J, selaku Koordinator Praktek Belajar Lapangan sekaligus sebagai pembimbing lapangan di RSJ DR. M. ILDERM yang telah mengarahkan penulis dalam penyelesaian proposal ini.
6.      Safaruddin, S.Kep, Ns. selaku Kepala Seksi Struktural di RSJ DR. M. ILDERM sekaligus sebagai pembimbing lapangan yang telah mengarahkan penulis dalam penyelesaian proposal ini.
7.      Perdi Lubis, S. Kep, Ners selaku Kepala Ruangan Sinabung beserta staf jajarannya RSJ DR. M. ILDERM
8.      Hj. Lindawati S.Kep, Ns. selaku Kepala Ruangan Sibual Buali beserta staf jajarannya di RSJ DR. M. ILDERM
9.      Staf Pegawai Rumah RSJ DR. M. ILDERM.
10.  Staf Pengajar dan Pegawai Universitas Sari Mutiara Indonesia.
11.  Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan, materi dan doa untuk menyelesaikan tugas makalah ini .
12.  Teman-teman Mahasiswa/i Universitas Sari Mutiara Indonesia yang telah bersama-sama menyelesaikan tugas makalah ini.

Penulis menyadari bahwa isi makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu kami dari penulis sangat mengharapkan kritik dan saran guna memperbaiki di masa yang akan datang dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.


Medan,            Desember 2016


                                                                           Kelompok

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara  klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia (Keliat, 2011). Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau masyarakat (UU Kesehatan Jiwa, 2014).

Fenomena gangguan jiwa pada saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan setiap tahun di berbagai belahan dunia jumlah penderita gangguan jiwa bertambah. Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) dalam Yosep (2013), ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan hasil penelitian dari Rudi Maslim dalam Mubarta (2011) prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%. Angka tersebut tergolong sedang dibandingkan dengan negara lainnya. Data dari 33 Rumah Sakit Jiwa ( RSJ ) yang ada di seluruh Indonesia  menyebutkan hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang. Sedangkan pada tahun 2013 jumlah penderita gangguan jiwa mencapai 1,7 juta (Riskesdas, 2013 ).
Skizofrenia adalah suatu gangguan jiwa yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realita (halusinasi dan waham), afek yang tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif (tidak mampu berfikir abstrak) dan mengalami kesukaran melakukan aktivitas sehari-hari (Keliat,2006). Seorang yang mengalami skizofrenia terjadi kesulitan berfikir dengan benar, memahami dan menerima realita, gangguan emosi/perasaan, tidak mampu membuat keputusan, serta gangguan dalam  melakukan aktivitas atau perubahan perilaku. Klien skizofrenia 70% mengalami halusinasi (Stuart, 2009).

Halusinasi merupakan keadaan seseorang mengalami perubahan dalam pola dan jumlah stimulasi yang diprakarsai secara internal atau eksternal disekitar dengan pengurangan, berlebihan, distorsi, atau kelainan berespon terhadap setiap stimulus (Townsend, 2009 dalam Pardede, Keliat, & Yulia, 2013). Halusinasi pendengaran paling sering terjadi ketika klien mendengar suara-suara, suara tersebut dianggap terpisah dari pikiran klien sendiri. Isi suara-suara tersebut mengancam dan menghina, sering kali suara tersebut memerintah klien untuk melakukan tindakan yang akan melukai klien atau orang lain (Copel, 2007 dalam Nyumirah, 2013).
Dilihat dari permasalahan di atas, Tingginya angka kejadian halusinasi menunjukkan bahwa perlunya intervensi yang tepat dari perawat guna menekan jumlah tersebut. Peran perawat dalam menanggulangi halusinasi sangat penting dilihat dari aspek preventif yaitu upaya pencegahan dengan mengajarkan upaya dan cara  mengatasi  masalah individu dan keluarga, aspek promotif yaitu peningkatan kesehatan dengan memberikan pendidikan kesehan kepada klien dan keluarga, aspek kuratif yaitu merencanakan dan implementasikan rencana tindakan keperawatan dan pemberian pengobatan sesuai indikasi dan aspek rehabilitatif yaitu perawat berperan dalam menikdak lanjut klien dengan halusinasi.

1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan komprehensif kepada Tn. F dengan gangguan perespsi sensori : halusinasi pendengaran.



1.2.2   Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada Tn.F dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2.      Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan yang ada pada Tn. F dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
3.      Mahasiswa menetapkan perencanaan keperawatan  pada Tn. F dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
4.      Mahasiswa melakukan implementasi keperawatan  pada Tn. F dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
5.      Mahasiswa mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada Tn. F  dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
6.      Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn. F  dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.



BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  Konsep Dasar Halusinasi Pendengaran
2.1.1        Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa, klien merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus nyata. (Keliat, 2012).  Halusinasi pendengaran paling sering terjadi ketika klien mendengar suara-suara, Suara tersebut dianggap terpisah dari pikiran klien sendiri. Isi suara-suara tersebut mengancam dan menghina, sering kali suara tersebut memerintah klien untuk melakukan tindakan yang akan melukai klien atau orang lain (Copel, 2007 dalam Nyumirah, 2013). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa halusinasi pendengaran adalah persepsi atau tanggapan dari pancaidera (Mendengar) terhadap stimulus yang tidak nyata yang mempengaruhi perilaku individu.

2.1.2    Klasifikasi Halusinasi
No
Jenis halusinasi
       Data Objektif
       Data Subjektif
1
Halusinasi Pendengaran
1.      Bicara atau tertawa sendiri tanpa lawan bicara
2.      marah-marah tanpa sebab mencondongkan telinga ke arah tertentu
3.      menutup telinga
1.      Mendengar suara atau kegaduhan
2.      Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
3.      Mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
2
Halusinasi penglihatan
1.      Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
2.      Ketakutan pada objek yang tidak jelas
1.      Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster
3
Halusinasi penghindu
1.      Menghindu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu
2.      Menutup hidung
1.      Membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses,
2.      kadang-kadang bau itu menyenangkan
4
Halusinasi pengecepan
1.      Sering meludah
2.      Muntah
1.      Merasakan rasa seperti darah, urine, feses
5
Halusinasi perabaan
Menggaruk-garuk permukaan kulit
1.      Mengatakan ada serangga di permukaan kulit
2.      Merasa seperti tersengat listrik

2.2 Etiologi
2.2.1        Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi sebagai faktor risiko yang menjadi sumber terjadinya stres yang mempengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk menghadapi stres baik yang biologis, psikososial dan sosial kultural. Membedakan stressor predisposisi menjadi tiga, meliputi biologis, psikologis dan sosial budaya. Stressor predisposisi ini kejadiannya telah berlalu (Stuart, 2013). Penjelasan secara rinci tentang ketiga stressor predisposisi tersebut sebagai berikut:
  1. Biologis
Faktor biologis terkait dengan adanya neuropatologi dan ketidakseimbangan dari neurotransmiternya. Dampak yang dapat dinilai sebagai manifestasi adanya gangguan adalah perilaku maladaptif klien (Townsend, 2009). Secara biologi riset neurobiologikal memfokuskan pada tiga area otak yang dipercaya dapat melibatkan klien mengalami halusinasi yaitu sistem limbik, lobus frontalis dan hypothalamus.

