Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 27 September 2017

STANDART OPERASIONAL PROSEDUR LATIHAN RANGE OF MOTIONS PASIF

0 komentar

STANDART OPERASIONAL PROSEDUR
LATIHAN RANGE OF MOTIONS PASIF
 
 
NO
TINDAKAN
Dilakukan
Tidak Dilakukan
1.
Pengertian :
Range of Motion (ROM) adalah tindakan/latihan otot atau persendian yang diberikan kepada pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena penyakit, diabilitas, atau trauma.


2.
Tujuan :
1.      Untuk memelihara fungsi dan mencegah kemunduran.
2.      Untuk memelihara dan meningkatkan pergerakan sendi.
3.      Untuk merangsang sirkulasi darah.
4.      Untuk mencegah kelainan bentuk (deformitas).
5.      Untuk memelihara dan meningkatkan kekuatan otot


3.
Persiapan Pasien :
1.      Memberikan salam, memperkenalkan diri, dan mengidentifikasi pasiendengan memeriksa identitas pasien secara cermat.
2.      Menjelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan, memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya dan menjawab seluruh pertanyaan pasien.
3.      Meminta pengunjung untuk meninggalkan ruangan, memberi privasi pasien.
4.      Mengatur posisi pasien sehingga merasa aman dan nyaman.



4.
Persiapan Alat :
1.      Handuk kecil
2.      Lotion/ baby oil
3.      Minyak penghangat bila perlu (misal: minyak telon)


5
Cara Bekerja :
1.      Beritahu pasien bahwa tindakan akan segera dimulai
2.      Tinggikan tempat tidur sampai ketinggian kerja yang nyaman
3.      Periksa alat-alat yang akan digunakan
4.      Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur
5.      Posisikan pasien senyaman mungkin
6.      Cuci tangan dan kenakan sarung tangan




A.    Fleksi Bahu
1.      Tempatkan tangan kiri perawat di atas siku pasien, kemudian tangan kanan memegang tangan pasien.
2.      Angkat tangan ke atas dari sisi tubuh.
3.      Gerakan tangan perlahan-lahan, lemah lembut ke arah kepala sejauh mungkin.
4.      Letakkan tangan di bawah kepala dan tahan untuk mencegah dorongan fleksi, tekuk tangan dan siku.
5.      Angkat kembali lengan ke atas kembali ke posisi semula.
6.      Ulangi latihan lebih kurang sampai 4 kali.




B.     Abduksi dan Adduksi Bahu
1.      Tempatkan tangan kiri perawat di atas siku pasien, tangan kanan memegang tangan pasien.
2.      Pertahankan posisi tersebut, kemudian gerakkan lengan sejauh mungkin dari tubuh dalam keadaan lurus.
3.      Tekuk dan gerakkan lengan segera perlahan ke atas kepala sejauh mungkin.
4.      Kembalikan pada posisi semula.
5.      Ulangi latihan lebih kurang sampai 4 kali.




C.     Rotasi Interna dan Eksterna Bahu
1.      Tempatkan lengan pasien pada titik jauh dari tubuh, bengkokkan siku. Pegang lengan atas, tempatkan pada bantal.
2.      Angkat lengan dan  tangan.
3.       Gerakkan lengan ke bawah dan tangan secara perlahanl-lahan ke belakang sejauh mungkin.
4.      Kembalikan lengan pada posisi semula.
5.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.




D.    Penyilangan Adduksi Bahu
1.      Tempatkan tangan kiri perawat di bawah siku dan tangan lain memegang tangan pasien.
2.      Angkat lengan pasien.
3.      Posisi lengan setinggi bahu, gerakkan tangan menyilang kepala sejauh mungkin.
4.      Kembalikan lengan pada posisi semula.
5.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.




E.     Supinasi dan Pronasi Lengan
1.      Permulaan posisi: pegang tangan pasien dengan kedua tangan, posisi telunjuk pada telapak tangan, kedua ibu jari di punggung tangan.
2.      Tekuk telapak tangan pasien menghadap wajah pasien.
3.      Kemudian tekukkan telapak tangan bagian punggung ke muka pasien.
4.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.




F.      Ekstensi dan Fleksi Pergelangan Tangan dan Jari
1.      Pegang pergelangan tangan pasien dengan satu tangan pasien dan tangan pasien bergengaman dengan tangan perawat.
2.      Tekuk punggung tangan ke belakang sambil mempertahankan posisi jari lurus.
3.      Luruskan tangan.
4.      Tekuk tangan ke depan sambil jari-jari menutup membuat genggaman, kemudian buka tangan.
5.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.



G.    Fleksi dan Ekstensi Ibu Jari
1.      Pegang tangan pasien, tekuk ibu jari ke dalam telapak tangan pasien.
2.      Dorong ibu jari ke belakang pada titik terjauh dari telapak tangan pasien. Ulangi lebih kurang 4 kali.
3.      Gerakan ibu jari pasien memutar/sirkulasi pada satu lingkaran.



H.    Fleksi dan Ekstensi Panggul dan Lutut
1.      Tempatkan salah satu tangan perawat dibawah lutut pasien, tangan lain di atas tumit dan menahan kaki pasien.
2.      Angkat tungkai kaki dan tekukan pada lutut, gerakan tungkai kebelakang sejauh mungkin.
3.      Luruskan lutut di atas permukaan kaki, kembalikan pada posisi semula.
4.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.




I.       Rotasi Interna dan Eksterna Panggul
1.      Tempat satu tangan perawat di bawah lutut pasien, tangan lain di atas tumit kaki pasien.
2.      Angkat tungkai dan tekuk membuat sudut yang besar di atas lutut.
3.      Pegang lutut dan kaki pasien mendorong ke hadapan perawat.
4.      Gerakkan kaki ke posisi semula.
5.      Dorong kaki sejauh mungkin dari perawat, gerakkan ke posisi semula.
6.      Ulangi latihan lebih kurang sampai 4 kali



J.       Abduksi dan Adduksi Panggul
1.      Tempatkan satu tangan perawat di bawah lutut pasien, letakkan tangan lain di bawah tumit.
2.      Pegang tungkai dalam keadaan lurus, kemudian angkat ke atas setinggi 5 cm dari kasur.
3.      Tarik kaki kearah luar, ke hadapan perawat.
4.      Dorong tungkai ke belakang dan kembalikan ke posisi semula.
5.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.




K.    Dorso dan Plantar Fleksi Pergelangan Kaki
1.      Pegang tumit pasien dengan tangan perawat, biarkan istirahat pada tangan perawat.
2.      Tekan lengan perawat pada telapak kaki, gerakkan menghadap tungkai.
3.      Pindahkan tangan perawat pada posisi semula.
4.      Pindahkan tangan  ke ujung kaki dan bagian bawah kaki, dorong kaki ke bawah pada titik maksimal secara bersamaan, kemudian dorong kembali ke atas pada tumit.
5.      Ulangi latihan berikut lebih kurang 4 kali



L.     Eversi dan Inversi Kaki
1.      Putar kaki satu persatu ke arah luar.
2.      Kemudian kembali ke arah dalam.
3.      Ulangi latihan lebih kurang 4 kali.



M.   Ekstensi dan Fleksi Jari-jari Kaki
1.      Mulai dengan menarik ujung jari kaki ke atas.
2.      Ujung-ujung jari kaki di dorong ke bawah.
3.      Ulang latihan lebih kurang 4 kali.



.
6.      Rapihkan pasien ke posisi semula
7.      Beritahu bahwa tindakan sudah selesai
8.      Bereskan alat-alat yang telah digunakan dan melepaskan sarung tangan
9.      Buka kembali tirai atau pintu dan jendela
10.  Kaji respon pasien (subyektif dan obyektif)
11.  Beri reinforcement positif kepada pasien
12.  Buat kontak pertemuan selanjutnya
13.  Akhiri kegiatan dengan baik
14.  Cuci tangan




Read more...

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Ny. A DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKLETAL: ASAM URAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

0 komentar

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Ny. A DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKLETAL: ASAM URAT
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
PULO BRAYAN MEDAN
TAHUN 2016




PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA MEDAN
TAHUN 2016







KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan kasih-Nya, kami dapat menyelesaikan kegiatan pratik di Puskesmas PB II Selayang dan laporan tentang Asuhan Keperawatan Keluarga di Puskesmas PB II Selayang terselesaikan dengan baik.

Laporan kegiatan praktik di Puskesmas PB II Selayang meliputi Asuhan Keperawatan Keluarga pada Keluarga Ny.K dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal : Asam Urat . Dalam penyusunan laporan ini kami banyak mendapat arahan, bimbingan dari berbagai pihak, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.    Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes selaku Ketua Universitas Sari Mutiara Indonesia
2.    Ns.Jano Sinaga,S.Kep, M.Kep, Sp.KMB selaku dekan sekaligus ketua program studi Ners Universitas Sari Mutiara Medan
3.    Dr.Nuraisyah selaku Kepala Puskesmas PB II Selayang dan seluruh staf pegawai Pukesmas PB II Selayang yang telah membimbing kami selama praktik di Puskesmas PB II Selayang.
4.    Cut Anizar, S.Kep, M.Kes  selaku CI yang telah membimbing dan memberi arahan serta masukan dalam penyusunan asuhan keperawatan keluarga
5.    Ns. Normi Sipayung M.Kep Selaku Kordinator Profesi Ners Universitas Sari Mutiara Medan
6.    Ns. Eva Kartika Hasibuan, S.Kep Selaku Kordinator Keperawatan Keluarga.
7.    Ns. Masri Saragih, S. Kep selaku dosen pembimbing k yang telah membimbing dan memberi arahan serta masukan dalam penyusunan asuhan keperawatan keluarga.

Medan,   Maret 2016


Penulis 






BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan tingginya kadar purin didalam darah, kondisi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak orang yang dinyatakan menderita penyakit tersebut. Penyakit asam urat cenderung diderita pada usia yang semakin muda. Penderita paling banyak pada golongan usia 30-50 tahun yang tergolong usia produktif (Krisnatuti & Rina, 2006). Kadar normal asam urat untuk wanita adalah 2,4-5,7 mg/dl dan 3,4-7 mg/dl untuk pria ( Krisnatuti,2008).


Alexander (2010) menyatakan prevalensi asam urat (gout) di Amerika serikat meningkat dua kali lipat dalam populasi lebih dari 75 tahun antara 1990 dan 1999, dari 21 per 1000 menjadi 41 per 1000. Dalam studi kedua, prevalensi asam urat pada populasi orang dewasa Inggris diperkirakan 1,4%, dengan puncak lebih dari 7% pada pria berusia 75 tahun.

Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta, penderita penyakit gout dari tahun ke tahun semakin meningkat dan terjadi kecenderungan diderita pada usia yang semakin muda. Hal ini tebukti dengan hasil rekam medik RSCM pada tahun 1993-1995 mengalami kenaikan yaitu pada tahun 1993 tercatat 18 kasus, pria 13 kasus dan wanita 5 kasus (1 kasus umur 2-25 tahun, 12 kasus umur 30-50 tahu, dan 5 kasus umur >65 tahun). Pada tahun 1995 jumlah kasus yang tercatat adalah 46 kasus, 37 pria dan 9 wanita, 2 kasus umur 2-25tahun, 40 kasus umur 30-50 tahun dan 4 kasus umur > 65 tahun ( Krisnatuti, 1997).

Prevalensi penderita asam urat tertinggi di Indonesia berada pada penduduk di daerah pantai dan yang paling tinggi di daerah Manado – Minaha sebesar 29,2 % pada tahun 2003 dikarenakan kebiasaan atau pola makan ikan dan mengonsumsi alkohol. Alkohol dapat menyebabkan pembuangan asam urat lewat urine berkurang sehingga asam uratnya tetap bertahan di dalam darah (Anonim, 2009).

Penyakit asam urat ditandai oleh gangguan linu-linu, terutama di daerah persendian tulang. Tidak jarang timbul rasa amat nyeri bagi penderitanya. Rasa sakit tersebut diakibatkan adanya radang pada persendian. Radang sendi tersebut ternyata disebabkan oleh penumpukan kristal di daerah persendian. Tingginya kadar asam urat dalam darah juga dapat menyebabkan Gout artritis yang merupakan salah satu jenis rematik. Di Indonesia, gout artritis menduduki urutan kedua terbanyak dari penyakit Osteoartritis. Hasil penelitian sebagian besar penderita gout arthritis mengalami hiperurisemia, yaitu sebesar 65% (Alifiasari, 2011).

 Dampak selanjutnya jika penyakit ini tidak diatasi secara tepat dikhawatirkan dapat menurunkan produktifitas kerja. Salah satu cara mengatasinya, yaitu dengan pengaturan diet. Menu diet diatur agar lebih banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan nukleotida purin rendah. Dengan melakukan program diet yang baik, dapat membantu meringankan gangguan penyakit gout (Krisnatuti & Rina, 2006).

Hasil penelitian dalam studi yang berkembang di Asia menyimpulkan bahwa kejadian peningkatan kadar asam urat dipengaruhi akibat gaya hidup dan diet yang dibawa oleh kemakmuran yang meningkat (Alexander, 2010).

Asupan diet vegetarian seimbang dengan protein hewani dan konten purin disertai asupan cairan yang cukup dengan buah-buahan dan sayuran setelah diteliti dapat mengurangi risiko terserang asam urat dibandingkan dengan orang yang memakan segala jenis makanan (Roswitha, 2003).

Pada prinsipnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk menjaga agar kadar asam urat darah tetap dalam batas normal, disarankan konsumsi makanan dan minuman yang tidak banyak mengandung purin. Tetapi jika  sudah terlanjur mengalami penyakit ini,langkah terpenting adalah semaksimal mungkin mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang kaya akan zat purin. Karena minum obat saja tanpa disertai kepatuhan diet tidak akan membuahkan hasil pengobatan yang baik karena produksi asam urat tetap tinggi (Suarthana, 1998).

Banyak hal yang dapat mempengaruhi kepatuhan seseorang terhadap diet, diantaranya umur seseorang, jenis kelamin, kepribadian, kondisi kesehatan, pengalaman terhadap kesehatan, lingkungan dan pelayanan yang diterima dari fasilitas kesehatan. Lingkungan sangat berperan dalam kepatuhan klien menjalankan diet, jika lingkungan mendukung penderita asam urat akan patuh terhadap diet nya. Seseorang yang menginginkan dirinya dalam kondisi sehat mempunyai keinginan selalu patuh terhadap anjuran petugas pelayanan kesehatan (Suharto, 2000).

Berdasarkan data di Puskesmas PB II Selayang Medan pada Tahun 2013 didapat 55 pasien menderita asam urat dari 199 orang atau 27,6 %. Sedangkan pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember  pada Tahun 2014 didapat 50 dari 160  pasien menderita asam urat atau 45 %. Ketika dilakukan wawancara kepada 10 orang yang menderita asam urat, 6 orang diantaranya tidak tahu tentang asam urat dan menganggap penyakit asam urat adalah penyakit biasa dan tidak berbahaya. Sehingga penulis tertarik untuk menjadikan keluarga Ny. K dengan masalah Asam Urat menjadi keluarga binaan.
.

A.  Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum
Penulis ingin mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggota keluarga yang menderita asam urat dengan menggunakan proses keperawatan, bagi keluarga dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan keluarga sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya.

2.    Tujuan Khusus
a.    Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan keluarga dengan salah satu anggota keluarga yang menderita asam urat, mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam perawatan kesehatan.
b.    Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan yang dialami salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit asam urat.
c.    Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya yang menderita asam urat.
d.   Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarganya yang menderita asam urat.
e.    Dapat memodifikasi lingkungan yang dapat mendukung peningkatan kesehatan.
f.     Dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia untuk meningkatkan kesehatan.







BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.  Keluarga
1.    Pengertian
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal ditempat dibawah suatu atap dalam kesadaran saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Saluicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989).

2.    Struktur Keluarga
a.    Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun.
b.    Matrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam berbagai generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c.    Matrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d.   Patrilokal  : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e.    Keluarga kawinan  : adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.

3.    Tipe/Bentuk Keluarga
a.    Keluarga inti (nuclear family)
Adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.

b.    Keluarga besar (extended family)
Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya, nenek, kakek, keponakan, saudara, sepupu, paman, bibi dsb.

c.    Keluarga berantai (seriel family)
Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.

d.   Keluarga duda/janda (single family)
Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.

e.    Keluarga berkomposisi (composite)
Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama.

f.     Keluarga kabitas (cohabitation)
Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

4.    Peranan Keluarga
a.    Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak berperanan sebagai pencari nafkah, pendidikan, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga. Sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungannya.

b.    Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengaruh dan pendidik anak-anaknya pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.Disamping itu juga ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c.    Peranan anak
Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.