Pada klien dengan halusinasi diperkirakan mengalami kerusakan pada sistem limbic dan lobus frontal yang berperan dalam pengendalian atau pengontrolan perilaku, kerusakan pada hipotalamus yang berperan dalam pengaturan mood dan motivasi. Kondisi kerusakan ini mengakibatkan klien halusinasi tidak memiliki keinginan dan motivasi untuk berperilaku secara adaptif. Klien halusinasi juga diperkirakan mengalami perubahan pada fungsi neurotransmitter, perubahan dopamin, serotonin, norepineprin dan asetilkolin yang menyebabkan adanya perubahan regulasi gerak dan koordinasi, emosi, kemampuan memecahkan masalah; perilaku cenderung negatif atau berperilaku maladaptif; terjadi kelemahan serta penurunan atensi dan mood.

Genetik juga dapa memicu terjadi halusinasi pada seorang individu.Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif. Terjadinya penyakit jiwa pada individu juga dipengaruhi oleh keluarganya dibanding dengan individu yang tidak mempunyai penyakit terkait. Banyak riset menunjukkan peningkatan risiko mengalami skizofrenia pada individu dengan riwayat genetik terdapat anggota keluarga dengan skizofrenia. Pada kembar dizigot risiko terjadi skizofrenia 15%, kembar monozigot 50%, anak dengan salah satu orang tua menderita skizofrenia berisiko 13%, dan jika kedua orang tua mendererita skizofrenia berisiko 45% (Fontaine, 2009)

  1. Psikologis
Meliputi konsep diri, intelektualitas, kepribadian, moralitas, pengalaman masa lalu, koping dan keterampilan komunikasi secara verbal (Stuart, 2009). Konsep diri dimulai dari gambaran diri secara keseluruhan yang diterima secara positif atau negatif oleh seseorang. Penerimaan gambaran diri yang negative menyebabkan perubahan persepsi seseorang dalam memandang aspek positif lain yang dimiliki.

Peran merupakan bagian terpenting dari konsep diri secara utuh. Peran yang terlalu banyak dapat menjadi beban bagi kehidupan seseorang, hal ini akan berpengaruh terhadap kerancuan dari peran dirinya dan dapat menimbulkan depresi yang berat. Ideal diri adalah harapan, cita-cita serta tujuan yang ingin diwujudkan atau dicapai dalam hidup secara realistis. Identitas diri terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengenal siapa dirinya, dengan segala keunikannya. Harga diri merupakan kemampuan seseorang untuk menghargai diri sendiri serta member penghargaan terhadap kemampuan orang lain.

Klien yang mengalami halusinasi memandang dirinya secara negatif sering mengabaikan gambaran dirinya, tidak memperhatikan kebutuhannya dengan baik. Intelektualitas ditentukan oleh tingkat pendidikan seseorang, pengalaman dan interaksi dengan lingkungan ketika mengalami halusinasi. Kepribadian pada klien halusinasi biasanya ditemukan klien memiliki kepribadian yang tertutup. Klien tidak mudah menerima masukan dan informasi yang berkaitan dengan kehidupan klien. Klien juga jarang bergaul dan cenderung menutup diri. Klien memiliki ketidakmampuan untuk mengevaluasi atau menilai keadaan dirinya dan tidak mampu memutuskan melakukan peningkatan keadaan menjadi lebih baik.

Moralitas pandangan negatif terhadap diri sendiri ini menyebabkan klien mengalami penurunan motivasi untk melakukan aktifitas. Kesimpulannya, adanya penilaian diri yang negatif pada diri klien dengan halusinasi menyebabkan tidak ada tanggung jawab secara moral pada klien untuk melakukan aktifitas.

Menurut beberapa penjelasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa jika mempunyai pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, klien mempunyai konsep diri negatif, intelektualitas yang rendah, kepribadian dan moralitas yang tidak adekuat merupakan penyebab secara psikologis untuk terjadinya halusinasi. Klien halusinasi memerlukan perhatian yang cukup besar untuk dapat mengembalikan konsep diri yang seutuhnya yang menyebabkan klien suka menyendiri, melamun dan akhirnya muncul halusinasi.

  1. Sosial Budaya
Meliputi status sosial, umur, pendidikan, agama, dan kondisi politik. Menurut Townsend 2009 dalam Nyumirah, 2013 ada beberapa hal yang dikaitkan dengan masalah gangguan jiwa. Salah satunya yang terjadi pada klien halusinasi adalah masalah pekerjaan yang akan mempengaruhi status sosial. Klien dengan status sosial ekonomi yang rendah berpeluang lebih besar untuk mengalami gangguan jiwa dibandingkan dengan klien yang memiliki status sosial ekonomi tinggi.

Faktor sosial ekonomi tersebut meliputi kemiskinan, tidak memadainya sarana dan prasarana, tidak adekuatnya pemenuhan nutrisi, rendahnya pemenuhan kebutuhan perawatan untuk anggota keluarga, dan perasaan tidak berdaya. Kultur atau budaya, kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi masalah klien dengan halusinasi. Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa status social ekonomi, pendidikan yang rendah, kurangnya pengetahuan, motivasi yang kurang dan kondisi fisik yang lemah dapat mempengaruhi klien dalam mempertahankan aktifitas klien yang mengalami halusinasi.