5.    Fungsi keluarga
a.    Fungsi biologis
1)        Untuk meneruskan keturunan
2)        Memelihara dan membesarkan anak
3)        Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
4)        Memelihara dan merawat anggota keluarga

b.    Fungsi psikologis
1)        Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2)        Memerikan perhatian diantara anggota keluarga
3)        Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4)        Memberikan identitas keluarga

c.    Fungsi sosialisasi
1)        Membina sosialisasi pada anak
2)        Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
3)        Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
d.   Fungsi ekonomi
1)        Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2)        Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
3)        Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya.

e.    Fungsi pendidikan
1)        Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
2)        Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
3)        Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.


6.    Fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarga
a.    Asih
Adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepala anggota sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya

b.    Asuh
Adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesalahannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadi mereka anak-anak yang sehat, baik fisik, sosial, mental dan spiritual.

c.    Asah
Adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

B.     ASAM URAT
1.      Pengertian Asam Urat
Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. (Merkie, Carrie. 2005).
Gout merupakan penyakit metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005;407). Jadi, Gout atau sering disebut asam urat adalah suatu penyakit metabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi.
2.      Klasifikasi Asam Urat
Gout terbagi atas 2 yaitu :
a.       Gout primer, dimana menyerang laki-laki usia degenerative, dimanameningkatnya produksi asam urat akibat pecahan purin yang disintesis dalam jumlah yang berlebihan didalam hati. Merupakan akibat langsung dari pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekresi asam urat yaitu hiperurisemia karena gangguan metabolisme purin atau gangguan ekresi asam urat urin karena sebab genetik. Salah satu sebabnya karena kelainan genetik yang dapat diidentifikasi, adanya kekurangan enzim HGPRT (hypoxantin guanine phosphoribosyle tranferase) atau kenaikan aktifitas enzim PRPP (phosphoribosyle pyrophosphate ), kasus ini yang dapat diidentifikasi hanya 1 % saja
b.      Gout sekunder, terjadi pada penyakit yang mengalami kelebihan pemecahan purin menyebabkan meningkatnya sintesis asam urat. Contohnya pada pasien leukemia Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekresi asam urat yang berkurang akibar proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu. merupakan hasil berbagai penyakit yang penyebabnya jelas diketahui akan menyebabkan hiperurisemia karena produksi yang berlebihan atau penurunan ekskresi asam urat di urin
3.      Etiologi Asam Urat
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan Kelainan metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal.
Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :
a. Faktor  genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkanasam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau keduanya.
b.Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi,gangguan ginjal yang akan menyebabkan :
c. Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.
d.               Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asamurat seperti : aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat,aseta zolamid dan etambutol.
e. Pembentukan asam urat yang berlebih
f. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
g.Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit lain, seperti leukimia.
h.Kurang asam urat melalui ginjal
i.  Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distalginjal yang sehat. Penyabab tidak diketahui. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal,misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.
4.      Patofisiologi Asam Urat
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut:
Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
a.       Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
b.      Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin fosforibosiltransferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal dan dikeluarkan melalui urin.


5.      Tanda Dan Gejala Asam Urat
Manisfestasi  sindrom gout mencakup artiritis gout yang akut (serangan rekuren inflamasi artikuler dan periartikuler yang berat), tofus (endapan kristal yang menumpuk dalam jaringan aritukuler,jaringan oseus,jaringan lunak,serta kartilago),nefropati gout (gangguan ginjal) dan pembentukan assam urat dalam traktus urunarus. Ada empat stadium penyakit gout yang di kenali :
1.      Hiperutisemia asimtomatik
2.      Artiritis gout yang kronis
3.      Gout interkritikal
4.      Gout tofaseus yang kronik
Gout akut biasanya terjadi pada pria sesudah lewat masa pubertas dan sesudah menopause pada wanita, sedangkan kasus yang paling banyak diternui pada usia 50-60. Gout lebih banyak dijumpai pada pria, sekitar 95 persen penderita gout adalah pria. Urat serum wanita normal jumahnya sekitar 1 mg per 100 mI, lebih sedikit jika dibandingkn dengan pria. Tetapi sesudah menopause perubahan tersebut kurang nyata. Pada priahiperurisemia biasanya tidak timbul sebelurn mereka mencapai usia remaja.

Gout Akut biasanya monoartikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien mungkin juga menderita demam dan jumlah sel darah putihmeningkat. Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan pembedahan, trauma lokal, obat, alkohol dan stres emosional. Meskipun yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki, tetapi sendi lainnya dapat juga terserang. Dengan semakin lanjutnya penyakit maka sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan siku dapat terserang gout. Serangan gout akut biasanya dapat sembuh sendiri. Kebanyakan gejala-gejala serangan Akut akan berkurang setelah 10-14 hari walaupun tanpa pengobatan

Perkembangan serangan Akut gout biasanya merupakan kelanjutan dari suatu rangkaian kejadian. Pertama-tama biasanya terdapat supersaturasi urat dalam plasma dan cairan tubuh. Ini diikuti dengan pengendapan kristal-kristal urat di luar cairan tubuh dan endapan dalarn dan seldtar sendi. Tetapi serangan gout sering merupakan kelanjutan trauma lokal atau ruptura tofi (endapan natrium urat) yang merupakan penyebab peningkatan konsentrasi asam urat yang cepat. Tubuh mungkin tidak dapat menanggulangi peningkatan ini dengan memadai, sehingga mempercepat proses pengeluaran asam urat dari serum.

Kristalisasi dan endapan asam urat merangsang serangan gout. Kristal-kristal asam urat ini merangsang respon fagositosis oleh leukosit dan waktu leukosit memakan kristal-kristal urat tersebut maka respon mekanisme peradangan lain terangsang. Respon peradangan mungkin dipengaruhi oleh letak dan besar endapan kristal asam urat. Reaksi peradangan mungkin merupakan proses yang berkembang dan memperbesar diri sendiri akibat endapan tambahan kristal-kristal dari serum.

Periode antara serangan gout akut dikenal dengan nama gout inter kritikal. Pada masa ini pasien bebas dari gejala-gejala klinik. Gout kronik timbul dalarn jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri, kaku dan pegal. Akibat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan kronik, sendi yang bengkak akibat gout kronik sering besar dan berbentuk nodular. Serangan gout Aut dapat terjadi secara simultan diserta gejala-gejala gout kronik. Tofi timbul pada gout kronik karena urat tersebut relatif tidak larut. Awitan dan ukuran tofi sebanding dengan kadar urat serum. Yang sering terjadi tempat pembentukan tofi adalah: bursa olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor dari lengan bawah, bursa infrapatella dan helix telinga

Tofi-tofi ini mungkin sulit dibedakan secara klinis dari rheumatoid nodul. Kadang-kadang tofi dapat membentuk tukak dan kemudian mengering dan dapat membatasi pergerakan sendi. Penyakit ginjal dapat terjadi akibat hiperurisemia kronik, tetapi dapat dicegah apabila gout ditangani secara memadai.

6.      Pemeriksaan Penunjang Asam Urat
1.         Pemeriksaan Laboratorium
a.       Didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah yaitu = > 6 mg % normalnya pada pria 8 mg% dan pada wanita 7 mg%.
b.      Pemeriksaan cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan diagnosa yaitu cairan berwarna putih seperti susu dan sangat kental sekali.
c.       Pemeriksaan darah lengkap
d.      Pemeriksaan ureua dan kratinin
1)      kadar  ureua darah normal : 5-20 ,mg/dl
2)      kadar kratinin darah normal :0,5-1 mg/dl
2.  Pemeriksaaan fisik
a.       Inspeksi
1)            Deformitas
2)            Eritema
b.      Palpasi
1)               Pembengkakan karena cairan / peradanagn
2)               Perubahan suhu kulit
3)               Perubahan anatomi tulang/ jaringan kulit
4)               Nyeri tekan
5)               Krepitus
6)               Perubahan range of motion
7.      Diagnosis Asam Urat
Untuk mendiagnosis artritis gout digunakan kriteria American Rheumatism Association (ARA), yaitu: 
1. terdapat kristal monosodium urat di dalam cairan sendi
2. terdapat kristal monosodium urat di dalam tofi,
3. Atau didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut ini :

a.       Inflamasi maksimum pada hari pertama
b.      Serangan artritis akut lebih dari 1 kali
c.       Artritis monoartikular
d.      Sendi yang terkena bewarna kemerahan
e.       Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsalfalangeal 1
f.       Serangan pada sendi tarsal unilateral
g.      Adanya tofus
h.      Hiperurisemia
i.        Pada gambaran radiologik, tampak pembengkakan sendi asimetris
j.        Pada gambaran radiologik, tampak krista subkortikal tanpa erosi
k.      Kultur bakteri cairan sendi negatif
8.      Pengobatan Asam Urat
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah serangan berulang dan pencegahan komplikasi.
a.       Medikasi
1)      Pengobatan serangan akut dengan Colchine 0,6 mg PO, Colchine 1,0 – 3,0 mg ( dalam Nacl/IV), phenilbutazon, Indomethacin.
2)      Terapi farmakologi ( analgetik dan antipiretik )
3)      Colchines ( oral/iv) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis dari Kristal asam urat oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
4)      Nostreoid, obat – obatan anti  inflamasi ( NSAID ) untuk nyeri dan inflamasi.
5)      Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan untuk mencegah serangan.
6)      Uricosuric untuk meningkatkan eksresi asam urat dan menghambat akumulasi asam urat.
7)      Terapi pencegahan dengan meningkatkan eksresi asam urat menggunakan probenezid 0,5 g/hrai atau sulfinpyrazone ( Anturane ) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid atau menurunkan pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2x/hari.
b.      Perawatan
1)      Anjurkan pembatasan asupan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu jeroan ( jantung, hati, lidah, ginjal, usus ), sarden, kerang, ikan herring, kacang – kacangan, bayam, udang, dan daun melinjo.
2)      Anjurkan asupan kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan.
3)      Anjurkan asupa tinggi karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik di konsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urin.
4)      Anjurkan asupan rendah protein, rendah lemak.
5)      Anjurkan pasien untuk banyak minum.
6)      Hindari penggunaan alkohol.

9.      Pencegahan Asam Urat
a.       Pembatasan purin : Hindari makanan yang mengandung purin yaitu :Jeroan (jantung, hati, lidah ginjal,      usus), Sarden, Kerang, Ikan herring,Kacang-kacangan, Bayam, Udang, Daun melinjo.
b.      Kalori sesuai kebutuhan : Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bias meningkatkan kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urine.
c.       Tinggi karbohidrat : Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, rotidan ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam uratkarena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urine.
d.      Rendah protein : Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati,ginjal, otak, paru dan limpa.
e.       Rendah lemak : Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persendari total kalori.
f.       Tinggi cairan : Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis,dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
g.      Tanpa alkohol : Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alcohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.

10.  Komplikasi Asam Urat
Asam urat dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit ginjal. Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal berupa batu ginjal, gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat meningkat pada suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana urin yang asam, kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk batu.

Gout dapat merusak ginjal sehingga pembuangan asam urat akan bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai hasil dari penghancuran yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi tumor. Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat pengendapan asam urat pada duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Penumpukan jangka panjang dari kristal pada ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal kronik.

C.    Askep Keluarga Dengan Asam Urat
1.         Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan, agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga. Data yang diperoleh  dari pengkajian :
a.       Berkaitan dengan keluarga
1)      Data demografi dan sosiokultural
2)      Data lingkungan
3)      Struktur dan fungsi keluarga
4)      Stress dan koping keluarga yang digunakan keluarga
5)      Perkembangan keluarga
b.      Berkaitan dengan individu sebagai anggota keluarga
1)      Fisik
2)      Mental
3)      Emosi
4)      Sosio
5)      spiritual
Adapun tujuan pengkajian menurut Suprijno (2004) yang berkaitan dengan tugas keluarga dibidang kesehatan, yaitu :
a.         Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Hal ini perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan faktor yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap masalah kesehatan terutama yang dialami anggota keluarga.

b.         Mengetahui kemamupuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat, perlu dikaji tentang :
1)   Kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah
2)   Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga ?
3)   Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami ?
4)   Apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan yang dialami anggota keluarga ?
5)   Apakah keluarga mempunyai sikap yang tidak mendukung (negative) terhadap upaya kesehatan yang dapat dilakukan pada anggota keluarga ?
6)   Apakh keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan ?
7)   Apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga kesehatan?
8)   Apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat untuk melakukan tindakan dalam rangka mengatasi masalah kesehatan ?

c.         Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan  keluarga merawat anggota keluarga yang  sakit, perlu dikaji tentang :
1)   Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dialami anggota keluarga (sifat, penyebaran, komplikasi, kemungkinan setelah tindakan dan cara perawatannya)
2)   Pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan anggota keluarga
3)   Pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara dan fasilitas untuk merawat anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan
4)   Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki keluarga (anggota keluarga yang mampu dan dapat bertanggung jawab, sumber keuangan/financial, fasilitas fisik, dukungan psikososial)
5)   Bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit atau membutuhkan bantuan kesehatan

d.        Untuk mengetahui kemampuan keluarga memelihara memodifikasi lingkungan rumah yang sehat, perlu dikaji tentang :
1)   Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki oleh keluarga disekitar lingkungan rumah
2)   Kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan
3)   Pengetahuan keluarga dan sikap keluarga terhadap sanitasi lingkungan yang higenis sesuai syarat kesehatan
4)   Pengetahuan keluarga tetang upaya pencegahan penyakit yang dapat dilakukan oleh keluarga
5)   Kebersamaan anggota keluaga untuk meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang menunjang kesehatan keluarga
 



e.         Untuk mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di masyarakat, perlu dikaji tentang :
1)   Pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau keluarga
2)   Pemahaman keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan
3)   Tingkat kepercayaan keluarga terhadap fasilitas dan petugas kesehatan melayani
4)   Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan tentang fasilitas dan petugas kesehatan yang melayani?
5)   Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan dan bila tidak dapat apakah penyebabnya ?

2.    Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian asuhan keperawatan keluarga di atas maka diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada kasus asam urat adalah:
a.       Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit asam urat.
b.      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah asam urat.
c.       Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
d.      Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat.
e.       Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan  guna perawatan dan pengobatan asam urat berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.

Menentukan Diagnosa Keperawatan :
Sebelum menentukan diagnosa keperawatan tentu harus menyusun prioritas masalah dengan menggunakan proses skoring seperti pada tabel 2.1 berikut : Proses skoring menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Balion dan Maglaya, 1978.

No
Kriteria
Nilai
Bobot
1.




2.




3.




4.
Sifat masalah :
a.   Tidak/kurang sehat
b.   Ancaman kesehatan
c.   Krisis

Kemungkinan masalah dapat diubah
a.   Dengan mudah
b.   Hanya sebagian
c.   Tidak dapat

Potensi masalah untuk diubah
a.   Tinggi
b.   Cukup
c.   Rendah

Menonjolnya masalah
a.   Masalah berat harus ditangani
b.   Masalah yang tidak perlu segera ditangani
c.   Masalah tidak dirasakan

3
2
1


2
1
0


3
2
1


2
1

0

1



2




1




1

Skoring
1)      Tentukan jumlah skor untuk setiap kriteria
2)      Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot
3)      Jumlahkan skor untuk semua kriteria
4)      Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot



3.  Perencanaan (intervensi Keperawatan)
Perencanaan yang dapat dilakukan pada Asuhan Keperawatan keluarga dengan asam urat ini adalah sebagai berikut (Mubarak, 2012) :
a.       Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit asam urat.
Sasaran      : Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengenal dan mengerti  tentang penyakit asam urat.
Tujuan       :  Keluarga mengenal masalah penyakit asam urat setelah dua kali kunjungan rumah
Kriteria      :  Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit asam urat
Standar      :  Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala penyakit asam urat, serta pencegahan dan pengobatan penyakit asam urat secara lisan.
Intervensi :
1)   Jelaskan arti penyakit asam urat
2)   Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit asam urat
3)   Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan

b.      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah asam urat.
Sasaran      :  Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui akibat lebih lanjut dari penyakit asam urat
Tujuan       :  Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan asam urat setelah tiga kali kunjungan rumah
Krteria       :  Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat mengambil tindakan yang tepat dalam merawat anggota keluarga yang sakit
Standar      :  Keluarga dapat menjelaskan dengan benar bagaimana akibat asam urat dan dapat mengambil keputusan yang tepat
Intervensi :
1)      Diskusikan tentang penyakit asam urat
2)      Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang menderita asam urat

c.                                     Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
Sasaran         :       Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat anggota   keluarga yang menderita asam urat
Tujuan       :  Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita asam urat setelah tiga kali kunjungan rumah
Kriteria      :  Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan dan perawatan penyakit asam urat
Standar      :  Keluarga dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang menderita asam urat
Intervensi :
1)      Jelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit asam urat
2)      Jelaskan pada keluarga tentang manfaat ventilasi rumah yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang menderita asam urat

d.      Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat
Sasaran      :  setelah tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang pengaruh lingkungan terhadap penyakit asam urat
Tujuan       :  Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan pencegahan setelah tiga kali kunjungan rumah
Kriteria      :  Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang pengaruh lingkungan terhadap proses penyakit asam urat
Standar      :  Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat
Intervensi :
1)        Ajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan mengatasi penyakit asam urat misalnya :
a)        Jaga kebersihan lingkungan rumah agar bebas dari resiko tertular kepada orang lain
b)        Gunakan alat pencegah tertular kepada oranglain misalnya masker
c)        Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan

e.       Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan  guna perawatan dan pengobatan asam urat berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
Sasaran      :  setelah tindakan keperawatan keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
Tujuan       :  Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat setelah dua kali kunjungan rumah
Kriteria      :  Keluarga dapat menjelaskan secara lisan ke mana mereka harus meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan penyakit asam urat
Standar      :  Keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan secara tepat