2.2.2    Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2012). Faktor  presipitasi sebagai suatu stimulus yang dipersepsikan oleh individu apakah dipersepsikan sebagai suatu kesempatan, tantangan, ancaman/tuntutan.
Stressor presipitasi bisa berupa stimulus internal maupun eksternal yang mengancam individu. Komponen stressor presipitasi terdiri atas sifat, asal, waktu dan jumlah stressor (Stuart, 2009). Sifat stresor, terjadinya halusinasi berdasarkan sifat terdiri dari :
1.      Komponen biologis, misalnya penyakit infeksi, penyakit kronis atau kelainan struktur otak, ketidakteraturan dalam proses pengobatan.
2.      Komponen psikologis, misalnya: intelegensi, ketrampilan verbal, moral, kepribadian dan kontrol diri, pengalaman yang tidak menyenangkan, kurangnya motivasi.
3.      Komponen sosial budaya, misalnya: adanya aturan yang sering bertentangan antara individu dan kelompok masyarakat, tuntutan masyarakat yang tidak sesuai dengan kemampuan seseorang, ataupun adanya stigma dari masyarakat terhadap seseorang yang mengalami gangguan jiwa, sehingga klien melakukan perilaku yang terkadang menentang hal tersebut yang menurut masyarakat tidak sesuai dengan kebiasaan dan lingkungan setempat.
Asal stresor terdiri dari internal dan eksternal. Stresor internal atau yang berasal dari diri sendiri seperti persepsi individu yang tidak baik tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya, merasa tidak mampu, ketidakberdayaan. Stresor eksternal atau berasal dari luar diri seperti kurangnya dukungan keluarga, dukungan masyarakat, dukungan kelompok/teman sebaya, dan lain-lain. Waktu dilihat sebagai dimensi kapan stresor mulai terjadi dan berapa lama terpapar stressor sehingga menyebabkan munculnya gejala. Lama dan jumlah stresor yaitu terkait dengan sejak kapan, sudah berapa lama, berapa kali kejadiannya (frekuensi) serta jumlah stresor (Stuart, 2009).
Saat pertama kali terkena masalah, maka penanganannya juga memerlukan suatu upaya yang lebih intensif dengan tujuan untuk pencegahan primer. Frekuensi dan jumlah stresor juga mempengaruhi individu, bila frekuensi dan jumlah stresor lebih sedikit juga akan memerlukan penanganan yang berbeda dibandingkan dengan yang mempunyai frekuensi dan jumlah stresor lebih banyak. Berbagai penyebab/stressor di atas, yang meliputi stressor predisposisi dan stressor presipitasi yang dialami oleh klien halusinasi akan memunculkan beberapa respon. Respon tersebut merupakan pikiran, sikap, tanggapan, perasaan dan perilaku yang ditunjukkan pada klien halusinasi terhadap kejadian yang dialami.

2.3     Rentang Respon Neurobiologi
Rentang respon neurobiologi (Stuart & Larai, 2005) :
  Adaptif                                                                              Mal adaptif
Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten
dengan pengalaman
Perilaku sesuai
Hubungan social positif
Kadang pikiran terganggu
Ilusi
Emosi berlebihan/kurang

Perilaku yang tidak bisa
Menarik diri
Gangguan proses pikir/delusi
Halusinasi
Tidak mampu mengalami emosi
Perilaku tidak terorganisir
Isolasi social

2.3.1        Respon Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut, respon adaptif:
1.      Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
2.      Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
3.      Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman.
4.      Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran.
5.      Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan.




2.3.2        Respon Psikososial
   Respon psikosial meliputi:
1.      Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan.
2.      Ilusi adalah interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indera.
3.      Emosi berlebihan atau berkurang.
4.      Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran.
5.      Menarik diri adalah percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain.

2.3.3       Respon Maladaptif
   Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif meliputi:
1.      Kelainan pikiran adalah keyakianan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertetangan dengan kenyataan sosial.
2.      Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
3.      Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.
4.      Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.
5.      Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif mengancam.

2.4     Fase Halusinasi
2.4.1        Halusinasi terbagi atas beberapa fase menurut Kanine E. (2012) yaitu:
2.4.1.1  Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah, kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.

Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa bersuara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.

2.4.1.2  Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi. Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.

Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan dengan realitas.

2.4.1.3  Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan psikotik.

Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.

Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.
2.4.1.4  Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.

2.5    Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap pasien serta ungkapan pasien. Menurut Keliat, Novianti, Imelisa, Jalil (2014), tanda dan gejala pasein halusinasi adalah sebagai berikut :
Data Objektif
1.      Bicara atau tertawa sendiri
2.      Marah-marah tanpa sebab
3.      Memalingkan muka ke arah telinga seperti mendengar sesuatu
4.      Menutup telinga
5.      Menunjuk ke arah tertentu
6.      Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas
7.      Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu
8.      Menutup hidung
9.      Sering meludah
10.  Muntah
11.  Menggaruk-garuk permukaan kulit


Data Subjektif : Pasien mengatakan :
  1. Mendengar suara-suara atau kegaduhan
  2. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
  3. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
  4. Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster
  5. Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau menyenangkan
  6. Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
  7. Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
  8. Mengatakan sering mendengar sesuatu pada waktu tertentu saaat sedang sendirian
  9. Mengatakan sering mengikuti isi perintah halusinasi

2.6    Komplikasi
Halusinasi dapat menjadi suatu alasan mengapa klien melakukan tindakan perilaku kekerasan karena suara-suara yang memberinya perintah sehingga rentan melakukan perilaku yang tidak adaptif. Perilaku kekerasan yang timbul pada klien skizofrenia diawali dengan adanya perasaan tidak berharga, takut dan ditolak oleh lingkungan sehingga individu akan menyingkir dari hubungan interpersonal dengan orang lain (Stuart, 2009).
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan masalah utama gangguan sensori persepsi: halusinasi, antara lain: resiko prilaku kekerasan, harga diri rendah dan isolasi sosial.

2.7    Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.7.1      Pengkajian Keperawatan
Menurut Stuart (2009). Bahwa faktor-faktor terjadinya halusinasi meliputi:
2.7.1.1  Faktor predisposisi
Faktor predisposisi atau faktor yang mendukung terjadinya halusinasi menurut Stuart (2007) adalah :

a.         Faktor biologis
Pada keluarga yang melibatkan anak kembar dan anak yang diadopsi menunjukkan peran genetik pada schizophrenia.Kembar identik yang dibesarkan secara terpisah mempunyai angka kejadian schizophrenia lebih tinggi dari pada saudara sekandung yang dibesarkan secara terpisah.
b.         Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang berakhir dengan gangguan orientasi realita.
c.         Faktor sosial budaya
Stress yang menumpuk awitan schizophrenia dan gangguan psikotik lain, tetapi tidak diyakini sebagai penyebab utama gangguan.