Intervensi :
 Jelaskan kepada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan asam urat
4.        Pelaksanaan Rencana Keperawatan/Implementasi
Menurut Mubarak (2012), tahapan dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat.
Implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat, yaitu :
a.    Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah asam urat yang terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala penyakit asam urat
1)   Menjelaskan arti penyakit asam urat
2)   Mendiskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit asam urat
3)   Menanyakan kembali apa yang telah didiskusikan

b.    Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit asam urat berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah asam urat
1)   Mendiskusikan tentang penyakit asam urat
2)   Menanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang menderita asam urat

c.    Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan asam urat berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan asam urat
1)   Menjelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit asam urat
2)   Menjelaskan pada keluarga tentang manfaat ventilasi rumah yang baik khususnya untuk anggota keluarga yang menderita asam urat

d.   Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit asam urat  berhubungan dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus asam urat
1)   Mengajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan mengatasi penyakit asam urat misalnya :
a)    Menjaga kebersihan lingkungan rumah agar bebas dari resiko tertular kepada orang lain.
b)   Menggunakan alat pencegah tertular kepada oranglain misalnya masker
c)    Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan
                                             
e.    Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan  guna perawatan dan pengobatan asam urat berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit asam urat.
1)   Menjelaskan kepada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan asam urat.
5.         Melaksanakan Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil maka perlu disusun rencana baru yang sesuai (Mubarak, 2012).
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga dengan asam urat adalah :
a.       Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit asam urat
b.      Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan asam urat Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita asam urat
c.       Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan pencegahan

d.      Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan untuk mengatasi penyakit asam urat.



BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Ny. A DENGAN
ASAM URAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PULO BRAYAN KECAMATAN MEDAN-BARAT TAHUN 2016

A.  Identitas Umum Keluarga
1.        Identitas Kepala Keluarga
Nama               : Hamdan (Tn. H)
Pendidikan      : SMA
Umur               : 56 tahun
Pekerjaan         : PNS
Agama             : Islam
Alamat             : Jln. Lingkungan IV
Suku                : Melayu
No Telp           :085273130016

2.        Komposisi keluarga
No
Nama
L/P
Umur
Hub.klrga
Pekerjaan
Pendidikan
Status Kesehatan
1
Tn H
L
56
Suami
PNS
SMA
Asam Urat
2
Ny A
P
51
Istri
IRT
SMA
Asam Urat
3
An C
P
22
Anak
Mahasiswa
Sarjana
Sehat
4
An.D
P
17
Anak
Pelajar
SMA
Sehat
5
An.F
L
15
Anak
Pelajar
SMA
Sehat
6
An.R
P
13
Anak
Pelajar
SMP
Sehat
7
An.Al
P
9
Anak
Pelajar
SD
Sehat

3.  Genogram Keluarga
X


X

X

X

                                                                                                          
 

                                                    



X

X

X












 

                                                                                                                                              

 



Keterangan :
X


 

: Laki-laki meninggal                                                              : Anak Laki-laki                      : Tinggal Serumah
X


 

: Perempuan Meninggal                                                          : Anak Perempuan


 

: Ayah                                                                                     : Saudara Laki-laki                 



 

: Istri                                                                                        : Saudara Perempuan

4.        Type keluarga
a.    Jenis tipe keluarga:  tradisional nuclear: keluarga inti, terdiri ayah,ibu dan 1 orang anak laki laki dan 4 orang perempuan  yang tinggal satu rumah.
b.    Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut:  tidak ada
5.        Suku bangsa
a.    Suku bangsa : Melayu-Minang
b.    Budaya yang berhubungan dengan kesehatan : Makanan yang tinggi lemak
6.        Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan: agama islam, jika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga berdoa  pada Tuhan yang Maha Kuasa untuk mendapat kesembuhan dan Ny. A mengatakan penyakitnya adalah kehendak yang diatas dan Ny. A pasrah dan berserah kepada Tuhan untuk kesembuhannya.
a.    Anggota keluarga yang mencari nafkah : Suami Ny.A (Tn. H)
b.    Penghasilan : Rp. 5.000.000
c.    Upaya lain : Tidak ada.
d.   Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi,dll) : 1 buah sepeda, 1 buah  televisi, 1 buah magic com, 1 buah dispenser dan 1 buah Kulkas.
e.    Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan pokok (Rp. 75.000/Hari)  listrik,air (Rp. 100.000/Bulan) dan biaya anak bersekolah (Rp. 50.000/ Hari). Total Biaya yang dikeluarkan setiap bulannya Rp. 3.850.000.
7.        Aktivitas rekreasi keluarga: Keluarga berekreasi 1 kali sebulan pas hari libur aja, karena sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Keluarga hanya berkunjung di rumah kerabat terdekat dan menghabiskan waktu di rumah untuk membaca koran dan menonton televisi.

B.  PENGKAJIAN LINGKUNGAN

1.        Karateristik rumah : Tipe rumah semi permanen dengan luas rumah 8x20 m terdiri dari 3 kamar tidur,1 ruang tamu, 1 kamar mandi, dapur dan  memiliki teras. Bentuk rumah persegi panjang dengan lantai rumah semen, keadaan rumah terang, lantai bersih, ventilasi ada, penataan ruangan baik, wc menggunakan leher angsa dan septic tank berjarak lebih dari 5 m. Sumber air untuk mandi, mencuci  adalah air sumur, dan megkonsumsi air isi ulang sebagai air minum.
                                                                                                  B
Pintu Depan
                                           Teras

Kamar Tidur

Ruang Tamu
Kamar Tidur
 

                                                                                                  U                                   S



                                                                                           T
Kamar Mandi
Pintu Belakang
Kamar Tidur
Pintu Belakang
 





2.        Karakteristik tetangga dan komunikasi RW:  Keluarga Ny. A hidup di lingkungan kota dan lingkungan yang ramai dengan jarak rumah berdekatan dengan tetangga. Intraksi dengan lingkungan tempat tinggal Ny. A dilakukan pada siang, sore dan malam hari sangat baik.

3.        Mobilitas geografis keluarga: Keluarga Ny. A sudah  lama menempati rumah tersebut dan tempat tinggalnya tidak berdekatan dengan saudara lainnya.

4.        Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat:  Keluarga Ny. A sering mengikuti kegiatan perkumpulan di masyarakat. Ny.A mengikuti acara perwiritan di lingkungan tempat tinggalnya.

5.        System pendukung keluarga: keluarga Ny. A terdiri dari 1 orang anak laki laki, dan 4 orang anak perempuan dan Ny. A memiliki kartu pengobatan |ASKES yang biasanya digunakan saat berobat, Ny. A. Sering mengalami nyeri dan sulit berjalan jika terasa sakit di bagian persendian kakinya dan pernah di periksakan Ny.A ada penyakit Asam urat.  Namun Ny.A tidak dapat menjaga pola makannya karena kebiasaan di keluarga Ny.A mengkonsumsi makanan tinggi purin seperti ( Rempelo, Hati dan daging sapi). Namun Ny. A  jarang memeriksakan asam uratnya karena tidak tahu tentang penyakit asam urat dan menganggap penyakit asam urat sebagai penyakit yang biasa.

C.  STRUKTUR KELUARGA
1.    Pola/ cara komunikasi keluarga: Berfungsi : saling jujur, terbuka, dalam menghadapi suatu permasalahan,  tidak melibatkan emosi, konflik selesai.
2.    Struktur kekuatan keluarga: Legitimate power (hak), masing-masing anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban serta pengaruh masing-masing dalam mengontrol dan mempengaruhi perilaku seseorang.
3.    Struktur peran (peran masing-masing anggota keluarga): Ny. A selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai yang selalu menjadi orang yang merawat  bagi keluarga yang kurang sehat.
4.    Nilai dan norma keluarga:  Nilai yang terkandung dalam keluarga ini adalah setiap anggota keluarga bersosialisasi dengan lingkungan (masyarakat) dan setiap anggota keluarga mematuhi data dan istiadat sesuai dengan budaya melayu dan jawa.

D.  FUNGSI KELUARGA
1.        Fungsi efektif : keluarga Ny. A saling mendukung satu sama lain serta saling menghargai.
2.        Fungsi sosialisasi :
a.         Kerukunan hidup dalam keluarga : hidup rukun, dalam keluarga diajarkan kerukunan antar anggota keluarga dan setiap masalah dibicarakan dengan baik dan biasanya dimusyawarahkan.
b.         Interaksi dan hubungan dalam keluarga : baik, dimana antar keluarga saling membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan jarang adanya pertengkaran diantara mereka.
c.         Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan : Dalam pengambilan keputusan biasanya dilakukan dengan musyawarah namun  Tn. H yang mengambil keputusan terakhir selaku kepala keluarga.
d.        Kegiatan keluarga waktu senggang : nonton TV.
e.         Partisipasi dalam kegiatan sosial : Keluarga Ny. A beragama Islam sehingga Ny. A sering mengikuti acara perwiritan di lingkungan tempat tinggalnya.   
3.        Fungsi perawatan kesehatan: Kurang, karena keluarga tidak mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga, terutama masalah kesehatan anggota keluarga yang sakit. Dimana Ny.A mengalami asam urat namun Jarang memeriksakan diri dan  berobat ke pelayanan kesehatan untuk mengobati asam uratnya.
a.    Mengenal Masalah Kesehatan
Ny. A mengatakan   bahwa dia menderita asam urat sehingga Ny. A tidak pernah mengobati asam urat yang dialaminya. Saat dilakukan pengkajian Ny. A mengatakan kebas kebas pada tangan, kaki dan sendi sendinya, sakit terutama jika  cuaca dingin,  berdasarkan keluhan yang dialami Ny. A sehingga Perawat I memeriksa kadar asam urat pada Ny.A dan hasilnya 9,6 mg/dl.
b.    Mengambil Keputusan Yang Tepat
Keluarga mampu mengambil keputusan dengan tepat dimana keluarga membawa Ny. A ke Dokter terdekat untuk mengobati keluhannya yang dialami Ny, A namun Ny.A  tidak dapat mengontrol pola makan dan menjaga makananan yang dapat meningkatkan asam urat yang dialami.
c.    Merawat anggota keluarga yang sakit
Dalam hal ini, keluarga nampak kurang mampu merawat anggota keluarga yang sakit. Pada saat pengkajian, Ny. A menyatakan bahwa dirinya tidak tahu menahu mengenai penyakitnya begitu pula dengan keluarga yang lain.
d.   Memodifikasi lingkungan
Keluarga mampu memodifikasi lingkungan, terlihat penempatan barang barang tertata dengan rapi.
e.    Memanfaatkan sarana kesehatan.
Keluarga Ny. A kurang memanfaatkan sarana kesehatan dengan baik. Jika Ny. A sakit, keluarga jarang memanfaatkan sarana kesehatan yang ada seperti Puskesmas.

4.        Fungsi reproduksi
a.    Perencanaan jumlah anak : tidak ada
b.    Akseptor : tidak 
c.    Aksetor : tidak
d.   Keterangan lain : keluarga sudah tidak termasuk pasangan usia subur
5.        Fungsi ekonomi
a.         Upaya pemenuhan sandang pangan : Tn.H bekerja untuk memenuhi ekonomi keluarga dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang.
b.         Pemanfaatan sumber di masyarakat : kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat di lingkungan karena keluarga menganggap jika sakit sudah parah baru ke pelayanan kesehatan.

E.  STRES DAN KOPING KELUARGA
1.        Stressor jangka pendek: Keluarga  sedikit pusing memikirkan Ny. A karena sering sakit, dan mengeluh kebas, kesemutan dan nyeri.
2.        Stressor jangka panjang : Ny.A cemas dengan keadaannya saat ini dan  takut tidak dapat sembuh dari prnyakit yang diderita karena Ny. A.
3.        Respon keluarga terhadap stressor : Tn. H berpikiran positif terhadap suatu masalah dan selalu memberi dukungan positif terhadap Ny.A.
4.        Strategi koping: Berdoa dan selalu berpikiran positif dengan suatu masalah dan selalu berserah pada sang pencipta.
5.        Strategi adaptasi disfungsional: Ny. A tidak mengetahui penyakit yang sedang dideritanya, dan tidak mengetahui cara pencegahannya.



F.   KEADAAN GIZI KELUARGA
1.        Pemenuhan gizi: pemenuhan baik. Keluarga Ny.A dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
2.        Upaya lain : tidak ada

G. HARAPAN KELUARGA
1.        Terhadap masalah keuntungannya:
Berharap anggota keluarga yang sakit cepat sembuh dan tetap semangat.
2.        Terhadap petugas kesehatan yang ada:
Berharap untuk  memperhatikan keadaan pasien dan memberikan pelayanan yang baik dengan berkunjung kerumah-rumah penduduk.


H.  PEMERIKSAAN FISIK
No
VARIABEL
NAMA ANGGOTA KELUARGA

Tn.H
Ny. A
An.C
An.D
An.F
An.R
An.A

1
Riwayat penyakit saat ini
Tn. H saat ini mengalami penyakit asam urat.
Ny. A saat ini mengalami penyakit asam urat.
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

2
Keluhan yang dirasakan saat ini
.Kaki sering kebas dan nyeri pada saat melakukan aktivitas
Tangan kebas kebas, kesemutan dan nyeri di daerah sendi sendi
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

3
Tanda dan gejala
Nyeri dan kesemutan
Nyeri dan kesemutan.
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

4
Riwayat penyakit sebelumnya
Tidak ada
Ny.A mengatakan bahwa dia konsumsi makanan yang tinggi purin seperti daun ubi, jeroan dan daging. Ny.A tidak  pernah mengontrol dengan baik dengan cara berobat ke PUSKESMAS sehingga penulis mengangkat masalah kesehatan yang paling penting dalam keluarga Ny.A adalah masalah asam urat.
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

5
Tanda-tanda vital
TD: 110/80 mmHg
HR: 90x/i
RR: 22x/i
TD: 120/90 mmhg
HR: 90x/i
RR: 22x/
TD : 110/80 mmHg
HR: 87x/i
RR: 20x/i
Normal
Normal
Normal
Normal
6
Sistem cardio
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
Simetris dan bunyi jantung “lup dup”, irama reguler
7
Sistem respirasi
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru paru vesikuler
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
Thorax nampak simetris kiri kanan, suara paru vesikuler.
8
Sistem GI tract
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
Abdomen simetris kiri kanan, tidak ada nyeri tekan
9
Sistem persyaratan
Tida ada kelainan  
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
10
Sistem muskuloskletal
Sering kesemutan, nyeri di sendi sendi dan sakit saat digerakkan. Dilakukan pemeriksaan asam urat diperoleh nilai asam urat pada Ny. A adalah 8,3dl/mg.
Sering kesemutan, nyeri di sendi sendi dan sakit saat digerakkan. Dilakukan pemeriksaan asam urat diperoleh nilai asam urat pada Ny. A adalah 9,7dl/mg.
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
11
Sistem genetalia
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

I.     TIPOLOGI MASALAH KESEHATAN
No
DAFTAR MASALAH KESEHATAN
1
ANCAMAN

Resiko terjadinya deformitas pada sendi
2
KURANG/TIDAK SEHAT

Kurang pengetahuan tentang masalah kesehatan yang dialami
3
DIFISIT

Ketidakefektifan merawat anggota keluarga yang sakit

J.    PENGKAJIAN KHUSUS BERDASARKAN 5 TUGAS KELUARGA
No
KRITERIA
PENGKAJIAN
1
Mengenal masalah
a.      Ny.A dan Keluarga tahu kalau Ny.A mengalami asam urat Kronis, namun tidak begitu tahu tentang penyakit asam urat baik tanda dan gejala serta pencegahan asam urat. Ny.A sering mandi malam dan menyuci karena merasa gerah. Ny.A mengetahui dirinya mengalami asam urat setelah dilakukan pemeriksaan asam urat oleh perawat I. dilakukan pemeriksaan karena Ny.A mengeluh sering kebas-kebas, kesemutan dan nyeri di sendi sendi kaki dan tangan. Ny. A tidak memeriksakan ke PUSKESMAS karena menanggap kebas dan kesemutan yang dialaminya hanya penyakit biasa dan pasti terjadi pada orang orang yang lanjut usia. Ny.A banyak bertanya tentang penyakit yang dialaminya.