2.7.1.2  Faktor presipitasi
Faktor presipitasi atau faktor pencetus halusinasi menurut Stuart (2009) adalah:
a.       Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis maladaptif adalah gangguan dalam komunikasi dan putaran umpan balik otak dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus
b.       Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang ditentukan secara biologis berinteraksi dengan stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.
c.       Stres sosial / budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat apabila terjadi penurunan stabilitas keluarga, terpisahnya dengan orang terpenting atau disingkirkan dari kelompok.


d.      Faktor psikologik
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah dapat menimbulkan perkembangan gangguan sensori persepsi halusinasi.
e.       Mekanisme koping
Menurut Stuart (2009) perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi pasien dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respons neurobiologis maladaptif meliputi : regresi, berhunbungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengatasi ansietas, yang menyisakan sedikit energi untuk aktivitas sehari-hari. Proyeksi, sebagai upaya untuk menejlaskan kerancuan persepsi dan menarik diri.
f.        Sumber koping
Menurut Stuart (2009) sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman tentang pengaruh gangguan otak pada perilaku. Orang tua harus secara aktif mendidik anak–anak dan dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan. Disumber keluarga dapat pengetahuan tentang penyakit, finensial yang cukup, faktor ketersediaan waktu dan tenaga serta kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.
g.       Perilaku halusinasi
Menurut Towsend (2009), batasan karakteristik halusinasi yaitu bicara teratawa sendiri, bersikap seperti memdengar sesuatu, berhenti bicara ditengah – tengah kalimat untuk mendengar sesuatu, disorientasi, pembicaraan kacau dan merusak diri sendiri, orang lain serta lingkungan.

2.7.2      Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA (2009-2011) diagnosa keperawatan utama pada klien dengan prilaku halusinasi adalah Gangguan sensori persepsi: Halusinasi (pendengaran, penglihatan, pengecapan, perabaan dan penciuman). Sedangkan diagnosa keperawatan terkait lainnya adalah Isolasi social dan Resiko menciderai diri sendiri, lingkungan dan orang lain.

2.7.2.1  Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang diberikan pada klien tidak hanya berfokus pada masalah halusinasi sebagai diagnose penyerta lain. Hal ini dikarenakan tindakan yang dilakukan saling berkontribusi terhadap tujuan akhir yang akan dicapai. Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan diagnose gangguan persepsi sensori halusinasi meliputi pemberian tindakan keperawatan berupa terapi generalis individu yaitu (Kanine, E., 2012) :
a.       Melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik,
b.      Patuh minum obat secara teratur.
c.       Melatih bercakap-cakap dengan orang lain,
d.      Menyusun jadwal kegiatan dan dengan aktifitas
e.       Terapi kelompok terkait terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi.

Rencana tindakan pada keluarga (Keliat, dkk. 2014) adalah
a.       Diskusikan masalah yang dihadap keluarga dalam merawat pasien
b.      Berikan penjelasan meliputi : pengertian halusinasi, proses terjadinya halusinasi, jenis halusinasi yang dialami, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi.
c.       Jelaskan dan latih cara merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi : menghardik, minum obat, bercakap-cakap, melakukan aktivitas.
d.      Diskusikan cara menciptakan lingkungan yang dapat mencegah terjadinya halusinasi.
e.       Diskusikan tanda dan gejala kekambuhan
f.       Diskusikan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk follow up anggota keluarga dengan halusinasi.


2.7.2.2  Penatalaksanaan Medis
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang paling sering terjadi pada gangguan Skizofrenia. Dimana Skizofrenia merupakan jenis psikosis, adapun tindakan penatalaksanaan dilakukan dengan berbagai terapi yaitu dengan:
a.         Psikofarmakologis
Obat sangat penting dalam pengobatan skizofrenia, karena obat dapat membantu pasien skizofrenia untuk meminimalkan gejala perilaku kekerasan, halusinasi, dan harga diri rendah. Sehingga pasien skizofrenia harus patuh minum obat secara teratur dan mau mengikuti perawatan (Pardede, Keliat, Wardani, 2013)
1)                Haloperidol (HLD)
Obat yang dianggap sangat efektif dalam pengelolaan hiperaktivitas, gelisah, agresif, waham, dan halusinasi.
2)                Chlorpromazine (CPZ)
Obat yang digunakan untuk gangguan psikosis yang terkait skizofrenia dan gangguan perilaku yang tidak terkontrol
3)                Trihexilpenidyl (THP)
Obat yang digunakan untuk mengobati semua jenis parkinson dan pengendalian gejala ekstrapiramidal akibat terapi obat.

Dosis
a)      Haloperidol 3x5 mg (tiap 8 jam) intra muscular.
b)      Clorpromazin 25-50 mg diberikan intra muscular setiap 6-8 jam sampai keadaan akut teratasi.

Dalam keadaan agitasi dan hiperaktif diberikan tablet:
a)    Haloperidol 2x1,5 – 2,5 mg per hari.
b)   Klorpromazin 2x100 mg per hari
c)    Triheksifenidil 2x2 mg per hari

Dalam keadaan fase kronis diberikan tablet:
d)   Haloperidol 2x0,5 – 1 mg perhari
e)    Klorpromazin 1x50 mg sehari (malam)
f)    Triheksifenidil 1-2x2 mg sehari
g)   Psikosomatik
Terapi kejang listrik (Electro Compulsive Therapy), yaitu suatu terapi fisik atau suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artifisial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektroda yang dipasang pada satu atau dua temples pada pelipis. Jumlah tindakan yang dilakukan merupakan rangkaian yang bervariasi pada setiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respon terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan. Pada pasien Skizofrenia biasanya diberikan 30 kali. ECT biasanya diberikan 3 kali seminggu walaupun biasanya diberikan jarang atau lebih sering. Indikasi penggunaan obat: penyakit depresi berat yang tidak berespon terhadap obat, gangguan bipolar di mana pasien sudah tidak berespon lagi terhadap obat dan pasien dengan bunuh diri akut yang sudah lama tidak mendapatkan pertolongan.
h)   Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif lama, juga merupakan bagian penting dalam proses terapeutik. Upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan terapeutik, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaan secara verbal, bersikap ramah, sopan, dan jujur terhadap klien.

2.7.2.3  Prinsip Keperawatan
Menetapkan  hubungan terapeutik, kontak sering dan singkat secara bertahap, peduli, empati, jujur, menepati janji dan memenuhi kebutuhan dasar klien. Pada umumnya melindungi dari perilaku yang membahayakan, tidak membenarkan ataupun menyalahkan halusinasi klien, melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan asuhan keperawatan dan mempertahankan perilaku keselarasan verbal dan nonverbal.


2.7.2.4  Pelaksanaan Keperawatan
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana, hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan (Dalami, 2009). Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri, apakah kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan, dinilai kembali apakah aman bagi klien. Setelah semuanya tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.

Adapun pelaksanaan tindakan keperawatan jiwa dilakukan berdasarkan Strategi Pelaksanaan (SP) yang sesuai dengan masing-masing masalah utama. Pada masalah gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran, terdapat 2 jenis SP, yaitu SP Klien dan SP Keluarga.