2
Mengambil keputusan yang tepat
Jika terjadi masalah kesehatan pada Keluarga Ny.A maka yang mengambil keputusan adalah Tn. H selaku kepala keluarga. Jika ada anggota keluarga yang sakit maka keluarga Tn.H akan berembuk untuk mengambil keputusan akhir. Jika ada keluarga sakit, masing masing anggota keluarga akan mengambil keputusan untuk dirawat atau tidak. Keluarga yang sakit hanya dirawat dirumah saja. Ny.A mengatakan setelah mengetahui dirinya mengalami asam urat dan penyebab asam urat saat ini. Ny.A dan keluarga akan berobat ke tempat pelayanan kesehatan yang terdekat yaitu puskesmas Pulo Brayan.
3
Merawat anggota keluarga yang sakit
Ny.A dan keluarga tidak tahu bagaimana cara merawat pasien yang menderita asam urat. Keluarga hanya mengatakan melarang Ny.A mengkonsumsi makanan sepertikacang-kacangan saja. Namun keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A dan Keluarga tidak tahu bahwa makanan seperti daun ubi dapat meningkatkan kadar asam urat. Keluarga tidak tahu bahwa air putih dapat menurunkan kadar asam urat.
4
Memodifikasi lingkungan
Upaya yang dilakukan keluarga untuk meningkatkan lingkungan yang sehat adalah dengan menyapu lantai rumah, menempatkan perabotan rumah tangga dengan disusun dan tertata dengan rapi, halaman rumah ditanami bunga bunga dalam pot yang membuat suasana rumah menjadi asri dan indah. Ny A juga memenuhi gizi seimbang untuk kesehatan eperti mengkonsumsi buah buahan.
5
Memanfaatkan sarana kesehatan
Ny. A mengeluh kalau sendi sendinya terasa nyeri, kebas dan sering kesemutan. Sulit berdiri bahkan sulit tidak bisa berjalan, jika posisi dalam keadaan duduk. bulan yang lalu. Keluhan keluhan tersebut meningkat jika cuaca sedang dingin dan hujan. Gejala gejala tersebut sudah dialami Ny. A sejak 6 bulan yang lalu dan pernah memeriksakan kadar asam uratnya ke tempat pelayanan kesehatan (apotek) namun tidak rutin dan menganggapnya biasa saja. Setelah mengetahui bahwa dirinya mengalami asam urat, Ny.A mengatakan akan berobat dan rajin mengecek asam uratnya ke pelayanan kesehatan yang ada.

K.      Daftar Masalah
No
Data
Problem
Etiologi
1
Data Subjektif :
b.      Ny.A dan Keluarga tidak tahu kalau Ny.A mengalami asam urat.
c.       Ny.A dan Keluarga tidak tahu tentang penyakit asam urat baik tanda dan gejala serta pencegahan asam urat.
d.      Ny.A sering mandi malam dan menyuci karena merasa gerah.
e.       Ny.A mengetahui dirinya mengalami asam urat setelah dilakukan pemeriksaan asam urat oleh perawat I..
f.       Ny. A tidak memeriksakan ke PUSKESMAS karena menanggap kebas dan kesemutan yang dialaminya hanya penyakit biasa dan pasti terjadi pada orang orang yang lanjut usia.
g.      Ny. A banyak bertanya tentang penyakit yang dialaminya saat dilakukan pengkajian.
Data Objektif :
a.       TD: 120/90 mmhg
HR: 90x/i
RR: 22x/i
T    : 37 C
BB : 63 kg
b.      Kadar asam urat: 9,7 dl/mg.
c.       Dilakukan pemeriksaan karena Ny.A mengeluh sering kebas-kebas, kesemutan dan nyeri di sendi sendi kaki.
d.      Keluarga tidak mengetahui asupan gizi yang benar pada pasien yang mengalami asam urat.
Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh
Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
2
Data Subjektif :
a.      Ny.A dan keluarga tidak tahu bagaimana cara merawat pasien yang menderita asam urat.
b.      Keluarga hanya mengatakan melarang Ny.A mengkonsumsi makanan seperti jeroan.
c.       Keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A.
d.      Ny.A sering mengkonsumsi makanan yang mengandung zat purin seperti daun ubi.
e.       Keluarga tidak tahu dengan minum air putih dapat menurunkan kadar aam urat.
 Data Objektif :
a.       Kadar asam urat Ny.A : 9,7 dl/mg.
b.      Keluarga tidak tahu cara mencegah peningkatan kadar asam urat.
c.       Ny. A mengeluh kalau sendi sendinya terasa nyeri, kebas dan sering kesemutan sudah hampir 6 bulan dan tidak memeriksakan penyakit yang dialami Ny.A
Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A.
Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.


L.  SKALA PRIORITAS MASALAH
1.    Diagnosa I
Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
No
Kriteria
Hitungan
Skor
Pembenaran
1.
Sifat Masalah: ancaman kesehatan
2/3 X 1
2/3
Ny.A dan Keluarga tidak tahu kalau Ny.A mengalami asam urat, tidak tahu tentang penyakit asam urat baik tanda dan gejala serta pencegahan asam urat.
2.
Kemungkinan masalah dapat diubah
1x 2
2
Ny.A banyak bertanya tentang penyakit yang dialaminya saat dilakukan pengkajian.
3.
Potensial masalah untuk dicegah: cukup
2/3 x 1
2/3
Keluarga punya kemampuan intelektual bila diberikan penyuluhan tentang penyakit asam urat .
4.
Menonjolnya masalah: masalah berat harus segera ditangani
2/2 x 1
1
Keluarga mengatakan setelah mengetahui Ny.A megalami asam urat maka keluarga akan membawa Ny.A ke pelayanan kesehatan terdekat.

Jumlah
4 1/3


2.    Diagnosa II
Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

No
Kriteria
Hitungan
Skor
Pembenaran
1.
Sifat Masalah : Ancaman
2/3 X 1
2/3
Ny.A dan keluarga tidak tahu bagaimana cara merawat pasien yang menderita asam urat. Keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A
2.
Kemungkinan masalah dapat diubah: hanya sebagian
1/2 X 2
1
Keluarga hanya mengatakan melarang Ny.A mengkonsumsi makanan seperti jeroan.
3.
Potensial masalah untuk dicegah: cukup
2/3 X 1
2/3
Keluarga terlihat terbuka dan dapat menerima informasi yang ada
4.
Menonjolnya masalah: masalah harus segera ditangani
2/2 X 1
1
Keluarga tidak tahu bagaimana cara mengobati rasa kesemutan yang dialami Ny.A.

Jumlah
3 1/3




                                                                     BAB IV

PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini akan dibahas beberapa kesenjangan yang tejadi dalam penerapan asuhan keparawatan dalam keluarga Ny.A dengan landasan teoritis keperawatan ini dilakukan selama 3 minggu dari 31 Oktober s/d 18 September 2016. Pembahasan tentang asuhan keperawatan ini dimulai dari pengkajian, perumusan masalah, perencanaan dan evaluasi yang tegantung satu sama lain disusun secara sistematis untuk menggambarkan dari satu tahap ke tahap yang lain.
A.      Pengkajian
Proses pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan kelompok untuk memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga. Proses pengkajian tidak hanya dilakukan pada anggota keluarga yang sakit saja, akan tetapi dilakukan pada seluruh anggota keluarga serta pengamatan pada lingkungan rumah.

Dalam memberikan asauhan keperawatan pada keluarga, perawat melakukan sendiri dan terjun ke lapangan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga. Oleh karena itu pada tahap pengkajian, penulis melakukan pencarian kasus yang akan diberikan asuhan keperawatan keluarga, tidak ada kendala yang dihadapi saat pencarian alamat, karena keluarga tersebut merupakan keluarga yang harus mendapat binaan dan memenuhi kriteria yaitu keluarga yang menderita penyakit asam urat, tidak mengetahui bahwa keluarga mengalami asam urat, dan kurang mampu merawat anggota keluarga yang mengalami penyakit asam urat.  

Pada saat dirumah penulis memperkenalkan diri pada anggota keluarga lainnya dan menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan serta ingin membantu mengatasi masalah-masalah kesehatan keluarga. Untuk memulai suatu proses asuhan keperawatan harus dimulai dengan menciptakan hubungan saling percaya antara keluarga dan perawat.
Setelah penulis menjelaskan maksud dan tujuan, anggota keluarga dapat bekerjasama dengan baik. Kemudian penulis  melakukan pengumpulan data, yang dilakukan melalui wawancara, pengamatan (observasi), studi komunikasi dan pemeriksaan fisik atau pengumpulan data yang dilakukan pada Ny.A, serta observasi langsung terhadap rumah dan lingkungan sekitar. Pada kasus ini, kelompok mengumpulkan data dengan wawancara dengan Ny.A  dan keluarga, serta melakukan pemeriksaan fisik dan melakukan pengukuran kadar asam urat pada Ny.A, semua anggota keluarga berkumpul untuk itu pemeriksaan fisik pun dilakukan.

Dalam pengumpulan data ini, penulis  tidak mendapatkan kesulitan yang banyak dan studi yang dilakukan berjalan dengan lancar dikarenakan respon keluarga cukup baik dan dapat diajak kerja sama.

B.       Perumusan masalah
Setelah data terkumpul, maka selanjutnya dapat dilakukan analisa data untuk merumuskan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga. Perumusan masalah ini diambil berdasarkan penganalisaan praktik lapangan yang didasarkan analisa konsep keputusan diambil tentang masalah kesehatan dan keperawatan keluarga. Setelah menganalisa data, maka dilakukan perumusan masalah kesehatan keluarga yang didasarkan pada 3 kriteria yaitu: sifat masalah, kemungkinan masalah dapat diubah, potensial masalah untuk dicegah dan masalah yang menonjol yang akhirnya dapat diperoleh tipologi masalah kesehatan :
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
2.      Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

C.      Perencanaan
Setelah dilakukan perumusan diagnosa keperawatan keluarga, tahap berikutnya membuat rencana asauhan keperawatan keluarga. Dalam menentukan perencanaan harus ditentukan bersama keluarga dan rencana dapat diterima oleh keluarga serta rencana yang kita buat harus berkualitas. Dalam pembuatan perencanaan keperawatan  tidak mengalami hambatan.
1.      Diagnosa pertama, Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
Intervensi:
a.       Kaji sejauh mana pengetahuan keluarga tentang masalah kesehatan yang terjadi dalam keluarga.
b.      Jelaskan kepada keluarga tentang pengertian dan kadar normal asam urat dalam tubuh.
c.       Jelasakan pada keluarga bahwa tanda dan gejala jika seseorang mengalami asam urat.
d.      Jelaskan pada keluarga tentang pencegahan asam urat agar kadar asam urat dalam darah normal.
e.        Jelaskan pada keluarga diet yang baik pada Ny.A yang mengalami asam urat.
f.       Jelaskan pada keluarga komplikasi yang dapat terjadi pada seseorang yang mengalami asam urat.
g.      Jelaskan pada keluarga terapi tradisional yang dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah.

2.      Diagnosa kedua, Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
Intervensi:
a.       Jelaskan tentang diet yang baik untuk penderita asam urat.
b.      Jelaskan cara mencegah terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam tubuh.
c.       Jelaskan kepada keluarga agar tidak menganjurkan Ny.A tidak mandi atau menyuci pada malam hari.
d.      Berikan penjelasan kepada keluara cara mencegah asam urat dengan minum air putih 8-12 gelas perhari.
e.       Berikan penjelasan kepada keluarga cara menurunkan asam urat dengan minum jus sirsak 2-5 gelas/hari
f.       Menjelaskan kepada keluarga cara latihan ROM untuk memperlancar aliran darah dan mencegah terjadinya deformitas.
g.      Mengajarkan kepada keluarga untuk mengkonsumsi obat asam urat dari pelayanan kesehatan.
h.      Menganjurkan kepada keluarga untuk sering mengecek kadar asam urat secara rutin ke tempat pelayanan kesehatan.

D.      Implementasi
Dalam pelaksanaan tindakan, banyak hal yang menjadi hambatan bagi keluaraga seperti sumber daya keluarga, misalnya keuangan dan pendidikan keluarga yang rendah sehingga pemberian informasi tentang penyakit asam urat diberikan secara bertahap. Semua rencana yang ditetapkan bersama keluarga ataupun tidak dapat dilakukan dengan baik dan lancar, semua rencana tindakan dapat dilakukan dengan baik

E.   Evaluasi
Evaluasi adalah suatu upaya bersama penulis dan keluarga. Evaluasi didasarkan pada bagaimana efektifitasnya intervensi-intervensi yang dilakukan oleh keluarga dan perawat. Keefektifannya ditentukan dengan  melihat respon keluarga dan hasil. Dalam tinjauan kasus ini, kelompok melakukan evaluasi dengan keluarga.

Pada kedua masalah ini, evaluasi yang cenderung sebagian teratasi, hal ini terjadi karena respon keluarga yang baik dan raa ingin tahu ya g baik tentang penyakit yang dialami, dan masukan dari pelayanan kesehatan juga diharapkan supaya follow up dari puskesmas terus dilakukan dengan keluarga.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
1.      Berdasarkan obsevasi dan data kunjungan  yang didapat, masalah kesehatan keluarga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pulo Brayan adalah masalah Asam urat.
2.      Dari masalah kesehatan yang ada maka di dapat masalah kesehatan yang diprioritaskan sebagai berikut.
a.       Gangguan rasa nyaman nyeri akibat peningkatan zat purin dalam tubuh b/d Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan yang ada
b.      Risiko terjadinya deformitas sendi pada Ny.A b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

3.      Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul adalah penyuluhan tentang penyakit asam urat dan demonstrasi rebusan daun dan jus sirsak, cek kadar asam urat, dan mengukur tekanan darah.

B. Saran
1.      Perlu pembinaan yang berkelanjutan terhadap kegiatan-kegiatan dan hasil yang telah dicapai sehingga derajat kesahatan dan harapan hidup sehat keluarga diwilayah kerja Puskesmas Pulo Brayan dapat meningkat.
2.      Diharapkan pada Puskesmas Pulo Brayan agar dapat meningkatkan kegiatan untuk keluarga seperti penyuluhan tentang masalah kesehatan terutama penyakit asam urat.
3.      Diharapkan pada keluarga agar lebih peduli terhadap kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatannya.

                                           
                                                          DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, J, Lynda, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 2, Jakarta : Balai Penerbit  FKUI
Effendy Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat., Jakarta : EGC.
Friedman., M. Marilyn. 1998. Keperawatan Keluarga Teori & Praktek. Alih Bahasa Ina Debora R.L,  Jakarta : EGC.
Hidayat Alimul Azis.A. 2004. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Meilianingsih Lia, Mkep. 2006.  Aplikasi Keperawatan Komunitas pada Kelompok Lansia dengan Hipertensi di Keluraha Kemiri Muka Kecematan Beiji Kota Depok. (Karya Tulis Ilmiah Tidak di Publikasikan), Jakarta : Universitas Indonesia
Murwani Arita. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Mitra cendikia.
Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan konsep dan Praktik.  Jakarta: Salemba Medika
Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2000, Penuntun Diit, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Price, A Sylvia & M. Wilson, Lorraine, 2000, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,  alih bahasa Peter Anugerah, Jakarta : EGC.
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha Ilmu
Smeltzer, Suzanne C, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner dan Suddarth  jilid 3, alih bahasa Agung Waluyo,dkk.  Jakarta : EGC.
Suprajitno,  2004,  Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktek, Jakarta : EGC
Supriyadi, S.Kp, M.Kep. Sp.Kom. 2007. Keperawatan Keluarga. (tidak dipublikasikan). Bandung: Poltekkes
Tartowo dan Wartonah. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Watson Roger. 2003. Perawatan pada Lanjut Usia. Jakarta:EGC



Read more...