SP klien terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi halusinasi “jenis, isi, waktu, frekuensi, situasi, perasaan dan respon halusinasi”, mengajarkan cara menghardik, memasukan cara menghardik ke dalam jadwal; SP 2 (mengevaluasi SP 1, mengajarkan cara minum obat secara teratur, memasukan ke dalam jadwal);

SP 3 (mengevaluasi SP 1 dan SP 2, menganjurkan klien untuk mencari teman bicara); SP 4 (mengevaluasi SP 1, SP 2, dan SP 3, melakukan kegiatan terjadwal).

SP keluarga terbagi menjadi SP 1 (membina hubungan saling percaya, mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien, menjelaskan pengertian, tanda dan gejala helusinasi, jenis halusinasi yang dialami klien beserta proses terjadinya, menjelaskan cara merawat pasien halusinasi); SP 2 (melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan halusinasi, melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien halusinasi); SP 3 (membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planing), menjelaskan follow up pasien setelah pulang).  Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan klien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta klien yang diharapkan, dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan serta respon klien.

2.7.2.5  Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien (Dalami, 2009). Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan, evaluasi dapat dibagi dua jenis yaitu: evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai melaksanakan tindakan. Evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan.

Evaluasi keperawatan yang diharapkan pada pasien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran adalah: tidak terjadi perilaku kekerasan, klien dapat membina hubungan saling percaya, klien dapat mengenal halusinasinya, klien dapat mengontrol halusinasinya, klien mendapatkan dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya, klien dapat menggunakan obat dengan baik dan benar.







BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1  IDENTITAS KLIEN
Inisial                                        : Tn. J
Ruang Rawat                            : Sinabung
MR No                                      : 02.30.80
Tanggal Masuk RS                   : 29 Oktober 2016
Tanggal Pengkajian                   : 9 Desember 2016
Umur                                         : 43 Tahun
Agama                                      : Kristen Protestan
Informan                                   : Klien dan Status Klien

3.2  ALASAN MASUK RUMAH SAKIT :
Klien Awalnya marah-marah tanpa sebbab, suka menyendiri, melamun, sering bicara sendiri, mondar mandir, pergi dari rumah, mendengar suara-suara tanpa wujud, bicaranya ngawur, senyum-senyum sendiri, dan sering mengarahkan telinganya ke tempat-tempat tertentu.

3.3  FAKTOR PREDISPOSISI
Klien pernah mengalami gangguan jiwa sejak 19 tahun yang lalu, terakhir klien dirawat 2 bulan yang lalu di RSJD Prof. M. Ildrem Medan. Klien tidak mau minum obat secara teratur di rumah dan tidak melakukan  kontrol rutin ke RSJ sehingga timbul gejala seperti di atas dan dan kakak klien membawa nya kembali ke Rumah Sakit Jiwa.
Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran

3.4  FISIK
Tanda vital          
TD : 120/80 mmHg, N : 80 x/I, S : 37,5 0 C, P :  20 x/i
TB : 174 cm,  BB : 63 Kg
Klien tidak memiliki keluhan fisik, klien merasa badannya sehat-sehat saja..
Masalah Keperawatan: Tidak ada.

3.5  PSIKOSOSIAL
3.5.1      Genogram
 

                                                                                                       
                
                                                                                                                         
                                                             
 






Keterangan
                    : Satu Rumah
                    : Laki – Laki
                    : Wanita
                    : Laki – Laki Yang Meninggal
                    : Perempuan Yang Meninggal
                    : Klien

Berdasarkan genogram di atas, dapat dilihat bahwa klien merupakan anak ke 1 dari 4 bersaudara.

3.5.2        Konsep diri
1.      Gambaran diri : Klien menyukai keseluruhan bagian tubuhnya.
2.      Identitas Diri : Klien anak ke 1 dari 4 bersaudara
3.      Peran Diri : klien berperan sebagai anak yang sudah dewasa tetapi tidak mampu melakukan perannya
4.      Ideal diri : Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan berkumpul dengan keluarga
5.      Harga diri : Klien merasa tidak dihargai oleh keluarga karena berada di RSj
Masalah Keperawatan: Gangguan Konsep Diri : Harga diri rendah

3.5.3    Hubungan Sosial
1.      Orang yang berarti : istri dan anaknya
2.      Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat : Sebelum dirawat
jarang ikut kegiatan-kegaitan di masyarakat, dan jarang mengikuti kegiatan ibadah
3.      Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: Klien malu berhubungan  dengan orang lain.

Masalah keperawatan: Isolasi Sosial

3.5.4   Spiritual
1.    Nilai dan keyakinan : Klien menganut agama kristen. Klien menganggap bahwa seharusnya gangguan jiwa tidak perlu dijauhi.
2.    Kegiatan ibadah : Klien selalu berdoa sebelum tidur dan bangun pagi di RSJD Provsu Medan

3.6      STATUS MENTAL
1.    Klien berpenampilan tidak rapi
Masalah Keperawatan: Defisit Perawatan Diri
2.    Klien menjawab setiap pertanyaan sesuai dengan yang  ditanyakan
Masalah Keperawatan: Tidak Ada  
3.    Klien merasa sedih dan putus asa karena tidak kunjung  sembuh
Masalah Keperawatan: Harga diri rendah
4.    Klien masih labil, mudah melamun, dan senyum-senyum sendiri
Masalah Keperawatan: Isolasi Sosial Menarik Diri
5.    Selama proses interaksi, klien cukup kooperatif serta kontak mata baik antara perawat-klien
Masalah Keperawatan: Tidak Ada
6.    Klien mengalami halusinasi pendengaran yaitu mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk mengantukkan kepala, timbul pada saat sendiri atau melamun dan tidak menentu, suara timbul 5-10 kali sehari, gelisah bila mendengar suara tersebut, mondar-mandir dan takut.
Masalah Keperawatan: Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran
7.    Klien mengutarakan pendapat dengan baik
Masalah keperawatan: Tidak Ada
8.    Klien menyampaikan isi pikir sesuai dengan pertanyaan
Masalah keperawatan: Tidak Ada   
9.      Klien dalam keadaan sadar (Composmentis) serta  memiliki orientasi yang baik terkait orang, tempat, waktu.
Masalah Keperawatan: Tidak Ada
10.  Klien mampu mengingat hal-hal yang terjadi di masa lalu
Masalah Keperawatan: Tidak Ada
11.  Klien masih dapat berkonsentrasi dalam hitungan sederhana
Masalah Keperawatan : Tidak Ada
12.  Klien masih mampu membina penilaian sederhana
Masalah Keperawatan: Tidak Ada
13.  Daya tilik diri yakni klien menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa halusinasi dan ingin segera sembuh
Masalah Keperawatan: Tidak Ada



3.7      KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1.    Klien mampu melakukan kegiatan makan tanpa bantuan minimal, klien makan 3x dalam sehari.
2.         Klien melakukan eliminasi BAB/BAK secara mandiri
3.         Klien mandi 2x sehari  secara mandiri
4.    Klien susah tidur
5.         Klien mengkonsumsi obat  dengan pantauan perawat
6.    Klien masih memerlukan perawatan lanjutan dan perawatan pendukung untuk proses pemulihan klien
7.    Klien menjaga kebresihan tempat tidur dan lingkungan sekitar, mencuci pakaian secara mandiri
8.    Klien tidak memiliki kegiatan di luar rumah karena klien dalam proses perawatan.

3.8    MEKANISME KOPING
Klien masih ingin berbicara dengan orang lain
Masalah Keperawatan: Tidak Ada

3.9    MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Klien tidak memiliki masalah dalam berhubungan dengan lingkungan terhadap dirinya yang dirawat di RSJ.
Masalah Keperawatan: Tidak Ada

3.10  PENGETAHUAN KURANG TENTANG
Klien mengetahui bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa
Masalalh Keperawatan: Tidak Ada

3.11  ASPEK MEDIK
Diagnosa Medik : Skizofrenia Paranoid episode Berulang
Terapi Medik        :  Haloperidole 2 x 1
                                 CPZ 1 x 1
                                 Heximer 1x1
3.12  ANALISA DATA
No
Data
Masalah Keperawatan
1
DS:
-          Klien merasa tidak berguna karena tidak dapat membantu keluarga.
-          Klien merasa minder karena penyakit yang di alaminya
-          Klien sedih dan putus asa karena penyakitnya tak kunjung sembuh.
-          Klien sering melamun, senyum-senyum sendiri karna memikirkan istri dan anak-anaknya
DO:
-            Klien merasa keluarganya tidak menyayanginya karena klien sekarang berada diRSJ

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah kronis
2
DS:
-          Keluarga klien mengatakan bahwa klien sering berteriak – teriak di rumah
-          Klien sering mendengarkan suara – suara tanpa wajah yang menyuruhnya untuk meminum racun dan mengantukkan kepalanya
-          Klien mengatakan suara –suara tersebut muncul 1 – 3 kali/ hari, muncul pada saat pagi,siang dan malam hari
-          Klien merasa gelisah jika mendengar suara tersebut.
DO:
-          Klien sering marah – marah, mondar – mandir, berbicara sendiri, berbicara ngawur, sering senyum-senyum sendiri, sering mengarahkan telinganya ke tempat – tempat tertentu.

Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran
4.
Do:
-          klien terlihat mengantukkan kepalanya ke dinding

Ds:
-          klien mengatakan sering mengantukkan kepalanya jika mendengar suara-suara yang menyuruh mengantukkan kepala.
Risiko Perilaku Kekerasan
5.
Do:
-          Klien gelisah, dan suka menyendiri

Ds:
-          Klien mengatakan jika ada masalah  ia memilih menghindar, atau ia pendam sendiri dan tidak mau berbicara dengan orang lain.
Koping individu tidak efektif
6.
Do:
Ds:
-          Klien pernah masuk RSJ dua tahun yang lalu dan sembuh, tetapipengobatan di rumah tidak berhasil karan keluarga tidak membawa Tn”F” untuk kontrol di RSJ
Regimen teraupetik keluarga in efektif


3.13  POHON MASALAH

Risiko Perilaku Kekerasan

Halusinasi Pendengaran
 
     
 


Gg. Konsep diri: Harga Diri Rendah
           

 
     

Koping indifidu in efektif
 
Regimen teraupetik keluarga  in efektif
 
 











3.14  DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.         Risiko perilaku kekerasan
2.         Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran
3.         Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
4.         Koping indifidu in efektif
5.         Regimen teraupetik keluarga in efektif

3.15  PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan persepsi Sensorik : Halusinasi pendengaran

3.16  INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Diagnosa
Intervensi
1.
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran d/d:




DO:
-    Klien sering marah – marah, mondar – mandir, beerbicara sendiri, berbicara ngawur, sering senyum-senyum sendiri, sering mengarahkan telinganya ke tempat – tempat tertentu.
DS:
-    Keluarga klien mengatakan bahwa klien sering berteriak – teriak di rumah
-    Klien sering mendengarkan suara – suara tanpa wajah yang menyuruhnya untuk meminum racun
-    Klien mengatakan suara – suara tersebut muncul 1 – 4 kali/ hari, muncul pada saat melamun
-          Klien merasa gelisah jika mendengar suara tersebut.
SP 1:
1. Identifikasi isi, waktu terjadi, situasi pencetus, dan respon terhadap halusinasi
2. Jelaskan dan Latih teknik menghardik

SP 2:
Kontrol Halusinasi klien dengan minum obat secara teratur



SP 3:
Ajarkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap – cakap

SP 4:
Ajarkan cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan terjadwal
2.
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah d/d:

DO:
-            Klien merasa keluarganya tidak menyayanginya karena klien sekarang berada diRSJ
DS:
-    Klien merasa tidak berguna karena tidak dapat membantu keluarga.
-    Klien merasa minder karena penyakit yang di alaminya
-    Klien sedih dan putus asa karena penyakitnya tak kunjung sembuh.
SP 1:
Identifikasi Kemampuan dan aspek yang di miliki klien

SP 2:
Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih pertama

SP 3:
Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih kedua
SP 4:
Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih ketiga











3.17  TINDAKAN KEPERAWATAN

WAKTU
KASUS
EVALUASI
Sabtu, 10 Desember 2016
Jam 10.00wib
1.      Data
·       Klien mengatakan mendengar suara-suara yang isinya“antukkan kepalamu kedinding dan kamu masuk surga”. Klien mengatakan Suara-suara itu muncul waktu malam hari, siang hari, dan saat ingin tidur. Frekuensinya5x. Suara tersebut datang setiap hari.
·       Klien tampak bicara-bicara sendiri. Mulut klien tampak komat-kamit.
2.      Diagnosa Keperawatan
Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
3.      Intervensi Keperawatan
SP 1
a.       Identifikasi jenis halusinasi
b.       Identifikasi isi halusinasi
c.        Identifikasi waktu halusinasi
d.       Identifikasi frekuensi halusinasi
e.        Identifikasi situasi yang menyebabkan halusinasi
f.        Identifikasi respon klien terhadap halusinasi
g.        Latih cara mengontrol halusinasi dengan menghardik
4.      Implementasi Keperawatan
a.       Mengidentifikasi jenis halusinasi
b.       Mengidentifikasi isi halusinasi
c.        Mengidentifikasi waktu halusinasi
d.       Mengidentifikasi frekuensi halusinasi
e.        Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan halusinasi
f.        Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi
g.        Melatih cara mengontrol halusinasi dengan menghardik

Rencana Tindak Lanjut : SP 2 (Latih cara minum obat secara teratur)

S : Klien mengatakan bahwa dirinya mendengar suara-suara yang mengatakan “antukkan kepalamu kedinding dan kamu masuk surga”.  suara tersebut datang pada malam hari saat sebelum tidur, pagi,siang, suara tersebut datang setiap hari, dan saat suara itu datang klien merasa ingin marah kepada saudara perempuannya.

O : - Klien nampak komat-kamit dan bicara-bicara sendiri.
- Klien mempraktekkan cara menghardik halusinasi

A : Halusinasi pendengaran (+)

P : Latihan menghardik halusinasi 3 kali sehari.
Selasa,13 Desember 2016
Jam 11.00 wib
1.      Data
·       Klien mengatakan  mendengar suara-suara tersebut namun sudah bisa mengendalikan suara-suara tersebut dengan cara menghardik dan bercakap-cakap dengan orang lain. Klien juga mau melakukan aktivitas sesuai dengan jadwal yang sudah disusun
·       Klien masih nampak berbicara sendiri sesekali
2.      Diagnosa Keperawatan
Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran

3.      Intervensi Keperawatan
SP 2
Latih cara minum obat dengan prinsip 6 benar
4.      Implementasi Keperawatan
Melatih cara minum obat dengan prinsip 6 benar

Rencana Tindak Lanjut : SP 3
(mengendalikan  halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain)

S : Klien mengatakan bahwa obat yang digunakan nya adalah risperidon dan clozapin.

O : Klien mampu minum obat 2 kali dalam sehari

A : Halusinasi pendengaran berkurang

P : Intervensi tetap dilakukan
-Latihan menghardik halusinasi 3 kali sehari
-Latihan minum obat dengan prinsip 6 benar 2 kali sehari
Rabu, 14 Desember 2016
Jam 12.30wib
1.      Data
·               Klien mengatakan mendengar suara-suara yang isinya“matilah kau”
·  KlienmengatakanSuara-suaraitumunculwaktumalamhari, sianghari, dansaatingintidur. Frekuensinya5x
·   Suara tersebut datang setiap hari.
·       Klien tampak bicara-bicara sendiri. Mulut klien tampak komat-kamit.
2.      Diagnosa Keperawatan
Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
3.      Intervensi Keperawatan
SP 3
Latih  mengendalikan halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain
4.      Implementasi Keperawatan
Melatih mengendalikan halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain

Rencana Tindak Lanjut : SP 4
(Mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di rumah sakit)

S :   Klien mengatakan bahwa suara-suara tersebut masih datang, klien mengatakan dia merasa senang bisa bercakap-cakap dengan orang lain

O : - Klien nampak sesekali berbicara sendiri dan menutup kupingnya (menghardik halusinasi)
- Klien  mempraktekkan cara bercakap-cakap dengan orang lain

A : Halusinasi pendengaran (+)

P : Intervensi dilanjutkan
-Latihan menghardik halusinasi 3 kali sehari
-Latihan minum obat dengan prinsip 6 benar 2 kali sehari
- Latihan bercakap-cakap dengan orang lain 3 kali sehari
Senin,30 September 2016
Jam 10.00 wib
1.      Data
·       Klien mengatakan masih mendengar suara-suara tersebut namun sudah bisa mengendalikan suara-suara tersebut dengan cara menghardik dan bercakap-cakap dengan orang lain. Klien mengatakan mau melamun karena tidak ada kegiatan.
·       Klien tampak bicara-bicara sendiri. Mulut klien tampak komat-kamit.
2.      Diagnosa Keperawatan
Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
3.      Intervensi Keperawatan
SP 4
Latih mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di rumah sakit
4.      Implementasi Keperawatan
Melatih mengendalikan  halusinasi dengan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan di rumah sakit

Rencana Tindak Lanjut : Evaluasi SP 1 – SP 4

S :  Klien mengatakan biasa memasang seprei di kamarnya, sesekali mau menyapu dan mengepel kamarnya.

O : Klien mampu melakukan kegiatan yang biasa dilakukannya di rumah sakit dan kegiatan tersebut dijadwal

A : Halusinasi pendengaran (+)

P : Tindakan dilanjutkan
-Latihan menghardik halusinasi 3 kali sehari
-Latihan minum obat dengan prinsip 6 benar 2 kali sehari
-Latihan bercakap-cakap dengan orang lain 3 kali sehari
-Melakukan aktivitas terjadwal setiap hari


BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawat kepada Tn.F  dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran di ruang Dolok Martimbang Merapi RSJD PROVSU, maka penulis pada BAB ini akan membahasan kesenjangan antara teoritis dengan tinjauan kasus. Pembahasan dimulai melalui tahapan proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keparawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

4.1  Pengkajian
Pada pembahasan ini diuraikan tentang hasil pelaksanaan tindakan keperawatan dengan pemberian terapi generalis pada klien halusinasi pendengaran.  Pembahasan menyangkut analisis hasil penerapan terapi generalis terhadap masalah keperawatan halusinasi pendengaran. Tindakan keperawatan didasarkan pada pengkajian dan diagnosis keperawatan yang terdiri dari tindakan generalis yang dijabarkan sebagai berikut.
Tahap pengkajian pada klien halusinasi dilakukan interaksi perawat-klien melalui komunikasi terapeutik untuk mengumpulkan data dan informasi tentang status kesehatan klien. Pada tahap ini terjadi proses interaksi manusia, komunikasi, transaksi dengan peran yang ada pada perawat sebagaimana konsep tentang manusia yang bisa dipengaruhi dengan adanya proses interpersonal.
Selama pengkajian dilakukan pengumpulan data dari beberapa sumber, yaitu dari pasien dan tenaga kesehatan di ruangan. Penulis mendapat sedikit kesulitan dalam menyimpulkan data karena keluarga pasien jarang mengunjungi pasien di rumah sakit jiwa. Maka penulis melakukan pendekatan kepada pasien melalui komunikasi terapeutik yang lebih terbuka membantu pasien untuk memecahkan perasaannya dan juga melakukan observasi kepada pasien.
Adapun upaya tersebut yaitu:
1.      Melakukan pendekatan dan membina hubungan saling percaya diri pada klien agar klien lebih terbuka dan lebih percaya dengan menggunakan perasaan.
2.      Mengadakan pengkajian klien dengan wawancara
3.      Mengadakan pengkajian dengan cara membaca status, melihat buku rawatan dan bertanya kepada pegawai ruangan gunung sitoli.
Dalam pengkajian ini, penulis menemukan kesenjangan karena ditemukan. Pada kasus Tn. J , klien mendengar suara-suara yang menyuruh meminum racun, gelisah, , mondar-mandir, tampak tegang, putus asa, sedih dan lain-lain. Gejala gejala yang muncul tersebut tidak semua mencakup dengan yang ada di teori klinis dari halusnasi (Keliat, dkk.2014). Akan tetapi terdapat faktor predisposisi maupun presipitasi yang menyebabkan kekambuhan penyakit yang dialami oleh Tn. J.
Tindakan keperawatan terapi generalis yang dilakukan pada Tn. J adalah strategi pertemuan pertama sampai pertemuan empat. Strategi pertemuan pertama meliputi mengidentifikasi isi, frekuensi, jenis, dan respon klien terhadap halusinasi serta melatih cara menghardik halusinasi. Strategi pertemuan kedua yang dilakukan pada Tn. J meliputi melatih cara mengendalikan dengan bercakap-cakap kepada orang lain. Strategi pertemuan yang ketiga adalah menyusun jadwal kegiatan bersama-sama dengan klien. Strategi pertemuan keempat adalah mengajarkan dan melatih Tn. J cara minum obat yang teratur.

4.2 Diagnosa Keperawatan
Pada Teori Halusinasi (NANDA, 2009-2011), diagnosa keperawatan yang muncul sebanyak 4 diagnosa keperawatan yang meliputi:  
1.      Harga diri rendah
2.      Isolasi social
3.      Halusinasi
4.      Risiko perilaku kekerasan
Sedangkan pada kasus Tn.J  ditemukan enam diagnosa keperawatan yang muncul yang meliputi: harga diri rendah, isolasi sosial, halusinasi, risiko perilaku kekerasan, koping indifidu inefektif, regimen teraupetik inefektif. Dari hal tersebut di atas dapat dilihat terjadi kesamaan antara teori dan kasus. Dimana  semua diagnosa pada teori muncul pada kasus Tn. J

4.3    Implementasi
Pada tahap implementasi, penulis hanya mengatasi 2 masalah keperawatan yakni: diagnosa keperawatan halusinasi pendengaran dan harga diri rendah. Pada diagnosa keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran dilakukan strategi pertemuan yaitu mengidentifikasi isi, frekuensi, waktu terjadi, perasaan, respon halusinasi. Kemudian strategi pertemuan yang dilakukan yaitu latihan mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Strategi pertemuan yang kedua yaitu anjurkan minum obat secara teratur, strategi pertemuan yang ke tiga yaitu latihan dengan cara bercakap-cakap pada saat aktivitas dan latihan strategi pertemuan ke empat yaitu melatih klien melakukan semua jadwal kegiatan.
Pada diagnosa keperawatan harga diri rendah strategi pertemuan yang dilakukan yaitu mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien. Strategi pertemuan yang kedua yaitu membantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan. Strategi pertemuan yang ketiga yaitu membantu klien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih. Strategi pertemuan yang keempat yaitu latih kemampuan yang dipilih klien.
Untuk melakukan implementsi pada keluarga, pada tahap-tahap diagnosa tidak dapat dilaksanakan karena penulis tidak pernah berjumpa dengan keluarga klien (keluarga tidak pernah berkunjung).

4.4    Evaluasi
Pada tinajauan teoritis evaluasi yang diharapkan adalah: Pasien mempercayai perawat sebagai terapis, pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada objeknya, dapat mengidentifikaasi halusinasi, dapat mengendalikan halusinasi melalui mengahrdik, latihan bercakap-cakap, melakukan aktivitas serta menggunakan obat secara teratur.
Pada tinjauan kasus evaluasi yang didapatkan adalah: Klien mampu mengontrol dan mengidentifikasi halusinasi, Klien mampu melakukan latihan bercakap-cakap dengan orang lain, Klien mampu melaksanakan jadwal yang telah dibuat bersama, Klien mampu memahami penggunaan obat yang benar: 5 benar. Selain itu, dapat dilihat dari setiap evalusi yang dilakukan pada asuhan keperawatan, dimana terjadi penurunan gejala yang dialami oleh Tn. J dari hari kehari selama proses interaksi.
BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan di atas, maka penulis dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pengkajian dilakukan secara langsung pada klien dan juga dengan menjadikan status klien sebagai sumber informasi yang dapat mendukung data-data pengkajian. Selama proses pengkajian, perawat mengunakan komunikasi terapeutik serta membina hubungan saling percaya antara perawat-klien. Pada kasus Tn. J, diperoleh bahwa klien mengalami gejala-gejala halusinasi seperti mendengar suara-suara, gelisah, sulit tidur, tampak tegang, mondar-mandir,tidak dapat mempertahankan kontak mata, sedih, malu, putus asa, menarik diri, mudah marah dan lain-lain. Faktor predisposisi pada Tn.J  yaitu pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya serta memiliki riwayat mengonsumsi alkohol dan obat terlarang.
2.      Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus Tn. J,:Halusinasi pendengaran, isolasi sosial, koping individu inefektif, regimen teraupetik keluarga inefektif, harga diri rendah dan risiko perilaku kekerasan serta keputusasaan. Tetapi pada pelaksanaannya, penulis fokus pada masalah utama yaitu halusinasi pendengaran.
3.      Perencanaan dan implementasi keperawatan disesuaikan dengan strategi pertemuan pada pasien halusinasi pendengaran dan harga diri.
4.      Evaluasi diperoleh bahwa terjadi peningkatan kemampuan klien dalam mengendalikan halusinasi yang dialami serta dampak pada penurunan gejala halusinasi pendengaran yang dialami.





5.2  Saran
1.      Bagi Perawat
Diharapkan dapat menerapkan komunikasi terapeutik dalam pelaksanaan strategi pertemuan 1-4 pada klien dengan halusinasi sehingga dapat mempercepat proses pemulihan klien.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Dapat meningkatkan bimbingan klinik kepada mahasiswa profesi ners sehingga mahasiswa semakin ampu dalam elakukan asuhan keperawatan pada pasien-pasien yang mengalami halusinasi pendengaran
3.      Bagi Rumah Sakit
Laporan ini diharapkan dapat menjadai acuan dan referensi dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi pendengaran.



1 komentar:

Unknown mengatakan...

Daftar pustakanya ga ada ya mba

Posting Komentar